Udara pagi Yogyakarta terasa sejuk, apalagi diiringi suara burung dari pepohonan sekitar penginapan. Cahaya matahari baru saja menerobos tirai tipis ketika Olivia bangun, sedikit mengeliat di kasurnya.
Dia menoleh sebentar, melihat Ansel di kasur sebelah masih terlelap, satu lengan menjulur keluar selimut, rambut sedikit berantakan. Olivia tersenyum kecil—pemandangan itu entah kenapa membuatnya merasa… tenang.
Setelah beres-beres sedikit, Olivia memutuskan untuk keluar kamar membeli kopi dan roti di minimarket kecil depan penginapan. Begitu kembali, Ansel sudah bangun, duduk di tepi kasur sambil mengucek mata.
“Pagi,” sapanya dengan suara serak.
“Pagi. Nih, aku bawain kopi sama roti,” jawab Olivia sambil menyerahkan kantong belanjaan.
Ansel menerima kopi itu, lalu menghela napas panjang. “Lo udah jalan pagi-pagi gini? Harusnya bangunin gue, biar gue ikut.”
“Aku nggak mau ganggu kamu tidur. Kamu kan kemarin nyetir motor seharian, pasti capek.”
Ansel hanya tersenyum kecil, menatap Olivia beberapa detik sebelum berkata, “Makanya, gue nggak nyesel ngajak lo ke sini.”
Mereka sarapan seadanya di kamar sambil membicarakan rencana hari itu.
“Gimana kalo kita ke pantai?” usul Ansel.
“Boleh, tapi pantai yang agak sepi aja ya. Aku nggak mau rame-rame,” Olivia mengingatkan.
Ansel mengangguk. “Sip. Biar bisa santai dan nggak keganggu.”
***
Setelah siap, mereka berangkat naik motor sewaan. Perjalanan ke pantai memakan waktu hampir dua jam, melewati hamparan sawah dan bukit kecil. Angin pagi menyapu wajah Olivia yang duduk di belakang, memeluk tas ranselnya sambil sesekali mengintip ke arah laut yang mulai terlihat di kejauhan.
Begitu sampai, suara ombak menyambut mereka. Pantai itu hampir kosong, hanya ada beberapa orang di kejauhan. Pasir putih membentang luas, air laut berkilau terkena sinar matahari.
“Worth it banget,” ujar Olivia sambil melepas sandal dan berlari kecil ke tepi air.
Ansel mengikutinya, tertawa kecil melihat Olivia yang basah-basahan karena ombak kecil. “Lo kayak anak kecil, Liv.”
“Biarin, yang penting seneng,” Olivia membalas dengan senyum lebar.
Mereka menghabiskan waktu dengan berjalan di tepi pantai, memungut kerang, dan duduk di bawah pohon sambil minum kelapa muda. Angin laut membuat suasana semakin santai, dan di momen itu, Ansel merasa semakin yakin bahwa dia ingin mempertahankan hubungan ini.
***
Mentari perlahan mulai condong ke barat, cahayanya memantul di permukaan laut, membuat air terlihat berkilau keemasan. Langit berubah warna, dari biru muda menjadi campuran jingga dan merah muda.
Olivia duduk di atas pasir, lutut ditekuk, dagu bertumpu di lengannya. Angin sore meniup rambutnya yang sedikit berantakan, tapi entah kenapa Ansel merasa pemandangan itu jauh lebih indah daripada sunset di depannya.
“Cape nggak?” tanya Ansel sambil menyerahkan minuman dingin yang dia beli di warung kecil dekat situ.
“Nggak, cuma… pengen diem aja sambil liat laut,” jawab Olivia pelan.
Ansel ikut duduk di sebelahnya, jarak mereka cukup dekat sampai lengan hampir bersentuhan. Dia menatap ke depan, tapi dari sudut mata, dia memperhatikan ekspresi Olivia yang terlihat damai.
“Liv,” panggilnya pelan.
“Hm?”
“Gue nggak tau ke depannya bakal gimana. Tapi yang gue tau, hari ini… gue seneng banget bisa di sini sama lo.”
Olivia tersenyum tipis, matanya tetap memandang ombak. “Aku juga. Jarang-jarang kan kita bisa gini, nggak mikirin apa-apa, nggak ribut sama siapa-siapa.”
Beberapa detik mereka hanya terdiam, membiarkan suara ombak dan semilir angin mengisi ruang di antara mereka. Lalu, Ansel tiba-tiba menambahkan, “Kayaknya… gue udah nggak mau nyari alasan lagi buat ngejauh dari lo.”
Olivia menoleh, sedikit terkejut, tapi Ansel hanya tersenyum kecil. Dia nggak menuntut jawaban, cuma ingin mengucapkannya. Sunset hari itu menjadi saksi bisu perubahan hatinya.
Ketika matahari akhirnya tenggelam sepenuhnya, Ansel berdiri lalu mengulurkan tangan. “Ayo, sebelum gelap. Nanti kita nyasar pulangnya.”
Olivia menyambut tangannya, dan mereka berjalan pelan menyusuri pantai, meninggalkan jejak kaki berdampingan di pasir yang mulai dingin.
***
Habis mandi dan ganti baju, Olivia keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambut dengan handuk kecil. Ansel sudah duduk di salah satu kasur sambil memainkan ponselnya, tapi begitu melihat Olivia keluar, dia otomatis meletakkan ponselnya.
“Nih, rambut lo basah banget. Sini, gue keringin.”
Olivia sempat mau nolak, tapi Ansel udah berdiri dan mengambil handuknya, lalu mulai mengusap rambutnya pelan. “Kalo tidur rambut basah, nanti sakit kepala,” ujarnya, suaranya rendah dan tenang.
Setelah selesai, mereka duduk di tepi kasur masing-masing, makan roti dan minum teh botol yang tadi dibeli di minimarket dekat penginapan. Obrolannya ngalor-ngidul—dari cerita masa kecil sampai hal-hal receh yang bikin mereka ketawa.
Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam saat Ansel menaruh roti bungkus terakhir di meja. Dia menatap kasur Olivia, lalu kasurnya sendiri. “Liv…”
“Hm?”
“Malam ini… kita tidur satu kasur aja, ya?”
Olivia langsung menatapnya, matanya membesar sedikit. “Lho, kenapa? Kan udah ada dua kasur.”
Ansel nyengir, agak canggung. “Biar ngobrolnya gampang. Lagian… ini malam terakhir kita di sini. Besok udah balik, terus sibuk lagi.”
Olivia diam sebentar, lalu menghela napas pelan. “Yaudah, tapi jangan macem-macem.”
Ansel pura-pura terkejut. “Lah, gue kapan macem-macem?”
Akhirnya mereka tidur di kasur Ansel. Olivia di sisi kiri, Ansel di kanan. Lampu dimatikan, menyisakan cahaya redup dari luar jendela. Suasana terasa aneh—nyaman tapi bikin jantung sedikit berdebar.
Sebelum benar-benar terlelap, Ansel berbisik pelan, “Makasih udah mau ikut gue liburan.”
Olivia tersenyum dalam gelap. “Sama-sama. Aku juga seneng kok.”
Tak lama, suara ombak di kejauhan dan hembusan AC jadi musik pengantar tidur mereka malam itu.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romance❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
