"Aku memberinya nama Land. Ayah dari anak itu adalah Han. Kamu juga pernah mendengar namanya bukan?" tanya Jade pada Cony.
"Iya. Kamu pernah mengatakan nya padaku. Tapi kenapa kamu tidak pernah mengenalkan nya?" tanya Cony kembali.
"Aku tidak benar-benar mencintainya. Orang yang kucintai adalah Rex. Aku tahu kalau aku tidak boleh jatuh cinta pada iparku sendiri. Tapi aku tidak bisa mengontrol diriku. Aku marah saat Rex menolak cintaku. Aku berpikir semua ini gegara kamu dan aku harus memusnahkanmu......"
"Makanya kamu membuat ibuku sampai koma di rumah sakit dan membuatku berpikir kalau kamu adalah orang baik yang sudah mau mengasuhku? Begitu? Dasar pembunuh!!" umpat Kana.
"Kana, hormati ibumu.." ucap Cony sambil melirik tajam pada Kana.
"Itu kalau dia memang pantas untuk dihormati. Tapi dia tidak pantas mae. Lihat saja bagaimana dia memenjarakan pho setelah pho sudah tidak berguna lagi. Mae tahu, dia sampai menyogok jaksa supaya pho dijatuhi hukuman mati. Apakah dia pantas untuk kuhormati mae?" tanya Kana menahan tangis.
"Benarkah kamu melakukan itu pada suamiku Jade?" tanya Cony.
"Aku terpaksa melakukan itu karena......"
"Karena kamu takut kalau Rex akan membocorkan kemana saja aliran dana yang di korupsi olehnya. Bukankah begitu Jade?" tanya seorang pemuda dari arah belakang.
"P' Mew ... ka-kamu tahu a-apa yang terjadi?" tanya Kana kembali.
"Tentu saja aku tahu bagaimana kelakuan Jade padamu dan ayahmu. Makanya saat kamu membalaskan dendammu padanya, aku hanya diam karena menurutku dia memang pantas mendapatkan nya." jawab Mew sambil mengelus halus kepala Kana.
"Oh ... mae, kenalkan ini p' Mew. Dia......"
"Tunangan. Aku tunangan Kana mae." ujar Mew yang membuat mata Kana membulat.
"Oh. Ayo silakan duduk. Lanjutkan ceritamu tadi." pinta Cony.
"Baiklah. Mae, Jade bukanlah orang baik yang selama ini mae bayangkan. Demi untuk hidup gaya kelas atas, dia rela menjual Kana padaku & menyogok jaksa serta hakim untuk menjatuhkan hukuman mati pada Rex. Karena dia takut kalau Rex akan mengatakan pada polisi kemana saja uang yang di korupsi. Tapi Jade salah mae. Dipaksa seperti apapun, Rex tetap bungkam dan tidak pernah memberi tahu pada polisi kalau Jade telah menyimpan uang tersebut di Swiss. Mae tenang saja uang itu sudah kuambil dan aku akan menyerahkan nya pada polisi." jawab Mew yang memandang tajam pada Jade.
"Jade ...... kenapa kamu tega sekali berbuat seperti itu pada Rex? Apa kamu tahu kalau kamu sudah dianggap adik oleh Rex? Dia selalu takut kamu dibully orang. Kemana saja kami pergi, Rex selalu khawatir denganmu. Dia selalu mengatakan padaku untuk selalu mengecek keadaanmu. Saat aku mengatakan padanya kalau kamu sudah menjalani hubungan dengan Han, Rex bertanya padaku apakah pria tersebut bisa dipercaya? Bagaimana latar belakang pria tersebut? Bagus atau tidak? Dari keluarga manakah dia dan lainnya. Tapi apa balasanmu? Kamu malah membunuh nya dengan tanganmu sendiri. Adilkah itu? JAWAB AKU JADE!! ADILKAH ITU????" teriak Cony.
"Aku tahu aku salah Cony. Aku memang tidak pantas untuk dimaafkan. Maafkan adikmu ini..." mohon Jade sambil berlutut memegang tangan Cony.
"Aku bisa memaafkanmu apabila kamu mau memenuhi persyaratan yang kuajukan padamu. Kamu bersedia?" tanya Cony dengan tatapan mata yang tajam.
"Apapun itu akan kupenuhi. Yang penting kamu memaafkanku." jawab Jade.
"Serahkan dirimu pada polisi dan akui kejahatanmu. Kamu mau?" ujar Cony.
"......."
"Kenapa kamu diam? Bukankah tadi kamu mengatakan akan melakukan apa saja supaya aku memaafkanmu?" tanya Cony.
"Apakah tidak ada persyaratan lain?" tanya Jade sambil mengangkat kepalanya memandang Cony.
"Hanya itu jalan satu-satunya. Sekarang kamu sudah menjadi buronan polisi dan tidak mungkin bagiku untuk melindingimu lebih lama lagi. Pergilah. Serahkan dirimu pada polisi." jawab Cony.
"Tidak ... tidak .... TIDAK .... AKU TIDAK MAU MASUK PENJARA. AKU LEBIH BAIK MATI DARIPADA HARUS MASUK PENJARA. TIIIIDDDAAAAAAAKKKKKKK!!!!" teriak Jade sambil mengacak-acak rambutnya.
"Jade ... Jade ... tenanglah. Jangan seperti ini. Lihat aku .. lihat aku Jade. Lihat mataku!!" pinta Cony.
"Tidak ... tidak. Jangan paksa aku untuk menyerahkan diri. Jangan ... jangan melakukan itu padaku Cony. Jangan....." mohon Jade.
"Jika kamu menyerahkan dirimu ke polisi, pengadilan mungkin bisa memberikan keringanan hukuman padamu. Begitu juga jika kamu berkelakuan baik di penjara, kamu bisa dibebaskan lebih cepat dari putusan pengadilan. Percayalah padaku Jade. Serahkan dirimu." ujar Cony.
"TIDAK!! AKU TIDAK AKAN MENYERAH. SAMPAI MATI PUN AKU TIDAK AKAN MENYERAH!!!" ujar Jade yang mengambil pisau dari kantongnya dan menjadikan Ciny sebagai sandera nya.
"Jade, apa yang kamu lakukan? Bukankah kita adalah saudara?" tanya Cony yang berusaha mengalihkan perhatian Jade.
"Saudara??? Hahahahahaha .... tidak Cony. Kamu bukan saudaraku. Kamu adalah penghambat terbesar saat aku berusaha untuk membuat Rex menjadi milikku. Sampai dia sudah mau mati pun, cintaku tetap ditolak. Kamu tahu, saat aku menikah dengannya aku berpikir kalau aku bisa membuat hatinya berpaling padaku. Tapi apa yang kudapat? Hatinya selalu mengingatmu terus. Bahkan dalam mimpi pun dia selalu memanggil namamu. Dia selalu mengatakan kalau kamu belum meninggal. Aku tidak menganggap kalau kata-katanya itu adalah kebenaran. Sampai akhirnya sekarang aku baru bisa melihat dengan mataku kalau apa yang dikatakan Rex itu memang benar adanya." jawab Jade.
"Jadi sekarang apa yang mau kamu lakukan pada mae Cony?" tanya Mew.
"Aku mau dia mati bersamaku!!" jawab Jade sambil mengarahkan pisaunya ke leher Cony.
"Kalau begitu silahkan. Bunuh dia. Lakukan apa yang kamu inginkan." ujar Mew sambil duduk di sofa.
"P' MEW!!" teriak Kana.
"AYO LAKUKAN!! LAKUKAN APA YANG KAMU SUKAI. BUNUH MAE CONY. SELESAIKAN DIA DI TEMPAT!! BUKANKAH ITU YANG KAMU MAU!! LAKUKAN!!" teriak Mew yang terus memprovokasi Jade.
"Jade, jangan melakukan itu. Sekali kamu menyentuh mae ku, aku akan membunuhmu!!" ujar Kana dengan tatapan tajam nya pada Jade.
"Kenapa diam saja Jade? Apa yang kamu pikirkan? Bukankah seumur hidupmu kamu menganggap kalau orang di depanmu ini adalah seorang penghambat dan kamu ingin sekali membunuhnya? Kenapa tidak kamu lakukan? Pisau juga sudah kamu letakkan di lehernya, tinggal digorok saja. Kamu takut?" tanya Mew lebih memprovokasi Jade.
"Siapa bilang aku takut? Aku, Jade tidak pernah takut pada apapun!!" ujar Jade dengan mata penuh amarah.
"Kalau begitu lakukan. Bunuh mae Cony, maka kamu bisa bebas keluar dari sini." pinta Mew.
"Mew Jongcheveevat, apa maksudmu dengan semua ini? Kamu bukannya menolong mae ku, tapi kamu malah mendukungnya untuk membunuh mae ku. KAMU MANUSIA APA BUKAN MEW JONGCHEVEEVAT!!" teriak Kana sambil menangis yang tentu saja membuat hati Mew sangat sakit. Tapi Mew melakukan ini semua tentu saja untuk orang yang paling dia cintai.
KAMU SEDANG MEMBACA
King Mafia My Husband
FanfictionGulf Kanawut, seorang pemuda berusia 22 tahun yang dijual oleh ibunya yang mempunyai hutang yang sangat banyak pada seorang rentenir. Dia tidak bisa membayar hutang tersebut sampai pada akhirnya Kana dijual oleh ibunya sendiri pada seorang mafia kej...
