Pagi itu, rumah Olivia tampak lebih sunyi dari biasanya. Tas-tas besar tersusun rapi di sudut ruang tamu, tanda persiapan keberangkatan orang tuanya. Mama Olivia mengatur ulang barang bawaan, sesekali menatap ke arah Ansel yang membantu merapikan beberapa kotak.
"Ansel, terima kasih sudah mau tinggal di sini selama kami pergi. Ibu percaya sama kamu," ucap Mama Olivia.
Ansel mengangguk, mencoba tersenyum tapi ada sedikit gugup di dalam dadanya. "Iya, Bu. Ansel juga pengen bantu supaya semuanya aman."
"Olivia pasti senang punya kamu di sini. Tapi ingat, kamu tidur di sofa ruang tamu ya, kamar dia tetap buat dia," ucap ayah Olivia, sedikit ada nada peringatan untuk Ansel karena mau bagaimanapun mereka hanya anak remaja yang belum bisa kontrol nafsu.
Ansel tertawa kecil. "Iya, santai aja."
Setelah orang tua Olivia pergi ke Singapura, rumah itu jadi terasa berbeda—lebih sepi, lebih sunyi, dan entah kenapa, lebih dingin.
Olivia mencoba menyibukkan diri dengan beres-beres kamar dan menonton TV, tapi bayang-bayang kosong di ruangan itu terus menekan hatinya. Sementara itu, Ansel duduk di sofa ruang tamu, matanya menatap layar ponsel yang penuh chat dari Vanya.
"Gue nggak bisa terus di sini," pikir Ansel dalam hati. "Gue harus keluar, ngilangin beban ini."
Dengan alasan ingin menyegarkan pikiran, Ansel akhirnya memutuskan mengajak Vanya untuk nongkrong malam itu. Mereka bertemu di warung Abah, tempat yang selalu jadi tempat pelarian mereka. Di sana, tawa dan obrolan ringan mengalir, mengaburkan sejenak rasa lelah dan kekacauan yang tengah Ansel rasakan.
Namun jauh di rumah, Olivia berdiri di depan jendela, menatap gelapnya malam yang menyelimuti rumahnya.
"Kenapa Ansel nggak bilang apa-apa?" bisiknya, suaranya nyaris tersapu angin.
Sendirian, Olivia merasakan sepi yang tak hanya datang dari rumah yang kosong, tapi juga dari hati yang mulai terluka. Dia tahu Ansel butuh teman, tapi kenapa rasanya dia justru semakin jauh?
Air matanya mengalir perlahan, tanpa suara.
Sementara itu, di warung Abah, Ansel tertawa bersama Vanya dan temannya yang lain, begitu bebas hingga lupa tanggung jawabnya--- menjaga Olivia. Tapi Ansel tetaplah Ansel yang selalu mendahulukan egonya.
Hingga malam semakin larut, di warung Abah masih ramai dengan canda tawa teman-teman geng Tigerangers. Tapi suasana itu mendadak berubah saat Ansel berdiri, menatap jam di ponselnya dengan wajah serius.
"Gue pulang dulu, ya," ucapnya singkat, membuat Bima dan yang lain berhenti bicara sejenak.
Bima mengernyit. "Eh, kenapa tiba-tiba pulang? Baru beberapa jam nongkrong."
Ansel menggeleng pelan, nadanya berat. "Gue... khawatir sama Olivia."
Rafi yang duduk di samping ikut menimpali, "Ada apa sama Olivia?"
Ansel menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan diri. "Nggak tau pasti, tapi gue nggak bisa diem aja."
Bima mengangguk mengerti. "Ya udah, hati-hati di jalan."
Dengan langkah cepat, Ansel bergegas meninggalkan warung, meninggalkan teman-temannya yang masih bertanya-tanya.
Dalam perjalanan pulang, pikirannya berkecamuk. Bayangan Olivia yang sendirian di rumah terus menghantui, membuat dada terasa sesak.
"Gue harus pastiin dia baik-baik aja," gumamnya.
**
Motor Ansel melaju cepat seperti orang yang sedang di kejar deadline, tak menyangkal jika Ansel merasa gelisah dan takut terjadi apa-apa pada Olivia di rumahnya sendirian. Dan benar saja begitu Ansel tiba di rumah Olivia, keadaan lampu teras itu gelap.
Ansel melangkah, menyalakan lampu luar dan tak lupa mengunci pintu depan setelah itu Ansel pergi mengecek Olivia di kamarnya. Ragu-ragu, Ansel mengetuk pintu.
"Oliv, gue masuk ya?"
Tak ada respon.
Ansel membuka pintu kamar Olivia dengan perlahan, suasana di dalam gelap dan sunyi. Lampu kecil di sudut kamar menyala redup, menerangi wajah Olivia yang tertutup selimut. Dia berbaring di atas tempat tidur, matanya merah dan basah oleh air mata yang tak berhenti mengalir. Napasnya tersengal, menandakan ketakutan yang dalam.
Ansel berdiri terpaku sejenak, hatinya tercekat melihat Olivia yang begitu rapuh. Tanpa ragu, dia melangkah mendekat, duduk di tepi tempat tidur, lalu meraih tangan Olivia yang gemetar.
"Olivia," suaranya lembut, "gak usah takut sendirian. Gue ada di sini."
Olivia menoleh, air matanya mengalir lebih deras saat melihat Ansel. Tubuhnya berguncang oleh isak tangis. Ansel mengangkat selimut, memeluk Olivia erat, memberi kehangatan yang ia tahu sangat dibutuhkan. Dalam pelukan itu, Olivia perlahan merasa beban di dadanya terangkat, walau hanya sedikit.
Ansel juga merasakan sesuatu yang sulit diungkapkan—rasa sayang dan tanggung jawab yang makin dalam.
Malam itu, di kamar yang sunyi, mereka berbagi kehangatan di tengah kesepian yang mengikat.
Dan setelah Olivia terlelap dalam pelukannya, Ansel perlahan melepaskan pelukan itu dan berdiri dari tepi tempat tidur. Dia melangkah keluar kamar dengan langkah pelan, menutup pintu dengan lembut di belakangnya.
Di ruang tamu, suasana sepi menyelimuti. Lampu redup dari meja kecil membuat bayangan Ansel memanjang di lantai.
Dia duduk di sofa, menunduk, dan menarik napas dalam-dalam. Sejujurnya, Ansel masih bergulat dengan perasaannya sendiri.
Perjodohan itu, meski bukan sesuatu yang dipaksa dengan kasar oleh orang tua mereka, tetap menjadi beban berat di pundaknya.
Dia belum bisa benar-benar menerima bahwa hidupnya akan terikat dengan Olivia—yang selama ini terasa seperti dunia yang berbeda dari dirinya.
“Gue nggak mau nyakitin dia. Tapi gimana caranya gue bisa nerima ini semua?” gumam Ansel dalam hati.
Malam itu, dalam kesunyian yang pekat, Ansel merenung, mencoba mencari jawaban di antara rasa bimbang dan harapan yang samar.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romansa❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
