Kereta mereka tiba di Stasiun Bandung menjelang sore. Begitu melangkah keluar dari gerbong, udara kota yang sedikit gerah langsung menyapa, berbeda jauh dengan angin pantai semalam.
Ansel membantu menurunkan koper Olivia dari rak bagasi atas. “Berat banget sih. Ini bawa pasir pantai juga apa gimana?” godanya.
Olivia cuma nyengir. “Isinya kenangan,” balasnya sambil menarik koper itu pelan.
Di depan stasiun, taksi online yang mereka pesan sudah menunggu. Perjalanan menuju rumah Olivia cukup sunyi, tapi bukan karena canggung—lebih karena rasa lelah setelah perjalanan panjang. Sesekali Ansel melirik ke arah Olivia yang tertidur dengan kepala bersandar di kaca jendela mobil.
Sesampainya di depan rumah Olivia, Ansel ikut turun membantu membawakan koper sampai teras. Mama Olivia sudah menunggu di depan pintu dengan senyum lebar.
“Wah, akhirnya pulang juga. Liburannya seru?” tanya Mama Olivia.
Olivia mengangguk. “Seru banget, Ma.”
Ansel pamit, tapi sebelum beranjak, Mama Olivia sempat berkata, “Makasih ya, Nak, udah jagain Olivia.”
Ansel tersenyum kecil. “Sama-sama, Bu.”
Di perjalanan pulang ke rumahnya sendiri, Ansel membuka jendela mobil, membiarkan angin sore masuk. Entah kenapa, setelah liburan ini, hatinya terasa lebih ringan. Dia merasa… hubungannya dengan Olivia sudah berbeda—lebih dekat, lebih hangat, dan… lebih berarti.
***
Sejak pulang dari Yogyakarta, interaksi Ansel dan Olivia terasa… berbeda. Kalau sebelumnya mereka dekat karena “terpaksa” dijodohkan, sekarang mereka dekat karena memang mau.
Ansel mulai punya kebiasaan baru: setiap pagi mengirim pesan singkat.
“Selamat pagi. Jangan lupa sarapan.”
Kadang diselipin foto roti bakar atau kopi yang dia buat sendiri, seakan mengingatkan kalau suatu hari nanti dia bisa bikinin sarapan beneran buat Olivia.
Olivia pun tak ketinggalan, meskipun biasanya balasnya dengan candaan.
“Makasih. Kamu juga jangan lupa makan, Calon suami dadakan.”
Mereka juga jadi lebih sering ketemu. Ansel nggak lagi menunggu momen untuk datang ke rumah Olivia—dia bisa saja tiba-tiba nongol sore-sore dengan alasan “kebetulan lewat” padahal jelas-jelas rumahnya ada di arah sebaliknya.
Suatu sore, Ansel mengajak Olivia ke taman kota.
“Kita belum pernah ke sini,” katanya sambil menyerahkan es krim rasa vanilla.
Olivia duduk di bangku, menatap anak-anak kecil bermain di dekat air mancur. “Aneh ya… dulu kita tuh nggak pernah ngobrol banyak. Sekarang malah kayak nggak ada habisnya.”
Ansel tersenyum miring. “Berarti kita telat mulai. Tapi nggak apa-apa, yang penting kita mulai.”
Mata Olivia sempat menatap ke arahnya, ada kilatan hangat yang bikin dada Ansel terasa aneh. Rasanya dia mulai mengerti, bahwa mungkin liburan kemarin bukan cuma perjalanan singkat—tapi titik balik di antara mereka.
***
Motor Ansel melaju pelan di jalanan kompleks rumah Olivia. Ia bahkan sengaja menurunkan kecepatan, seolah ingin memperpanjang waktu mereka.
“Thanks ya buat hari ini,” ucap Olivia sambil melepas helm setelah mereka berhenti di depan rumah. Rambutnya sedikit berantakan, tapi justru itu yang membuatnya terlihat… cantik tanpa usaha.
Ansel turun lebih dulu, menerima helm dari Olivia, lalu berdiri di depannya. “Sama-sama. Kapan-kapan kita keluar lagi, ya?”
Olivia tersenyum kecil. “Lihat nanti, deh.” Ia berbalik, bersiap menuju gerbang rumah.
Tapi sebelum langkahnya benar-benar menjauh, Ansel memanggil, “Liv.”
Olivia menoleh, dan tanpa banyak kata, Ansel melangkah maju. Tangannya ringan menyentuh bahu Olivia—cukup untuk membuatnya berhenti—dan dalam hitungan detik, bibir Ansel mendarat lembut di pipi kanannya.
“Selamat malam,” bisik Ansel, nyaris terdengar seperti rahasia.
Olivia terdiam, jantungnya berdegup tak karuan. Wajahnya panas, bukan hanya karena udara Bandung yang dingin. Ia mencoba menyembunyikan gugupnya dengan berpura-pura tenang. “Kamu… aneh.”
Ansel tersenyum tipis, memasang helm di tangannya. “Mungkin. Tapi anehnya cuma buat kamu.”
Lalu ia pergi, meninggalkan Olivia yang masih berdiri di depan gerbang, memegang pipinya yang terasa hangat lebih dari biasanya.
"Dasar cowok aneh," gumam Olivia seraya masuk ke dalam rumahnya, menyapa Mama dan Papa-nya di ruang tamu sebelum dia masuk ke dalam kamar tidur.
Olivia berbaring miring di tempat tidurnya, memeluk bantal guling seperti sedang mencoba menenangkan jantungnya sendiri.
Tapi nyatanya… yang terulang di kepalanya sejak tadi cuma satu—momen Ansel mencium pipinya di depan rumah.
Tangannya refleks menyentuh pipi kanan, mengusap pelan seolah bekas sentuhan itu masih tertinggal di sana.
“Kenapa sih aku jadi kayak gini…” gumamnya pelan, menatap langit-langit kamar. Pipinya masih panas, masih terasa jelas ciuman singkat itu.
Ponselnya diambil, notifikasi chat dari Ansel baru saja masuk.
[Ansel]
Tidur yang nyenyak, Liv.
Mimpi indah.
Olivia menatap pesan itu lama-lama. Bibirnya membentuk senyum kecil tanpa sadar.
Ia mengetik balasan singkat.
[Olivia]
Kamu juga.
Lalu ia meletakkan ponsel di samping bantal.
Tapi matanya tetap tak bisa terpejam cepat. Bukan karena cahaya lampu, bukan juga karena udara dingin Bandung malam itu… tapi karena jantungnya terlalu ribut, seperti anak kecil yang baru dikasih permen.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Olivia mulai bertanya-tanya…
Apakah perjodohan ini memang cuma kebetulan… atau sebenarnya takdir?
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romance❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
