BELUM SIAP KEHILANGAN

57 11 44
                                        


"Setiap kelahiran pasti ada kematian dan setiap pertemuan pasti ada perpisahan"

-Vany mazhel stevani-

"Kamu tau? Salah satu rasa Kehilangan terbesar dalam hidup? Yaitu kehilangan sosok sahabat"

"Zara azura"

***

Untuk bab ini silahkan, putar lagu

-Belum siap kehilangan-
Stevan-Pasaribu

Sebelum lanjut saya pengen liat jejak anda melalui komen asal kota+spam "ZV"

Happy reading

***

-Belum siap kehilangan-

Suasana ruangan saat ini terasa hampa, terlihat seorang paruh baya sedang berada diruangan anaknya yang belum sadarkan diri sejak kejadian kecelakaan dua hari yang lalu. Wanita itu berumur sekitaran 34 tahun, ia adalah orang tua permpuan dari Devan anendra giandra. Hati Sila seperti diremas kuat ketika melihat anaknya kesakitan seperti ini, rasanya seperti gagal menjadi seorang ibu.

Sila melangkahkan kakinya menuju Brankar anaknya, Tubuh wanita itu lemas, pikirannya kosong menatap sendu wajah tenang putranya,
"sayang bangun nak,,,gak kangen mamah?"

Sila tersenyum kecut melihat wajah pucat putranya, Wanita paruh baya itu mengelus sayang dahi Devan dan mengecup singkat
"mamah tunggu kamu bangun yah sayang"Bisiknya di telinga anak nya

Wanita itu tak kuasa menahan bendungan air mata, sungguh ini sangat menyakitkan.

Sila berdiri dari duduknya
"Kalian tolong jaga anak saya sebentar, saya ada urusan"-Sila

Wanita itu keluar dari ruangan anaknya dengan perasaan hampa

Angga, Rehan, Farel, dan Juna dengan jeket kebesaran VENZZ GENG mereka berlambang tengkorak dan sayap elangnya, kini mereka menghampiri Brankar Devan

Manik mata Rehan menatap sendu kearah Devan yang teridur tenang disana
"lo kuat bro, gue yakin"lirih Rehan menepuk nepuk pelan banhu Devan

"Gue gak yakin Devan bisa tenang kalo udah sadar dan liat kondisi Vany"-Ucap Juna duduk disamping Devan

Angga terlihat sangat frustasi, jujur saat ini ia sangat takut melihat ketua gengnya terluka seperti ini

"Lengan Devan diperban" Lirih Farel mengusap lembut balutan luka dilengan Devan. Farel itu tipe cowo yang pemberani namun letoy ketika melihat darah

Decita Pintu ruangan terdengar terbuka,diambang pintu sana terlihat seorang gadis menatap Devan sayu raut wajahnya seperti menanggung rasa bersalah dan menghampiri cowo itu

"Sayang bangun"-Lirih gadis itu mengusap lembut pipi Devan

"Lo gak kangen sama sahabat lo ini?"-Lanjut gadis itu menangis sendu

"Bel sudah lah"- Juna

Hati gadis itu terasa sangat amat sesak, ketika melihat orang yang ia sayangi terbaring lemah didepan matanya, ia tak kuasa menahan air matanya, hatinya seperti di hantam batu besar yang tak kasat mata

DEVANYTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang