Bab 23

843 39 4
                                        

Udara Yogyakarta masih sejuk, meski matahari sudah mulai naik. Ansel menyewa motor matic dari penginapan, dan Olivia langsung memprotes saat melihat helm yang disediakan.

“Helmnya kok bau pengap gini?” Olivia meringis sambil memeriksa bagian dalam.

Ansel terkekeh. “Namanya juga helm sewaan, yang penting kepala lo aman. Udah, sini gue yang bawa.”

Olivia memasang helmnya sambil menggerutu. “Kalau rambut aku lepek, kamu tanggung jawab.”

“Gue tanggung jawab kok… tapi bukan buat rambut lo, buat nyelametin lo dari kecelakaan.”

Mereka berangkat menembus jalanan kota, melewati bangunan-bangunan berarsitektur klasik dan deretan warung kecil. Sesekali, Ansel memperlambat motor supaya Olivia bisa memotret suasana jalan.

“Eh, berhenti bentar, Sel!” Olivia menepuk pundaknya.

Ansel meminggirkan motor di dekat penjual jadah tempe. “Ngapain? Belum sampe udah jajan.”

“Ya kan mumpung lewat. Aku udah lama nggak makan ini.” Olivia membeli dua bungkus, lalu memberikan satu ke Ansel.

“Cobain, enak loh.”

Ansel menggigitnya sambil mengangguk. “Hmm… ini legit banget.”

“Makanya, jangan remehin jajan pinggir jalan.”

Perjalanan berlanjut. Begitu melewati area persawahan luas, Olivia spontan merentangkan tangannya, merasakan angin pagi. Ansel melirik lewat spion dan hampir tersenyum lebar melihatnya.

“Lo tuh kayak anak kecil tau nggak?” kata Ansel.

“Lebih baik jadi anak kecil daripada jadi orang tua yang nyebelin,” Olivia membalas cepat.

Ansel tertawa, suaranya tenggelam di hembusan angin. “Fair point.”

Sekitar setengah jam kemudian, mereka tiba di Prambanan. Olivia langsung terkagum melihat candi-candi menjulang di bawah langit biru cerah.

“Gila… cantik banget,” gumamnya sambil memotret.

Ansel berdiri di sampingnya, menatap pemandangan yang sama—tapi entah kenapa, matanya justru lebih sering beralih ke Olivia.

“Ya, cantik,” jawab Ansel pelan.

Olivia mengangguk tanpa sadar, masih fokus pada kameranya. “Iya, kan?”

Ansel hanya tersenyum. Bukan cuma pemandangannya yang cantik.

**

Begitu masuk area candi, udara terasa hangat tapi sejuknya angin masih bertahan. Olivia sibuk mengarahkan kamera ponselnya ke berbagai sudut.

“Sel, mundur dikit, aku mau fotoin kamu di depan candi,” katanya.

Ansel mengangkat alis. “Lo yakin? Gue bukan tipe orang yang fotogenik.”

Olivia mendengus. “Sok banget. Ayo sini, berdiri di tengah.”

Ansel menurut. Olivia mundur beberapa langkah, lalu memotret.

“Nah, ini lumayan… walaupun senyum kamu kaku banget,” Olivia mengomentari sambil memperlihatkan hasilnya.

Ansel menghela napas dramatis. “Ya udah, sini kita selfie aja, biar aman.”

Olivia tersenyum tipis, lalu berdiri di sebelahnya. Begitu kamera siap, Ansel sengaja sedikit menunduk supaya wajahnya sejajar.

ANSELOVIATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang