Langit pagi itu cerah, seakan tahu kalau hari ini adalah salah satu hari paling penting bagi banyak siswa. Olivia berdiri di depan cermin, merapikan toga hitam yang ia kenakan. Bibirnya melengkung tipis, campuran antara senang dan gugup.
Di sekolahnya, aula sudah penuh oleh siswa, orang tua, dan suara riuh tawa bercampur dengan kilatan kamera. Olivia duduk di baris tengah, mengapit map berisi sertifikat kelulusannya. Teman-temannya sibuk berfoto, tapi pikirannya melayang ke seseorang yang hari ini juga punya momen yang sama di sekolah berbeda.
Sementara itu, di sekolah lain, Ansel baru saja turun dari panggung setelah menerima ijazahnya. Teman-temannya berhamburan memanggil untuk foto bersama, tapi ia hanya menanggapi seadanya. Di tengah keramaian, ia mengeluarkan ponsel dan mengirim pesan singkat.
[Ansel]
Udah terima ijazah?
[Olivia]
Udah. Foto bareng temen dulu nih.
[Ansel]
Jangan pulang dulu, gue mau ke sekolah lo.
Olivia terkejut membaca pesannya, tapi jantungnya justru berdebar.
Satu jam kemudian, di halaman sekolah Olivia yang penuh sesak, suara mesin motor terdengar di antara kerumunan. Ansel muncul dengan jaket hitam, masih memakai kalung medali kelulusannya. Banyak mata melirik, sebagian heran, sebagian lagi kagum.
Ia berjalan cepat melewati siswa-siswa yang sibuk berfoto, lalu berhenti tepat di depan Olivia.
"Selamat lulus," katanya sambil mengangkat tangan, menawarkan tos.
Olivia tertawa kecil, membalas tos itu. "Kamu juga."
Tanpa banyak bicara, Ansel meraih ponsel dari sakunya. "Ayo foto. Sekali-kali ada dokumentasi."
Olivia berdiri di sampingnya, sedikit canggung, tapi tersenyum. Dalam foto itu, mereka berdua memakai toga masing-masing-dua dunia yang berbeda, tapi senyumnya sama.
Setelahnya, Ansel menatapnya lama. "Habis ini mau kemana?"
Olivia mengangkat bahu. "Belum tahu."
"Kalau gitu, ikut aku."
Di balik nada datarnya, ada satu hal yang tidak Olivia sadari: hari ini bukan hanya hari kelulusan sekolah, tapi juga awal dari niat Ansel untuk benar-benar memulai sesuatu dengannya.
**
Setelah keramaian kelulusan reda, Olivia sudah duduk di jok belakang motor Ansel, masih dengan gaun putih di balik togan-nya yang kini dilipat rapi di tas. Jalanan Bandung sore itu agak padat, tapi hembusan angin membuat suasananya terasa santai.
"Kita mau kemana?" tanya Olivia, suaranya harus sedikit meninggi karena tertutup helm.
"Rahasia," jawab Ansel singkat, tapi nada suaranya memberi kesan kalau ia sudah menyiapkan sesuatu.
Beberapa belas menit kemudian, motor berhenti di sebuah kafe rooftop yang tak terlalu ramai. Dari atas, pemandangan kota dan langit senja terhampar luas. Meja di pojok sudah ia pesan-dua kursi, dengan lilin kecil di tengahnya.
Olivia meliriknya curiga. "Sejak kapan kamu suka beginian?"
"Sejak... gue punya alasan buat rayain sesuatu," balas Ansel sambil menahan senyum.
Mereka memesan makanan sederhana-nasi goreng, kentang goreng, dan dua gelas lemon tea dingin. Bukan menu mewah, tapi suasananya membuat semuanya terasa istimewa.
Saat makanan datang, Olivia menghela napas panjang. "Gak nyangka kita udah lulus."
Ansel mengangguk. "Iya. Dulu rasanya kayak kelulusan itu jauh banget."
"Dan sekarang... kita bakal masuk dunia yang beneran baru," ucap Olivia pelan.
Ansel menatapnya serius. "Apa pun yang ada di depan... gue cuma mau bilang, gue bakal ada di situ."
Olivia terdiam, menunduk sebentar. Pipinya memanas, tapi bibirnya tersenyum. "Kamu ngomongnya kayak drama Korea."
"Biar aja," jawab Ansel santai, membuat Olivia tak bisa menahan tawa.
Senja makin memudar menjadi cahaya lampu-lampu kota. Mereka menghabiskan waktu dengan obrolan ringan, candaan, dan tatapan yang entah sejak kapan jadi terasa lebih lama.
***
Malamnya, selepas mengantar Olivia pulang, Ansel memutar setang motornya ke arah warung Abah. Lampu-lampu temaram dari warung sederhana itu sudah terlihat dari kejauhan, dan suara tawa khas teman-temannya terdengar begitu ia mematikan mesin motor.
"Woy! Anak lulus!" seru Agam, menepuk bahu Ansel keras-keras begitu ia duduk.
"Lu juga lulus, Goblok," balas Ansel sambil tertawa, meraih segelas teh manis hangat yang sudah dipesankan untuknya.
Meja kayu panjang itu penuh-Gading, Agam, Bima, Alfan dan beberapa teman lain yang dulu selalu nongkrong di sini sejak kelas sepuluh. Malam itu, tidak ada obrolan soal masa depan, kuliah, atau pekerjaan. Mereka hanya ingin kembali ke masa di mana masalah terbesar mereka adalah PR matematika dan strategi main futsal.
"Ada yang inget nggak, dulu pertama kali nongkrong di sini gara-gara hujan deres?" tanya Gading sambil tersenyum kecil.
Ansel mengangguk. "Iya, dan Abah malah nyuruh kita bantuin pindahin kursi biar nggak kena bocor."
Tawa pecah.
Obrolan mulai mengalir ke memori yang lebih personal. Nama Raja muncul-teman mereka yang sudah tiada. Mendadak suasana jadi lebih tenang, hanya terdengar bunyi kipas angin tua yang berdecit.
"Rey, ga datang ya?" tanya Ansel seraya celingukan mencari keberadaan satu temannya itu.
"Engga," jawab Rafi, "kayaknya tuh bocah lagi nangisin abangnya."
"Kalau Raja masih ada..." gumam Bima pelan, "dia pasti udah jadi orang yang paling ribut ngerayain kelulusan kita."
Ansel menunduk, menahan senyum pahit. "Dia pasti duduk di sini, pesen mie rebus dua porsi kayak biasa."
Alfan menghela napas. "Gue masih inget dia sering bilang... 'Hidup nggak usah dibikin ribet, yang penting ada tawa.'"
Mereka semua terdiam sejenak, menatap kursi kosong di sudut yang seolah menunggu seseorang kembali.
Lalu Agam memecah kesunyian. "Eh, besok kita nongkrong lagi di sini sebelum semua sibuk kuliah, setuju?"
"Setuju!" sahut yang lain hampir bersamaan, mencoba mengembalikan tawa di antara mereka.
Malam itu, di warung Abah, bukan hanya perut mereka yang terisi, tapi juga hati yang terasa sedikit lebih ringan meski kenangan akan Raja selalu meninggalkan ruang kosong yang tak terganti.
TBC.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANSELOVIA
Romance❗ PERUBAHAN ALUR CERITA ❗ BAGIAN Tigerangers || Spin of story RAJA BUMI | °°° Ansel Alexia dan Olivia Alexia Mahatma, dua remaja dari dua SMA berbeda, dipertemukan oleh perjodohan keluarga yang tidak mereka inginkan. Ansel, bocah nakal dengan sikap...
