🌳Bagian 16🌳
Pukul 21.55 mereka baru sampai di stasiun tugu, Yogyakarta. Ketika di dalam kereta tadi Cakra menceritakan apa tujuannya datang ke kota istimewa ini. Dan di depan stasiun inilah mereka harus berpisah, karena berbeda tujuan.
"Ray abang duluan. Baik-baik kamu sama langga. Jangan ngerepotin!"
Ucap Cakra mengulurkan tangan kepada Raya. Setelah Raya menerima tangan itu, Cakra mencium pipi Raya dan akhirnya berlalu menuju Evan yang menunggunya di dalam mobil. Memang Evan sudah sampai lebih dulu daripada Cakra, karena ia menaiki pesawat.
Setelah mobil yang ditumpangi Cakra tak nampak, tiba-tiba ada seorang lelaki yang menghampiri mereka.
"Mas Erlangga ya?" tanya lelaki tersebut yang berkata dengan suara medoknya.
"Iya"
"Saya dari grab yang mas pesan. Mau langsung ke tujuan sekarang?" ucap orang itu sopan.
"Iya, langsung ke sana sekarang"
Setelah mengatakan itu mereka langsung bergegas menuju grab yang dipesan Erlangga. Untungnya Erlangga dan Raya hanya membawa tas ransel, karena memang rencananya hanya dua hari di Yogyakarta. Jadi mereka tidak perlu repot repot untuk memasukkannya ke dalam bagasi. Tidak membuang buang waktu.
📒
Setelah sampai pada tempat tujuan, Erlangga langsung menghubungi seseorang. Raya sangat melihat raut wajah Erlangga yang pias. Meskipun saat ini ia tak kalah piasnya dengan raut yang ia lihat. Karena sekarang mereka berada di tempat yang paling dibenci oleh Raya.
Raya harus bisa mengalahkan ketakutannya. Kali ini saja. Demi lelaki di sampingnya. Ia ke sini berniat untuk menyemangati Erlangga, bukan malah merepotkannya.
Ketika ia mencoba memasukkan pemikiran pemikiran positif di kepalanya, tiba tiba dari arah yang ia lihat ada dua orang berpakaian putih yang mendorong brankar rumah sakit yang sudah tertutup penuh oleh kain.
Refleks Raya mundur selangkah dan menggenggam erat tangan kekar di sampingnya.
"Ruang cempaka 3 (VIP)" ketika Erlangga mengulang kata yang disebutkan orang di sebrang telepon, ia sedikit kaget dengan sesuatu dingin yang memegang tangannya.
Ketika ia lihat, ternyata gadisnya yang menggenggam tangannya dengan erat. Erlangga mengikuti arah pandang Raya. Dan ia melihat apa yang membuat tangan gadis itu sedingin es. Mengapa ia lupa akan ketakutan yang gadis itu miliki.
Ketika selesai menutup telepon, Erlangga merangkul pundak Raya dan menuntunnya untuk berjalan. Raya sempat terlonjak dari lamunan, kemudian ia tersenyum ketika melihat Erlangga yang tersenyum kepadanya. Padahal jelas jelas hati lelaki itu sedang dirundung rasa cemas.
Tanpa berpikir panjang, Raya mengambil tangan Erlangga yang berada di pundaknya dan digenggamnya erat.
Ketika Erlangga akan mengatakan sesuatu, Raya mendahuluinya.
"Aku gapapa"
Ucapnya sambil tersenyum seolah meyakinkan Erlangga jika memang gadis itu baik baik saja.
Kemudian mereka melanjutkan menyusuri koridor tempat itu sampai akhirnya menemukan ruang yang Erlangga cari.
Erlangga langsung mendorong pintu ruang cempaka 3. Hal pertama yang ia lihat saat pintu terbuka sempurna adalah sosok wanita lansia yang terbaring di depannya dengan tak berdaya.

KAMU SEDANG MEMBACA
Bintang Terindah
Teen FictionTerimakasih semesta. Kau mengirimkannya untuk ku, Disaat yang tepat. Sekarang,aku menemukannya. Aku mempunyai alasan untuk bertahan. Tapi waktu, Mengapa kau mengambilnya dariku? Mengapa kau merampas cahaya dari hidupku? Salahku apa? Tak bisakah kau...