Ana berdiri dengan susah payah. Gadis itu berjalan dengan lesu menuju kasur neneknya dan menghempaskan diri di sana. Ana menutup kedua mata. Mencoba untuk tertidur meski pikirannya kacau. Namun, gadis itu tidak bisa terlelap.
Padahal, Ana jarang menangis. Sekalipun itu dalam keadaan terdesak, ia tetap berusaha menampung air matanya agar tidak keluar. Namun, entah kenapa sekarang ia tak bisa menahan tangisnya. Gadis itu membuka mata dan mengusap kelopak matanya, mengikis air yang membasahi hingga pipi.
Gadis itu kembali duduk. Ia kini memeluk lutut dan terisak. Bingung. Itulah yang ia rasakan saat ini. Semuanya membingungkan. Hingga tanpa ia sadari, ia terlelap dalam tangisnya.
***
Entah sudah berapa lama gadis itu terlelap, juga sudah berapa lama ia berada di sini. Ana tidak tahu. Yang jelas, sekarang ia tengah keheranan menatap sekitarnya. Mengapa semuanya terasa asing? Sadar akan keberadaannya di tempat yang tidak seharusnya, Ana berjengit dan segera bangun.
Ia tengah bersandar di sebuah pohon besar. Dan sekarang ia dikelilingi pepohonan lebat yang menjulang. Hijau di atas sana sangat berbanding terbalik dengan di bawahnya. Jika di atas kecerahan menerpa, di bawahnya tidak ada suasana sejuk, yang ada hanya suasana yang mencekam karena dedauan menghalangi cahaya mentari menyentuh tanah.
Ana mengamati batang-batang pohon yang mengelilinginya. Perasaan takut mulai menjalar bersamaan dengan kekhawatiran yang melilit tubuh gadis itu. Ia berbalik melihat tempatnya duduk tadi, sebuah pohon yang jauh lebih besar daripada pohon lain yang melingkarinya. Pohon besar ini ibaratkan pusat yang dikurung pohon-pohon yang lebih kecil, atau malah dilindungi?
Sepi. Namun, perasaan aneh mendera gadis itu. Tadinya ia takut. Jelas. Siapa saja yang tiba-tiba berada di hutan tanpa tahu kapan ia kesana akan merasakan takut yang demikian. Ana meneguk ludahnya susah payah. Semoga ini hanya mimpi.
Ia mencoba berjalan, mengitari pohon besar itu. Akar pohon yang mencuat membuatnya tersandung karena kepala Ana asyik menoleh sana sini dan tidak memperhatikan jalan.
"Aduh." Gadis itu meniup lututnya yang tergores akar. Sakit. Rasa sakit yang menyengat di lututnya membuat gadis itu menjadi panik sekarang. Mengapa rasanya begitu nyata?
Ana berdiri dan mencoba berkeliling. Ia mulai menuju pepohonan kecil yang berjarak sekitar dua meter darinya. Kemudian gadis itu berjalan di antara pohon-pohon itu. Ia hanya mengira-ngira arah. Melihat matahari yang tidak begitu jelas di atas. Ana bahkan tidak tahu ini jam berapa. Gadis itu terus berjalan mengelilingi hutan yang memerangkapnya. Mencoba untuk menemukan jalan keluar dan bebas dari keadaan ini.
Sekitar lima belas menit, atau mungkin lebih, gadis itu tidak tahu. Yang jelas kaki mungilnya mulai lelah dan agak timpang-timpang. Dan ia semakin tersesat? Tidak. Ana menggeleng. Ia berkeliling lagi. Kemudian yang dilihatnya adalah pepohonan yang mulai rapat, juga batang-batang pohonnya yang mulai membesar. Hingga ia terhenti dan ragu untuk meneruskan jalan.
Di depan sana, berjarak beberapa meter darinya, Ana melihat kegelapan yang mengerikan. Saking rapatnya pohon di sana, matahari benar-benar tidak dapat menunjukkan kuasanya. Tempat itu bagaikan gerbang menuju dunia lain, dunia kegelapan. Ana bergidik. Lebih baik ia berbalik saja dan menunggu keajaiban, meski mungkin ... keajaiban itu tidak akan datang.
Gadis itu memutar arah dan berjalan lagi. Ia berusaha memgingat-ngingat rute mana yang dilaluinya. Saat baru sekitar lima menit berjalan, pohon besar di tempat awal ia terbangun mulai nampak di pandangan. Ana mengerutkan kening, berpikir keras. Bukankah ia sudah berjalan sangat jauh, mengapa saat kembali terasa dekat?
Kepalanya pusing. Gadis itu segera menghampiri pohon besar yang akarnya seukuran paha orang dewasa itu. Ana memilah akar yang paling besar dan mengatur posisi duduknya. Ia bersandar sambil memikirkan cara bagaimana ia keluar dari sini? Ia bahkan tidak tahu di mana ini. Bagaimana kalau Ibu dan Ayah panik dan mencarinya? Bagaimana kalau ada binatang buas di sini?
KAMU SEDANG MEMBACA
Desa Berangai[END]
HorrorLiburan yang seharusnya menyenangkan menjadi menyeramkan. Kala malam datang, desa Berangai dihebohkan dengan bermacam teror dan hal-hal mistis yang menyerang nyawa warganya. Bahkan, yang katanya tak kasat mata bisa membuat manusia meregang nyawa. An...
![Desa Berangai[END]](https://img.wattpad.com/cover/248684527-64-k79691.jpg)