20

3 3 0
                                    

🌳Bagian 20🌳

Ternyata banyak sekali kebenaran yang tersembunyi.
Dan memang benar,
Kepastian adalah ketidak pastian itu sendiri.

📒

Setelah kepergian dua pasang kaki dari ruang inap eyang Erlangga, tak lama kemudian ada sepasang suami istri yang masuk dari arah berlawanan.

"Assalamualaikum"

"Waalaikumsalam" jawab Herman yang berada di sana.

Seseorang yang mengucap salam itu mendekat ke arah brankar. Tangan kekar yang ia punya perlahan mengusap rambut yang sudah beruban di hadapannya.

"Bagaimana keadaan ibu, Man?"

Tak ada jawaban, hanya gelengan kepala yang menjawab pertanyaan orang itu dalam bisu.

Tanpa ia sadari mata sendu yang sudah lama tak orang itu lihat sedikit demi sedikit terbuka.

"Surya?"

Semua pandang mata yang ada di sana langsung menuju sumber suara ketika sebuah kata terucap.

"Kamu Surya kan? Teman Rina dulu"

Surya kaget sekaligus senang jika orang di depannya ini masih mengingat dirinya. Padahal sudah lama sekali mereka tak bertemu semenjak Surya pindah ke luar negeri.

Dan pada saat itu, ia tak bisa berkata apa-apa. Hanya anggukan kepala yang bisa ia berikan untuk menjawabnya.

Lalu pandangan wanita baya yang terbaring lemah itu teralihkan ke lain sisi. Kemudian, senyum yang sangat lebar itu tiba-tiba hadir.

"Ini Herman?"

"Iya bu, ini Herman. Ibu bagaimana keadaannya, ada yang sakit?" ucap Herman sambil melangkah lebih dekat.

Wanita baya itu tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan Herman. Ia hanya tersenyum lalu bersuara, "Sekarang kalian kumpul di sini ya setelah sekian lama. Ibu senang"

"Tapi, Rina nggak ada"

Di akhir kalimatnya masih ada tawa, dan bersamaan itu pula turun air mata.

"Ibu kenapa nggak ngabarin kalau Rina sudah nggak ada" ucap Herman sambil memegang tangan yang sudah keriput itu.

Sementara Surya yang tidak tau apa-apa hanya menyimak dan sedikit demi sedikit mencerna apa yang sedang mereka katakan.

"Rina nggak ada ke mana?" tanya Surya.

"Ibu, Rina kenapa? Kenapa juga tidak ada yang memberi kabar ke kita?" tanya Herman bertubi-tubi.

Sedangkan pertanyaan yang Surya lontarkan tadi seperti angin lalu saja. Tidak ada yang menjawabnya.

Tapi, perlahan air mata Surya pun ikut keluar ketika melihat Herman menangis sesenggukan dan meminta penjelasan.

Terdengar tarikan napas panjang sebelum akhirnya wanita baya itu menjelaskan semuanya.

"Kecelakaan. Sama seperti yang Irwan alami 3 tahun lalu. Mereka sama-sama kecelakaan dan dipanggil Tuhan."

Bintang TerindahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang