Malam itu, udara agak gerah tapi suasananya terasa ramai di rumah Vanya. Lampu teras menyala terang, suara tawa samar terdengar dari dalam. Ansel memarkir motornya, menurunkan jaket, lalu masuk sambil membawa beberapa bungkus camilan yang tadi dia beli di minimarket.
Di ruang tamu, Natasha sedang bersandar di sofa sambil scrolling ponsel, Vanya duduk di lantai dengan selimut menutupi setengah tubuhnya, sementara Gading dan Agam sudah seperti biasa-ngobrol heboh soal hal-hal receh yang entah kenapa bisa bikin mereka ketawa keras.
"Lama banget lo, Sel," tegur Agam sambil meraih salah satu bungkus keripik dari kantung plastik Ansel.
"Beli camilan," jawab Ansel singkat, duduk di kursi kayu di sudut ruangan. Dia memandangi Vanya yang langsung menyodorkan gelas minuman ke arahnya.
"Nih, biar nggak haus," kata Vanya. Senyum kecilnya entah kenapa bikin Ansel merasa hangat, walau di sudut pikirannya masih ada bayangan tentang Olivia dan Damar tadi siang.
Gading menepuk bahu Ansel. "Kita nginep di sini rame-rame tuh lagi kemah ya, tidur larut, ngobrol ngalor-ngidul."
Natasha mengangkat alis. "Asal nggak sampai bikin tetangga lapor aja."
Obrolan mereka berlanjut ringan-tentang film yang lagi viral, tentang rencana liburan akhir tahun. Tapi di sela-sela canda, Ansel sering kali mencuri pandang ke arah Vanya. Ada rasa ingin dekat, tapi juga rasa takut... takut kalau jarak ini terlalu nyaman untuk diubah.
Menjelang tengah malam, suasana mulai mereda. Gading dan Agam sibuk main game di ponsel, Natasha sudah tertidur di sofa, dan Vanya sedang membereskan gelas di meja. Ansel berdiri, membantu tanpa diminta.
"Lo nggak capek?" tanya Ansel pelan.
Vanya menggeleng sambil tersenyum. "Biasa aja. Lagian, kalau rame gini, rumah jadi nggak sepi."
Ansel hanya mengangguk, menatap wajahnya sebentar lebih lama dari yang seharusnya, sebelum akhirnya berpura-pura sibuk membereskan bungkus keripik.
Di luar, suara jangkrik bersahutan. Di dalam, hanya ada detak jam dinding dan rasa yang tidak terucap.
**
Jam dinding sudah menunjukkan pukul 01.23. Suara dengkuran halus dari Agam terdengar di pojok ruangan, Natasha sudah sejak tadi terlelap, dan Vanya... entah sejak kapan, sudah masuk ke kamarnya. Tinggal Ansel dan Gading yang masih terjaga di teras rumah.
Angin malam berhembus pelan, membawa aroma tanah yang sedikit lembab. Ansel duduk di kursi rotan sambil menyalakan rokok, sementara Gading menyeruput kopi yang entah mengapa masih panas.
"Lo kayaknya pusing banget, Sel," ujar Gading, matanya mengamati wajah sahabatnya itu.
Ansel menghela napas panjang. "Gue cuma... nggak tahu harus milih apa, Ding. Perjodohan ini, Olivia... atau Vanya."
Gading mengangkat alis. "Lo mikirnya gini, lo mau orang yang cuma bikin lo seneng sekarang atau orang yang... bisa nemenin lo selamanya?"
Ansel terdiam. Asap rokoknya mengepul pelan, melayang lalu hilang di udara. "Tapi gue belum siap, Ding. Gue sama Olivia itu kayak... belum cocok. Gue bahkan masih sering kesel sama dia."
"Wajar lah," sahut Gading tenang. "Nggak ada pasangan yang langsung cocok. Lo pikir bokap nyokap lo dulu nggak pernah ribut? Mereka bertahan karena mereka milih untuk bertahan."
Ansel menunduk. Kata-kata Gading seperti menamparnya. "Tapi Vanya... dia udah ada dari dulu, Ding. Gue nyaman sama dia."
Gading menatap serius, matanya tak lepas dari Ansel. "Nyaman itu belum tentu bener, Sel. Kadang nyaman cuma bikin lo betah di tempat yang nggak bikin lo berkembang."
Ansel terdiam lebih lama kali ini, matanya menerawang ke jalanan yang sepi. Di kepalanya, wajah Olivia dan Vanya bergantian muncul, membuat dadanya terasa sesak.
"Kalau lo jadi gue, lo pilih siapa?" tanya Ansel akhirnya, suaranya nyaris berbisik.
Gading menghirup kopinya dulu sebelum menjawab. "Gue bakal pertahanin perjodohan. Bukan karena itu yang gampang, tapi karena itu punya masa depan. Vanya? Dia cuma bagian dari cerita lama lo, Sel. Olivia... dia bisa jadi masa depan lo kalau lo mau buka hati."
Ansel mematikan rokoknya di asbak, tapi rasa sesak di dadanya belum juga hilang. Malam itu, obrolan mereka berakhir tanpa jawaban pasti. Hanya langit gelap dan udara dingin yang menemani kebingungan Ansel.
***
Matahari belum terlalu tinggi ketika Olivia berdiri di depan pagar rumah Ansel. Rambutnya diikat seadanya, dan pakaian yang terbilang rapi. Tangannya membawa satu kantong plastik berisi oleh-oleh dari Singapura.
Ia mengetuk pintu, pelan. Tak lama, mama Ansel muncul sambil tersenyum hangat.
"Eh, Liv! Pagi-pagi udah mampir. Ada perlu apa, Nak?"
Olivia membalas senyum tipis. "Ini, Tante. Mama suruh Oliv kasih ini buat Tante."
"Oh, iya... makasih ya, sayang." Mama Ansel menerima oleh-oleh itu. Tapi kemudian, seolah teringat sesuatu, beliau berkata, "Ansel nggak ada di rumah, Liv. Semalam dia nginap di rumah Vanya. Katanya mau nemenin dia sama Natasha."
Ucapan itu seperti petir di siang bolong. Olivia tertegun, matanya otomatis berkedip dua kali.
"...nginap di rumah Vanya?" ulangnya pelan, memastikan ia tak salah dengar.
"Iya," jawab mama Ansel santai. "Katanya rame-rame, ada Gading sama Agam juga. Nggak usah khawatir."
Tapi kata-kata terakhir itu tak cukup menghapus rasa aneh yang tiba-tiba muncul di dada Olivia. Ia berusaha tersenyum, meski bibirnya terasa kaku. "Oh... iya, Tante. Kalau gitu saya pamit dulu ya."
Mama Ansel mengangguk, dan Olivia melangkah pergi dengan langkah cepat. Namun di dalam hatinya, pikiran buruk sudah berputar tanpa kendali. Kenapa Ansel nggak bilang? Kenapa harus di rumah Vanya? Dan kenapa... dia nggak merasa perlu menjelaskan?
Sepanjang perjalanan menuju rumah, Olivia merasa gelisah, mencoba menahan amarah yang mulai menggelegak. Tapi ia tahu, pagi ini sudah cukup untuk membuat mood-nya hancur.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romance❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
