Penilaian akhir tahun berlangsung. Hogwarts sedemikian rupa memakai mantra agar anak-anak tidak bisa menyontek dan berbuat curang.
Harsha seperti biasanya terlihat sangat santai saat ujian. Kadang sifat nya yang seperti ini membuat Severus marah.
"Kenapa kau tidak bersungguh-sungguh di ujian mu, Harsha?" Ucap Severus ikut pasrah.
"Aku sudah berusaha profesor."
"Kalau seperti ini terus kau mau jadi apa nanti?" Severus memijat pelipis nya.
Harsha hanya bisa diam, Ia tidak bisa melawan ayah nya kali ini sebab apa yang dikatakan ayah nya valid.
"Sorry sir."
...
Lembar kertas soal di bagikan beserta lembar jawaban. Suasana menjadi hening seketika, semua nya sedang serius mengerjakan.
"Hah soal macam apa ini?" Harsha panik.
'Perasaan aku tidak pernah belajar mengenai hal ini di sekolah.' batin nya.
Sepertinya kali ini Harsha lagi-lagi harus menggunakan kekuatan nya. Ya, kekuatan insting. Ia memperhatikan kertas nya dengan seksama dan mulai membulati lembar jawaban.
"Lihatlah, ku rasa ini jawaban nya yang B. Huruf depan nya sama dengan huruf pertama di soal, ini pasti tidak salah lagi." Gumam nya.
Waktu sudah berlalu 30 menit, Harsha nampak berdiri dan memberikan kertasnya kepada Profesor Sprout yang sedang mengawas.
"Ini dia, Profesor."
"Apa kau yakin, Harsha? Ini baru 30 menit." Profesor memastikan.
"Tentu, Prof." Harsha pun dengan percaya diri berjalan keluar ruangan.
Bisa dibilang Harsha termasuk orang yang paling awal keluar. Tentu saja, siapa yang bisa mengerjakan 60 soal dalam waktu setengah jam tanpa ragu? Di berkatilah insting Harsha yang tajam.
"Akhirnya udara kebebasan." Harsha bernafas lega.
Harsha berjalan berkeliling Hogwarts, suasana nya damai karena para murid sedang hening mengerjakan ujian. Suasana hati Harsha nampak nya sedang bagus.
Ia berjalan riang sambil sesekali bersenandung. Suara Harsha bisa di bilang tidak buruk. Ia menikmati jalan nya sambil sesekali melihat di ruangan lain yang masih mengerjakan soal.
Harsha berhenti sejenak. 'Sebentar, ini kan ruangan Cedric.' Harsha sedikit mengintip pintu yang sedikit terbuka. Ia melirik ke semua siswa tapi tak berhasil menemukan Cedric.
Bruk!
Pintu yang awalnya terbuka sedikit menjadi terbuka sepenuh nya. Pintu besar itu telah di beri sihir oleh seseorang.
"Gotcha!"
"Hah!" Harsha terkejut dan sontak menjauh dan berjalan cepat.
"Jangan buru-buru nona. Sedang mencari Cedric, huh?" Ucap profesor jubah hitam siapa lagi kalau bukan Severus.
"Oh profesor, kau membuat ku terkejut. Aku hanya berjalan-jalan prof, tidak lebih." Harsha nampak sedikit gugup.
"Sudah ku bilang jangan berkencan dengan siapa-siapa dulu, Harsha. Kau masih kecil."
"Kau tidak pernah mengatakan itu, profesor."
"Barusan aku mengatakan nya. Tidak ada lagi yang namanya menemani latihan, berduaan, mengobrol saat makan. Pokoknya tidak ada. Fokuslah untuk belajar, nona." Severus pun mengambil arloji dari kantong dan melihat nya lalu, menarik nafas panjang.
KAMU SEDANG MEMBACA
Things You Will Never Know
FanfictionApa jadinya jika Severus Snape yang lebih dingin dari es memiliki anak perempuan yang sangat berbeda dengan dirinya? Harsha Lavanya Snape, gadis yang sangat ramah dan suka berteman, tidak bisa diam. Sangat terbalik dengan sikap ayahnya yang cenderu...
