"Bukan kah kita bisa mendapatkan informasi lebih banyak dengan Kakek tadi, mengapa langsung pergi?"
Mata Hermione melebar. "Hey, sekarang kau menyalahkan ku? Kenapa juga dari awal kalian semua menyuruh ku untuk bilang 'tidak apa-apa'?!"
"Aku kira kau akan mengerti, secara kan otak mu cerdas! Sekarang kita tidak akan mungkin bisa ke sana lagi."
"Kenapa tidak kau saja yang melakukan nya dari awal, alih-alih menyuruh ku?!"
Harry dan Hermione adu mulut. Mereka saling menyalahkan satu sama lain. Suasana nya berubah menjadi sedikit panas. Harry yang tidak mau menatap Hermione, dan Hermione yang cemberut sepanjang jalan.
"Lihat kan, Harsha. Bekerjasama dengan mereka itu sia-sia." Bisik Draco.
"Selanjutnya kita mau kemana?" Ucap Ron.
"Liburan hanya 2 hari lagi, ku rasa lebih baik kita ke Hogwarts." Yang lain mengangguk setuju.
Mereka berlima pun kembali menaiki sapu terbang menuju Hogwarts. Draco dengan Harsha, Ron dengan Hermione dan Harry sendiri.
...
Mereka berlima memasuki kastil Hogwarts. Nampak sangat sepi, orang-orang masih belum kembali dari liburan nya.
"Selanjutnya apa?"
"Aku ingin menggati baju ku sebentar, nanti kita bertemu lagi disini." Kata Harry.
"Aku juga ingin ke asrama dulu." Hermione tidak mau kalah.
"Hm... Baiklah aku ikut." Tambah Ron.
Kini hanya tersisa Harsha dan Draco. Mereka duduk di salah satu bangku yang lumayan panjang.
"Apa kau haus?" Tanya Draco.
"Sedikit."
"Aku haus, aku akan mencarikan air sebentar, mau ikut?"
"Aku menunggu di sini saja." Draco mengangguk dan pergi mencari air entahlah dia akan mendapatkan air dari mana.
Hogwarts begitu sepi. Lorong nya sangat gelap, hanya ada sedikit cahaya matahari yang masuk. Udaranya pun sedikit dingin. Ini membuat Harsha sedih, perjuangan nya untuk mencari Ibunya belum berhasil di tambah dengan masalah yang Ia buat dengan Severus. Harsha terlalu takut juga malu menemui Ayahnya saat ini.
Harsha menunduk dan menangis. "Harsha bodoh. Sangat bodoh. Kenapa aku mencari yang tidak ada sih?!" Lirihnya.
Wajah Harsha jadi basah, berkat air matanya. Ia ingin pergi ke toilet untuk menyeka dan membasuh wajahnya. Saat Ia ingin pergi lirik mata nya tertuju pada seseorang di sudut yang sudah memperhatikan sedari tadi.
Pria dengan janggut panjang berwarna putih dengan jubah lebar. Albus Dumbledore. Harsha tersontak dan dengan cepat mengelap wajahnya dengan lengan baju.
"Sedang apa di sini, nona?" Tanya Dumbledore dan Harsha hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Menangis? Apa yang membuat mu sedih?" Sambung nya.
"Nothing, profesor."
Dumbledore duduk di tepat di samping Harsha. "Duduk lah kembali." Kali ini Harsha menurut.
"Dimana teman-teman mu? Melihat seorang Harsha sendirian itu rasanya seperti ada yang salah."
"Kenapa begitu?"
"Bukan kah memang begitu? Kapan kau tidak bersama teman-teman mu? Kau punya banyak sekali teman, kau pandai bergaul tidak seperti ayahmu."
"Kau tau siapa ayah ku?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Things You Will Never Know
FanfictionApa jadinya jika Severus Snape yang lebih dingin dari es memiliki anak perempuan yang sangat berbeda dengan dirinya? Harsha Lavanya Snape, gadis yang sangat ramah dan suka berteman, tidak bisa diam. Sangat terbalik dengan sikap ayahnya yang cenderu...
