Flashback
"Ros... Ku mohon bertahanlah... Please..." Severus merengek menggengam tangan Rosalie dengan erat, wajah nya pucat saat melihat istrinya berjuang untuk melahirkan anak nya. Matanya berkaca-kaca, jujur saat ini hatinya remuk melihat istrinya begitu kesakitan.
Sementara, Rosalie menahan teriakan nya dan mengatur nafas sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh bidan. Tangan kanan nya menggenggam tangan Severus dan yang satu lagi menggenggam erat pada sprei.
Selang beberapa menit kemudian, suara ringisan bayi terdengar. Genggaman Rosalie tidak se-erat sebelumnya. Nafasnya terengah-engah dan badan nya pun lemas. Begitu juga dengan Severus, badan nya lemas dan matanya berkaca-kaca melihat ke arah bayi perempuan yang sedang di gendong bidan.
Severus terlutut di lantai dan air matanya berlinang di pipi, ini adalah momen yang Ia nantikan selama ini, memiliki anak dengan wanita yang Ia cintai. Bayi itu di berikan kepada Rosalie untuk di gendong dan Severus mulai menguatkan dirinya dan berdiri. Mengusap kepala Rosalie dengan lembut matanya masih berkaca-kaca.
Rosalie menatap ke Severus dengan senyum dan menyerahkan bayi mereka kepadanya. Severus tersenyum dan mulai menggendong dengan perasaan yang campur aduk.
"Benar perempuan, Ros... Kita jadi menamakannya Harsha Lavanya Snape... Terimakasih, terimakasih banyak."
Rosalie tersenyum, "Terimakasih untuk apa, Sev? Aku juga harus berterimakasih padamu karena selalu berada di sisi ku."
"Kita akan membesarkan anak ini, tidak boleh ada yang tahu, Ros. Hanya kita, dan orangtua mu. Kalau tidak—"
Brak!
Belum usai Severus berbicara, pintu dari rumah mereka di masuki secara paksa. Di depan Ros dan Severus berdiri seorang berambut blonde panjang, Lucius Malfoy.
"Well, well... Lihatlah siapa yang tengah berbahagia sekarang. Aku dan istriku lebih dulu merasakan nya, Snape." Ucap Lucius sambil memainkan tongkat di tangan nya.
"Ya dan sangat beruntung bagimu karena di saat itu tidak ada pria rambut gondrong yang menerobos rumah mu sembarangan." Severus berbicara sarkas dan dingin kepada Lucius, bayi perempuan nya telah Ia serahkan kepada istrinya.
"Aku tahu tujuan mu ke sini, Malfoy. Jangan berani-berani kamu membocorkan hal ini kepada Death Eater atau kau akan tahu akibatnya." Sambung Severus.
Malfoy itu terkekeh dan menggelengkan kepalanya, "Lalu apa kamu pikir aku akan membiarkan anakku Draco menderita? Kita semua tahu, Sev, apa yang akan terjadi di masa depan dan kau adalh orang kepercayaan Dark Lord, sudah sepantasnya anak mu yang mengabdi untuk nya, bukan anak ku!" Lucius menatap mata Severus dahi nya mengernyit tapi, itu tidak membuat Severus gentar.
"Oh benarkah? Lalu? Kau pikir penyihir amburadul sepertimu bisa mengalahkan ku, Lucius? Kau pikir kau bisa menyentuh anak dan istriku, huh? Try me and lets see, siapa yang akan di percaya. Apakah aku atau kau." Severus menunjuk dahi Lucius dengan wajah datar dan Lucius menjadi diam seribu bahasa.
"Daripada kita bertengkar, lebih baik kita sama-sama menjaga satu sama lain, Malfoy. Aku tahu tidak ada seorang pun yang bisa kau andalkan dalam masalah seperti ini." Sambung Severus.
"Apa maksudmu?" Jawab Lucius singkat dan memiringkan kepalanya sedikit karena bingung.
"Jika kau melindungi anak dan istriku, aku akan melakukan hal yang sama. Tapi, jika kau melakukan hal yang sebaliknya. Akan ku pastikan aku juga akan membalasnya, dua kali lipat."
Flashback End
...
Hari ini setelah pelajaran Profesor Snape usai, Draco tetap bersikeras menemui Harsha setelah jam pembelajaran usai. Dia menunggu Harsha di lorong tempat biasa Harsha lewat. Ia mulai cemas karena tak kunjung melihat Harsha.
Sementara itu, Harsha dan Susan sudah berada di asrama mereka bersiap untuk makan malam di Great Hall. Harsha duduk di kasurnya menunggu Susan yang sedang berbenah.
"Aku sangat stress akhir-akhir ini, siapa sangka menjadi anak profesor akan menjadi seburuk ini? Padahal kan aku tidak minta dilahirkan menjadi anak seorang profesor. Mengapa tidak menjadi anak pejabat di kementrian atau bahkan mentri nya? hidup ini aneh ya Susan..." Harsha merubah posisi nya menjadi berbaring dan menatap langit-langit kamar asrama.
"Well, kamu harus bersyukur, setidaknya ayah dan ibumu penyihir, daripada kamu dilahirkan menjadi seorang muggle, mmm atau bahkan... menjadi seorang squib." Nada pada kata terakhir Susan menjadi bisikan.
Harsha terkekeh, "Mungkin kau benar tapi, aku sangat pusing! Bukankah anak seumur kita harusnya pusing memikirkan party? Bukan malah memikirkan keluarga atau masalah yang tidak jelas. Aku baik-baik saja kok jika aku hanya tinggal bersama Daddy tapi aku tidak bisa bohong kalau memiliki orangtua lengkap lebih baik." Harsha menghela nafas.
Susan tersenyum, "Kalau begitu ayo mulai pikirkan tentang party saja! Atau haruskah aku mencarikan teman kencan untuk mu~" Susan terkekeh saat menggoda teman nya itu dan Harsha hanya mencemooh.
Setelah beberapa saat Harsha dan Susan sampai di Great Hall, mereka duduk di tempat biasa dan mulai mengobrol dengan teman yang lain. Draco Malfoy menatap Harsha dari mejanya, Ia menyipitkan mata ke arah Harsha yang membuat dahinya ikut berkerut.
Tanpa Ia sadari, dari balik meja profesor Snape juga memperhatikan Draco dengan tatapan yamg kurang lebih sama.
"Wow, lovebird. Aku melihat Draco dan Harsha pergi ke Honeydukes bersama." Hagrid tiba-tiba berbicara sambil menguyah makanan nya.
Pegangan Severus pada sendok dan garpunya semakin erat, rahang nya ikut mengeras. "Apa-apaan Hagrid, jangan pernah menggunakan istilah kekanak-kanakan itu pada Harsha, apalagi bila ada hubungan nya dengan si Malfoy itu."
Hagrid melanjutkan makan dan hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. Sedangkan Severus masih menatap dingin ke arah Malfoy.
Selang beberapa waktu, makan malam di Great Hall usai, Harsha tengah berjalan di lorong menuju ke asramanya bersama dengan teman-teman Hufflepuff yang lain. Tidak menyerah, Draco mengikutinya dan menarik tangan Harsha.
"What the! Apa yang kau lakukan Malfoy?" Celetuk Harsha dengan risih karena tiba-tiba di tarik oleh Draco.
"Bisa kita bicara? Aku mohon ini penting sekali. Hanya empat mata." Draco masih memegangi tangan Harsha.
"Tentang apa?" Harsha bertanya, masih ada nada kesal di suaranya.
"Sini ikut aku." Draco menarik tangan Harsha untuk meninggalkan teman-teman nya yang lain.
"Listen, aku rasa aku telah mengetahui beberapa hal, tapi, kita jangan membahas tentang itu dulu. Intinya apapun yang terjadi, b-biarkan aku saja yang berkorban untuk itu, Harsha. Kau jangan khawatir, karena memang akulah yang seharusnya." Draco berbicara dengan cepat.
Dahi Harsha menyerngit heran, dia kebingungan dan masih mencerna apa yang dikatakan oleh Draco. "Kau bicara apa? Berkorban apa? Jangan terlalu banyak membaca cerita-cerita fiksi itu, Drac. Kamu mulai menjadi aneh."
Draco menghela nafas, Ia kembali menatap mata Harsha. "Aku serius, biarkan aku yang menjadi..."
"Death Eater."
.
Bersambung...
!Jangan lupa vote dan komen!Terimakasih!
Terimakasih yang sudah support ❤
KAMU SEDANG MEMBACA
Things You Will Never Know
FanfictionApa jadinya jika Severus Snape yang lebih dingin dari es memiliki anak perempuan yang sangat berbeda dengan dirinya? Harsha Lavanya Snape, gadis yang sangat ramah dan suka berteman, tidak bisa diam. Sangat terbalik dengan sikap ayahnya yang cenderu...
