Hari-hari menjelang kelulusan berubah jadi rutinitas padat yang nyaris tanpa jeda. Olivia sibuk di SMA Pamore 1, menghadapi ulangan akhir dan setumpuk formulir pendaftaran kuliah. Hampir setiap pulang sekolah, ia langsung duduk di meja belajar, membuka laptop, dan bergelut dengan persyaratan administrasi yang bikin pusing.
Sementara itu, di SMA Pamore 2, Ansel juga terjebak dalam kesibukan yang sama. Meski dia bukan tipe siswa yang rajin, tekanan untuk lulus dengan nilai layak dan memilih kampus membuatnya mau tak mau ikut serius. Di sela belajar, ponselnya sering ia tatap… tapi jarang ia kirim pesan.
Mereka hampir tidak bertemu selama berminggu-minggu. Tidak ada motoran keliling kota, tidak ada makan siang bareng di warung. Hanya beberapa percakapan singkat di chat—itu pun kalau salah satu ingat untuk membalas.
Olivia kadang merasa ingin menelepon, sekadar mendengar suara Ansel. Tapi setiap kali ia hendak menekan tombol panggil, pikirannya berkata, Nggak usah ganggu, dia pasti sibuk.
Ansel pun begitu. Pernah suatu malam, setelah belajar di rumah Gading, ia berhenti di depan rumah Olivia. Lampu kamar gadis itu masih menyala. Ansel sempat ingin mengetuk pintu, tapi langkahnya urung. Ia memilih menyalakan motor dan pergi.
Kesibukan membuat jarak, tapi bukan berarti hati mereka benar-benar jauh. Justru di tengah kesunyian itu, keduanya mulai sadar… rasa itu tetap ada, hanya terkubur di bawah tumpukan jadwal dan ambisi masa depan.
***
Ulangan sudah selesai. Pendaftaran kuliah pun beres. Kota Bandung mulai terasa lebih ringan tanpa beban jadwal yang menekan.
Sore itu, Olivia keluar dari toko buku di pusat kota, menenteng kantong belanja. Ia berjalan santai, menikmati udara, sampai sebuah suara familiar terdengar di belakangnya.
“Liv.”
Langkahnya berhenti. Olivia menoleh. Ansel berdiri beberapa meter darinya, jaket hitam terbuka, rambut sedikit acak seperti baru lepas dari helm. Senyumnya tipis—senyum yang entah kenapa terasa asing sekaligus akrab.
“Kamu… lagi di sini?” tanya Olivia, mencoba terdengar biasa.
“Lagi lewat. Lihat lo, ya udah gue samperin.” Ansel menggaruk tengkuknya. “Udah lama nggak ketemu, ya.”
Olivia mengangguk. “Sibuk, Sel. Semua orang juga begitu.”
Mereka diam sejenak, hanya ada suara kendaraan dan riuh orang di sekitar. Ansel akhirnya melangkah mendekat. “Mau pulang? Gue anterin. Nggak maksa sih, cuma… udah lama nggak ngobrol.”
Olivia hampir menolak, tapi bibirnya malah berkata, “Oke.”
Di atas motor, mereka hanya berbicara hal-hal ringan—tentang ujian, rencana kuliah, dan kabar teman-teman. Tapi di sela tawa tipis itu, ada rasa hangat yang kembali muncul, seperti mereka sedang menemukan lagi sesuatu yang sempat hilang.
Saat motor berhenti di depan rumah Olivia, Ansel menatapnya sebentar lebih lama dari biasanya. “Kita… jangan terlalu lama nggak ketemu lagi, ya.”
Olivia tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Tapi di dalam hatinya, ia setuju seratus persen.
**
Malam itu, grup chat Ansel ramai. Teman-temannya ngajak nongkrong di warung Abah. Biasanya, Ansel nggak akan mikir dua kali buat berangkat. Tapi saat ia baca kalau Gading dan Vanya juga bakal ada di sana, jari-jarinya berhenti di atas layar. Rasanya… berat.
Bukan karena nggak sanggup lihat mereka, tapi dia tahu mood-nya pasti akan rusak.
Akhirnya, ia menutup ponselnya dan mengambil kunci motor.
Sepuluh menit kemudian, Olivia yang sedang santai di ruang tamu terkejut mendengar suara knalpot di depan rumah. “Ngapain?” tanyanya ketika Ansel muncul di pintu.
“Keluar. Pasar lama. Katanya banyak jajanan enak.” Ansel hanya menyeringai singkat.
Olivia menghela napas, tapi tetap mengambil tas kecilnya. “Yaudah, jangan nyesel kalo aku belanja banyak.”
Pasar lama Bandung malam itu penuh warna—lampu kuning temaram dari lapak-lapak, aroma sate yang bercampur dengan wangi kue tradisional, dan suara tawar-menawar yang riuh. Olivia langsung tertarik pada lapak onde-onde, matanya berbinar seperti anak kecil.
Ansel membelinya tanpa banyak tanya, menyerahkan sebungkus onde-onde hangat ke tangan Olivia. “Makan, biar nggak banyak protes.”
Olivia cemberut tapi tetap memakan onde-onde itu.
Mereka berjalan beriringan, mencoba serabi, tahu gejrot, sampai cilok bumbu kacang yang rasanya pedas manis. Di tengah keramaian itu, tawa Olivia terdengar lepas, membuat Ansel sesekali menoleh.
“Lo seneng banget, ya?” tanya Ansel.
“Ya iyalah. Jarang-jarang dibayarin,” jawab Olivia dengan senyum nakal.
Ansel terkekeh. “Gue bayarin bukan berarti lo jadi manja.”
"Aku engga manja, aku cuma memanfaatkan kesempatan dengan baik," alibi Olivia.
Saat perjalanan pulang, plastik belanjaan berisi jajan tradisional menggantung di tangan Olivia. Di motor, ia diam, tapi di sudut bibirnya ada senyum kecil yang nggak bisa ia sembunyikan.
Ansel? Dia cuma merasa malam ini… lebih hangat daripada nongkrong di warung Abah.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romance❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
