Jam pelajaran terakhir baru saja berakhir ketika ponsel Ansel bergetar. Ia mengira pesan dari grup kelas atau teman-temannya, tapi begitu melihat layar, matanya langsung menyipit. lbu Olivia.
“Ansel, kamu sibuk nggak?” suara di seberang terdengar lembut tapi jelas menyimpan nada khawatir.
“Enggak, Bu. Kenapa?”
“Itu… Olivia tadi pulang sekolah kelihatan nggak baik-baik aja. Ibu nggak mau nyusahin, tapi… katanya ada yang ganggu dia di sekolah. Dibully, gitu…”
Ansel langsung berdiri dari kursi, mengemasi bukunya tergesa. “Ansel ke sana sekarang.”
Tanpa pikir panjang, ia keluar dari gerbang sekolah, melewati beberapa temannya yang sempat memanggil. Helm disematkan, motor dinyalakan, dan ia melaju cepat. Di kepalanya hanya ada satu pertanyaan: Siapa yang berani-beraninya?
Sesampainya di rumah Olivia, ia langsung disambut mama Olivia yang tampak lega. “Dia di kamarnya. Mungkin butuh teman ngobrol.”
Pintu kamar itu setengah terbuka. Ansel mengetuk pelan sebelum masuk. Olivia duduk di tepi ranjang, masih mengenakan seragam, matanya merah, hidungnya sedikit bengkak, cakaran kuku di pipinya. Ada sisa tisu di meja belajar.
“Liv…” panggil Ansel pelan.
Olivia menoleh sebentar, lalu buru-buru menunduk lagi. “Kamu ngapain di sini?” suaranya serak.
Ansel duduk di kursi dekat ranjang, mencondongkan tubuh. “Gue dapet kabar dari nyokap lo. Ceritain ke gue.”
Awalnya Olivia diam, bibirnya bergetar. Tapi ketika Ansel menatapnya lekat-lekat, semua cerita tumpah—tentang Dara beserta temanya yang mem-bully dia.
Tangan Ansel mengepal di pangkuannya. “Gue nggak akan diem, Liv. Mereka keterlaluan.”
“Jangan ribut di sekolah cuma gara-gara aku,” Olivia menahan, tapi matanya mulai berkaca-kaca lagi.
Ansel menghela napas, lalu memindahkan duduknya ke sisi ranjang. Tanpa berkata-kata, dia menepuk punggung Olivia, membiarkan cewek itu bersandar di bahunya.
Sumpah, batinnya, kalau ada yang nyakitin dia lagi, gue nggak akan tinggal diam.
***
Malam itu, angin Jakarta berhembus dingin. Di sebuah kafe kecil yang cukup sepi, Ansel duduk di meja sudut sambil memainkan gelas kopinya. Tatapannya menatap pintu masuk, menunggu seseorang yang sudah dia hubungi sejak sore tadi.
Tak lama, Damar muncul. Jaket denim lusuhnya masih menempel, rambutnya sedikit berantakan. “Tumben ngajak ketemu malem-malem gini,” ucapnya sambil duduk di hadapan Ansel.
Ansel langsung menatapnya lurus. “Gue mau bilang makasih dulu.”
Damar menaikkan alis. “Makasih… buat apa?”
“Gue dengar dari Olivia, lo udah ngasih peringatan ke orang-orang yang nge-bully dia. Gue apresiasi itu. Serius.”
Damar terdiam sejenak, lalu mengangguk singkat. “Gue cuma nggak mau dia sakit hati lagi. Siapapun dia sekarang, dia tetap temen gue.”
Ansel menarik napas panjang, lalu bersandar di kursinya. “Gue ngerti. Tapi gue mau lo tahu satu hal… Olivia itu tunangan gue. Mau nggak mau, dia milik gue. Gue nggak mau lo naruh harapan berlebihan.”
Ucapan itu membuat suasana meja langsung terasa berat. Damar menatap Ansel, mata cokelatnya tidak goyah. “Gue tahu dia tunangan lo. Tapi punya status nggak selalu berarti punya hati dia, Sel.”
Ansel mengatupkan rahangnya, mencoba menahan emosi. “Gue nggak peduli gimana cara lo mikir. Yang jelas, selama gue ada, nggak ada lagi orang yang nyakitin dia… termasuk lo kalau niat lo cuma bikin dia bingung.”
Damar tersenyum tipis, bukan karena senang, tapi lebih seperti senyum menantang. “Kalau gitu kita lihat aja… siapa yang benar-benar bisa bikin dia bahagia.”
Diam. Hanya suara sendok mengaduk kopi dari meja sebelah yang terdengar. Dua laki-laki itu saling menatap, masing-masing yakin pada posisinya, sama-sama tahu—ini bukan pertemuan terakhir mereka membicarakan soal Olivia.
***
Keluar dari kafe, Ansel menyalakan motor dan menarik napas panjang. Udara malam menusuk kulit, tapi pikirannya jauh lebih dingin dari itu. Percakapan barusan dengan Damar masih berputar di kepalanya, menimbulkan rasa berat yang sulit diuraikan.
Dia menatap layar ponselnya. Grup chat gengnya sedang ribut membicarakan kumpul di Warung Abah. Sebuah tempat sederhana, tapi selalu penuh tawa dan candaan. Ansel ragu sejenak, tapi akhirnya mengetik, “On the way.”
Beberapa menit kemudian, suara riuh menyambutnya saat ia tiba. Meja panjang di pojokan sudah penuh dengan wajah-wajah yang familiar—Gading, Agam, Alfan, Bima, Rey dan yang lain.
“Woi, anak ilang!” seru Agam sambil menepuk bahunya. “Tumben muka lo keliatan muram?”
Ansel hanya tersenyum miring, berusaha menghindari pembahasan. “Lagi stress gue mikirin kuliah.”
"Tumben pikiran lo bermanfaat," celetuk Alfan.
Bima tak bisa menahan tawa. "Asbun banget lu, Al. Tapi emang iya sih, tumben banget si Ansel mikirin hal bermanfaat."
"Mulai, mulai..." kesal Ansel.
Rey menepuk pundah Ansel. "Salah kasih jawaban lu, bro."
Obrolan pun mengalir. Dari gosip sekolah, candaan receh, sampai debat nggak penting soal tim bola favorit. Ansel ikut tertawa, meski jauh di dalam, pikirannya masih sesekali kembali ke percakapannya dengan Damar.
Gading yang duduk di sebelahnya mencondongkan tubuh. “Lo oke, Sel?”
Ansel meliriknya sebentar, lalu mengangguk. “Oke kok. Cuma… ya gitu, lagi banyak yang dipikirin.”
“Kalau mau cerita, gue ada,” jawab Gading pelan, seolah mengingatkan bahwa sahabat sejati selalu siap jadi tempat sandaran.
Ansel meneguk kopi hitamnya, membiarkan rasa pahit itu sedikit mengikis kekacauan pikirannya. Malam itu, di bawah lampu temaram warung sederhana, ia mencoba mengalihkan pikiran—meski tahu, besok semua yang dia hindari akan kembali menghampiri.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romance❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
