Di lorong sepi itu menjadi saksi tawa Harsha yang sangat kencang, dia menertawakan Draco hingga wajah sang pemilik rambut pirang berubah menjadi kesal sampai-sampai mengepalkan tangan nya.
"Drac, apa kamu tidak apa-apa? Aku khawatir kamu mengalami skizoferna." Ucap Harsha dengan melambaikan tangan di hadapan Draco.
"Bodoh, kau bahkan tidak bisa mengeja dengan benar. Belajar dulu sebelum mengejek ku! Apa aku terlihat bercanda sekarang?!"
Harsha menjitak kepala Draco setelah mendengar protes yang dilontarkan. "Heh! Kau yang harusnya belajar, jangan malah mendengar semua takhayul itu! Sudah ah, aku mau kembali ke kamar ku."
Tanpa pamit, Draco ditinggalkan sendiri dengan wajahnya yang frustasi. Dia merasa kecewa karena ini bukan respon yang diharapkan oleh Draco. Seharusnya dia dianggap seperti pahlawan bukan malah dijadikan bahan lelucon yang membuat nya menjadi malu. Tapi, di sisi lain dia juga harus meyakinkan Harsha kalau apa yang dia bicarakan itu adalah hal yang benar adanya.
"Sial!" Draco berdecak kesal.
...
Harsha sampai ke dalam asrama nya dan mulai melakukan aktifitas rutin, dia memastikan tempat tidurnya nyaman malam ini dengan piyama berwarna merah muda yang merupakan hadiah dari sang ayah.
Harsha mulai menguap, tapi di sisi seberang lampu Susan masih menyala terang karena Ia sedang membaca novel cerita romantis.
"Dari mana kau dapat buku itu?" Harsha membuka obrolan.
"Abby." Susan menjawab dengan wajah tak terlepas dari senyum, entah part mana yang sedang Ia baca.
"Semua orang sudah menjadi gila ku rasa."
"Apa maksudmu?" Susan bertanya dengan mata yang masih terfokus pada novel.
"Yaa, aku bersama seseorang yang tertawa sendiri sekarang, kemudian tadi, Draco mengarang-ngarang cerita."
"Cerita apa? Romeo dan Juliet?" Susan menahan tawa.
"It's more worse! Dia membawa-bawa takhayul! Dia bilang mau menjadi Death Eater, padahalkan itu sudah bubar setelah kejadian yang kita semua tahu." Harsha menjelaskan panjang lebar.
Susan mulai tertarik dan menutup novelnya setelah menandai sampai mana Ia telah membaca tulisan-tulisan cinta itu.
"Lalu apa masalahnya? Mungkin Malfoy percaya bahwa itu masih ada. Aku mendengar beberapa rumor yang mengatakan bahwa mereka sedang mencari anggota baru, mereka sedang open recruitment!" Susan tidak kalah heboh.
"Kau pikir ini prefek?! Lagian, Draco itu aneh. Dia hanya ingin mencari perhatian."
"Kalau ini nyata?" Susan kembali menimpali.
"Aku akan sujud kepada si Malfoy itu!" Harsha dengan cepat mematikan lampu dan menarik selimut untuk tidur, Ia merasa tidak ada gunanya bicara dengan Susan yang nampak mempercayai semua hal yang tidak masuk ke dalam akal Harsha.
Susan hanya menggelengkan kepalanya sambil kembali membuka novel dan melanjutkan membaca sepanjang malam.
...
Di pertengahan malam, terdengar suara dari lorong Gryffindor. Seperti suara bisikan orang-orang. Hampir tidak terdengar namun, bagi kalian yang punya telingan tajam pasti akan mendengarnya.
"Harry, tunggu aku"
"Cepatlah! Kita bisa ketahuan"
Trio Gryffindor— Harry, Ron, Hermione sedang mengendap keluar dari asrama mereka dengan berbekal tongkat sihir sebagai lampu untuk menyusuri lorong yang gelap.
KAMU SEDANG MEMBACA
Things You Will Never Know
FanficApa jadinya jika Severus Snape yang lebih dingin dari es memiliki anak perempuan yang sangat berbeda dengan dirinya? Harsha Lavanya Snape, gadis yang sangat ramah dan suka berteman, tidak bisa diam. Sangat terbalik dengan sikap ayahnya yang cenderu...
