Rumah Alexia malam itu sunyi, hanya suara detik jam dinding yang terdengar. Lampu ruang tamu menyala redup.
Ansel tertidur di sofa, masih mengenakan kaos oblong hitam dan celana training. Nafasnya teratur, sesekali bergumam nggak jelas.
Di meja, ponselnya bergetar. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Nama Vanya berkedip di layar.
Olivia, yang belum bisa tidur karena terbiasa begadang belajar, lewat menuju dapur. Matanya menangkap layar ponsel itu menyala-nyala. Alisnya terangkat.
Vanya? Tengah malam begini?
Ia mendekat, ragu. Bunyi dering itu terasa terlalu nyaring di tengah keheningan. Tangan Olivia akhirnya meraih ponsel itu. Dia menatap wajah Ansel yang terlelap, lalu kembali ke layar.
Ah, biarin aja. Dia kan tidur...
Dengan satu sentuhan, Olivia mematikan panggilan itu. Ponsel diletakkan terbalik di meja.
**
Sementara itu-di rumah Natasha.
Lampu ruang tamu berkedip sebentar sebelum padam. Vanya berdiri di dekat jendela, jantungnya berdegup kencang. Natasha sudah menggenggam ponselnya, wajahnya pucat.
BRAK!
Sebuah batu menghantam kaca jendela, pecahannya beterbangan.
"ASTAGA!" Vanya menjerit, mundur.
Suara motor berderu di luar, diikuti teriakan kasar dari geng yang tak dikenalnya.
"Vanya, telpon Ansel!" Natasha panik, berusaha mengunci pintu.
Vanya sudah mencoba-tiga kali. Dan tiga-tiganya tidak diangkat.
Di rumah Alexia, Ansel tetap tertidur. Olivia kembali ke kamarnya, membawa segelas air, tanpa tahu bahwa satu sentuhan jarinya barusan... bisa mengubah banyak hal.
****
Jam dinding baru menunjukkan pukul 05.00 pagi. Langit masih gelap, udara di luar jendela berembun.
Ansel terbangun dengan kepala agak berat. Dia meraih ponsel di meja-dan langsung membeku. 9 panggilan tak terjawab dari Vanya. 12 chat baru dari Bima.
Jempolnya gemetar saat membuka chat itu.
[Bima]
Bro, Vanya sama Natasha masuk RS.
Tadi malem rumah Natasha diserang.
Lo kemana aja?!
Woy!! Ansel!
Lo masih hidup kan?
Jantung Ansel seperti diremas. Seketika kantuknya hilang. "Sial!"
Dia bangkit dari sofa, berjalan cepat ke kamar mandi. Air dingin membasahi wajahnya, lalu mandi singkat-hanya beberapa menit. Kaos dan celana jeans langsung disambar dari lemari.
Olivia yang baru keluar dari kamar, masih mengantuk, menatapnya heran. "Pagi-pagi udah heboh mau ke mana?"
"Ke rumah sakit," jawab Ansel pendek, suaranya tegang.
Dia tak sempat menjelaskan. Sepatu sneakers langsung terpakai, kunci motor di saku. Dalam hitungan detik, deru motornya mengoyak keheningan pagi, meninggalkan Olivia yang masih berdiri di ambang pintu-bingung dan sedikit merasa bersalah tanpa tahu kenapa.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romansa❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
