Bonus Chapter-Our Past

1.2K 143 7
                                        

Febricia Rosalie, remaja yang tumbuh dengan parenting yang sangat baik dari orang tuanya. Dia adalah seorang keturunan halfblood, Ayahnya seorang petinggi di kementrian. Keluarganya hidup dengan sederhana walau bisa di bilang kehidupan Rosalie lebih dari cukup.

Rosalie sangat berbeda dengan sang ibu yang sangat lembut dan penurut. Dia pemberani dan akan melawan jika sesuatu tidak sesuai dengan keinginannya. Sebenarnya sifat dari Rosalie 80% menurun kepada sang anak, Harsha Lavanya Snape.

Saat bersekolah di Hogwarts pun, Rosalie di kenal sebagai pembela kaum yang di rundung oleh kenakalan anak-anak lain. Namun, entah kenapa ada satu anak yang membuat nya merasa berbeda. Lama kelamaan sepertinya jantung Febs terus berdebar jika dekat dengan anak itu. Siapa lagi jika bukan, Severus Tobias Snape.

Orang dengan rambut hitam dan senyum minim itu yang membuat Febs terus kepikiran. Febs selalu ingin bersama dengan Severus-Severus sudah menjadi seperti magnet bagi Febs.

"Severus, saat liburan nanti kau mau kemana?"

"Rumah."

"Rumah mu dimana?"

"Alamat adalah privasi seseorang, tidak seharusnya kau menanyakan hal itu." Ketus Severus.

"Bisakah kita bermain bersama saat liburan?"

"Tidak."

"Tapi, kau membolehkan Lily untuk bermain bersama mu." Iri Febs.

"Lalu?"

"Kenapa aku tidak?" Remaja perempuan ini pun cemberut.

"Memangnya kau siapa? Sudahlah pergi sana. Apa tidak ada kerjaan lain, selain mengganggu ku? Bukan nya kau harus mendekorasi Hogwarts untuk natal, nona?"

"Sev, kenapa kau selalu ketus pada ku?"

"Aku memang seperti ini, bila tidak suka pergilah." Severus yang memilih untuk meninggalkan Febs lebih dulu, obrolan ini tidak akan berakhir jika Severus tidak mengambil langkah.

"Sev..." Lirih Febs.

Hanya beberapa langkah, Severus memutuskan untuk berhenti dan menoleh. "Apa?"

"Bisakah aku belajar ilmu hitam dengan mu? Kau yang menawari ku kemarin, apa kau ingat?"

"Apa bayaran nya?"

"Apa pun."

Bibir Severus sedikit terangkat. "Setuju."

"Kapan kita akan mulai?!" Febs kembali bersemangat.

"Lusa, jika kau tidak sibuk."

"Aku tidak sibuk, dimana kita akan belajar?"

"Dimana pun, asal jangan di rumah ku."

"Kenapa?" Febs penasaran.

"Aku tahu kau pasti tidak akan menyukainya."

"Bagaimana kalau di rumah ku?" Febs menawarkan.

"Aku kurang nyaman jika ada orang tuamu, aku jadi tidak enak jika harus membentak anaknya."

Febs kembali cemberut. "Sudahlah, terserah kau saja aku akan ikut dimana pun asal bersama mu, hihi."

Severus terlihat malas dan jijik di saat yang bersamaan. "Kalau begitu tidak jadi saja." Severus membuang wajahnya dan meneruskan jalan yang tertunda tadi.

.

Febs tengah duduk santai di ruang tengah rumahnya. Rumahnya tidak bisa di bilang kecil, namun juga tak sebesar itu. Ruang tengah kurang lebih berukuran 8×5 meter persegi dengan perapian menempel di dinding. Sangat hangat, di tambah kedua orangtuanya yang berada di rumah membuat hati Febs semakin menghangat.

Things You Will Never KnowTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang