Bab 1

1.4K 64 0
                                        

Suara motor menderu memecah pagi yang masih berkabut tipis. Ansel Alexia memutar gas sedikit lebih kencang, melaju di jalanan menuju SMA Pamore 2 tanpa memedulikan beberapa pengendara yang menoleh karena kecepatannya.

Kemejanya tidak dimasukkan ke celana, dasi seragam tergantung miring di leher. Ia bahkan belum sepenuhnya sadar dari kantuk—Senin pagi memang musuhnya sejak lahir.

Begitu memarkir motor di halaman sekolah, suara langkah cepat terdengar dari arah gerbang. Vanya sudah di sana, menyandarkan tubuh di tiang sambil memainkan tali tasnya. Rambut hitam panjangnya tergerai rapi, dan mata cokelatnya menatap Ansel dengan senyum santai.

“Tumben pagi-pagi udah nongol,” ucapnya, nada suaranya setengah menggoda.

Ansel mengangkat alis, bibirnya melengkung miring. “Jangan senang dulu. Besok mungkin gue hilang lagi.”

Vanya tertawa kecil, lalu mereka berjalan beriringan menuju kelas. Obrolan mereka ringan—tentang tugas yang belum dikerjakan, rencana nongkrong, dan sedikit gosip tentang guru baru. Semuanya terasa biasa saja… sampai ingatan semalam menyelinap masuk seperti bayangan yang tak diundang.

Perjodohan.

Kata itu seperti duri di kepala Ansel.

Ia mengembuskan napas, mencoba mengusir bayangan Olivia. Gadis itu bukan siapa-siapa. Mereka memang tinggal di lingkungan yang sama, tapi sekolah saja berbeda. Lagipula, buat apa peduli pada seseorang yang bahkan jarang bicara dengannya?

**

Di SMA Pamore 1, Olivia menatap papan tulis yang penuh coretan rumus trigonometri. Matanya tampak fokus, tapi pikirannya melayang jauh. Jemarinya mengetuk-ngetuk ujung pulpen, sementara layar ponsel di bawah meja menyala—menampilkan foto yang dikirim ibunya semalam.

Foto dirinya dan Ansel, diambil diam-diam saat acara keluarga, lengkap dengan caption “Calon pengantin muda ❤️”.

Pipi Olivia menghangat. Bukan hanya malu, tapi juga bingung. Kenapa harus dia? Cowok yang bahkan tidak menoleh sedikit pun saat mereka duduk berhadapan di ruang tamu semalam.

Radisti— teman sebangkunya menoleh. “Liv, kamu pucat. Nggak enak badan?”

Olivia tersentak kecil, buru-buru menggeleng. “Nggak… cuma… ya, kepikiran sesuatu.”

"Kepikiran apa hayoo?" goda Radisti.

"Kepikiran kenapa temen ku cuma kamu, udah gitu bawel lagi," ucap Olivia, bergurau.

Radisti mendengus. "Gini-gini juga kamu senangkan berteman sama aku?" ejeknya.

"Gimana lagi? cuma kamu yang mau jadi temen aku," kekeh Olivia.

"Kasian..."

**

Gerimis tipis turun saat jam sekolah usai. Olivia berdiri di depan gerbang SMA Pamore 1, menunggu angkot yang tak kunjung lewat. Angin membawa aroma hujan dan tanah basah, membuatnya merapatkan cardigan ke tubuh.

Suara mesin motor berhenti tepat di sebelahnya. Olivia menoleh, dan helm hitam itu terangkat—memperlihatkan wajah Ansel yang basah oleh sisa gerimis. Tatapannya singkat, tapi cukup untuk membuat jantungnya berdegup tidak wajar.

“Pulang?” tanyanya singkat.

Olivia hanya menatap, tak langsung menjawab.

“Kebetulan lewat,” lanjut Ansel, nada suaranya seperti sedang mengeluh. “Kalau mau naik, ya naik. Kalau nggak… terserah.”

Olivia ragu. Angkot pasti sebentar lagi datang, tapi hujan makin deras. Dengan sedikit enggan, ia akhirnya menerima helm yang disodorkan. Duduk di belakang Ansel, jarak di antara mereka terasa aneh—begitu dekat secara fisik, tapi jauh seperti dua dunia yang tidak pernah saling menyentuh.

Jalanan mulai sepi, hanya suara hujan yang jatuh di atap helm mereka. Olivia diam saja sepanjang perjalanan, sesekali melirik bayangan wajah Ansel dari spion. Ada rasa aneh di dadanya—campuran gugup, canggung, dan sedikit… nyaman.

Motor itu akhirnya berhenti di depan pagar rumahnya. Olivia melepas helm, menyerahkannya kembali pada Ansel. Hujan sudah mereda, tapi aroma tanah basah masih menguar di udara.

“Kamu nggak mau mampir sebentar?” tanyanya pelan, mencoba terdengar biasa. “Mama di rumah, mungkin mau—”

“Enggak, Liv.” Ansel memotong cepat, nada suaranya datar. “Jam lima aku ada janji.”

Olivia tertegun. “Oh…”

“Vanya ngajak ketemu,” lanjutnya tanpa beban, sambil menyalakan mesin motor lagi. “Besok-besok aja kalau mau ngobrol.”

Ada jeda singkat. Olivia tersenyum tipis—senyum yang berusaha menutupi sesuatu yang terasa patah di dalam dada. “Iya. Hati-hati di jalan.”

Ansel mengangguk singkat lalu pergi, meninggalkan jejak suara mesin motor yang makin menjauh. Olivia berdiri mematung di depan pagar rumahnya, merasakan sisa gerimis menempel di pipi. Dia tidak tahu, itu tetesan hujan… atau air matanya sendiri.

**

Jam lima tepat, ia sudah tiba di depan sebuah kafe kecil. Vanya keluar sambil merapikan rambut panjangnya, mengenakan sweater abu-abu yang membuat kulitnya terlihat semakin cerah. Mereka tidak banyak bicara, hanya saling bertukar senyum tipis sebelum masuk.

Obrolan mereka ringan—tentang tugas sekolah, gosip teman sekelas, dan rencana liburan. Sesekali, Vanya tersenyum sambil menunduk, memainkan sedotan di gelasnya. Ansel menatapnya dengan tatapan yang tidak pernah ia berikan pada Olivia.

"Makasih ya Ansel," ucap Vanya sesaat mereka sudah nyampe di rumah Vanya, sepulang dari kafe.

"Sama-sama," balas Ansel dengan senyum lebar. "Nanti mau kan kalo gue ajak kencan lagi?"

Vanya tersenyum manis. "Pasti."

Jantung Ansel berdebar kencang melihat senyum Vanya yang begitu cantik di matanya dan rasa senang karena Vanya tak pernah menolak ajakannya.

Ansel tersenyum— mencoba untuk tidak salah tingkah. "Kalo gitu gue mau langsung otw balik ke warung abah, mereka udah nunggu," ucapnya.

"Iya, hati-hati," kata Vanya. Ia menunggu Ansel pergi hingga benar-benar menghilang dari pandangannya setelah itu ia masuk ke dalam rumah dengan senyum senang di bibirnya.

**

Ansel mengarahkan motor ke sebuah warung tenda di pinggir jalan. Warung Abah—tempat nongkrong favorit anak-anak SMA Pamore 2 yang doyan begadang. Lampu kuning redup, aroma mie rebus, dan suara tawa bercampur musik dari speaker kecil jadi ciri khasnya.

“Eh, raja semesta datang,” seru Bima sambil mengangkat gelas teh manisnya. “Baru kelar kencan, Bro?”

Ansel hanya nyengir, duduk di kursi plastik kosong. “Biasa aja.”

“Biasa apaan,” potong Alfan, menepuk bahunya keras. “Tadi gue liat lo di kafe sama Vanya. Romantis banget, bro. Kalau dia jadi cewek lo, fix udah nggak ada harapan buat cowok-cowok lain.”

Dari ujung meja, Gading hanya diam, matanya terpaku pada layar ponsel. Tapi Ansel tahu arah tatapannya tadi—ke Vanya. Selalu ke Vanya.

“Eh, hati-hati lho, Sel,” Rafi ikut nimbrung sambil menghisap rokoknya. “Fans Vanya tuh banyak. Salah satunya di sini.” Ia melirik Gading dengan sengaja.

Gading mendongak, tersenyum setengah. “Santai aja, gue nggak main tikung. Selama lo bener-bener serius sama dia.”

Ucapan itu seperti tantangan halus. Ansel hanya terkekeh, pura-pura tak peduli. Tapi di dalam hatinya, ia tahu… Vanya bukan cuma gadis yang disukai satu orang.







TBC.

ANSELOVIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang