Happy Reading!
--------
Haechan bingung dan dia harus memutar otaknya. Bagaimana mungkin sahabat dekatnya orang yang paling ia percayai sampai sekarang masih belum kembali. Sudah sekitar dua minggu sejak kesepakatannya dengan Mr. Jung bermula namun sampai saat ini Renjun masih susah dihubungi dan tak pernah sekalipun menjawab panggilannya. Jujur saja meskipun ia tidak keberatan jika harus mengganti rugi kepada perusahan Jung akibat ulah temannya namun tetap saja Haechan tak rela jika perusahan yang telah di bangun oleh kakeknya dan berhasil ia kembangkan dalam sektor yang lebih luas harus rela ia serahkan secara cuma-cuma pada Mr. Jung.
"Aargght Renjun kau di mana? Balas sinyalku!"
Lelaki bersurai kecoklatan itu mengusap wajahnya kasar. Bahkan suara mesin pembuat boneka dibelakangnya sangat menggangu dan membuyarkan konsentrasinya. Padahal mesin-mesin itu berada pada ruangan lain. Tak biasanya dirinya begini bahkan membuatnya susah berfikir lagi. Berkali kali-kali mencoba untuk fokus dan memikirkan cara agar sinyal yang ia kirimkan pada CPD Renjun membuahkan hasil.
"Sungchan, bisa kau kecilkan sedikit suara mesin-mesin kita? Suaranya sangat berisik." Sungchan mengangguk meski tak dapat menyembunyikan keheranannya.
"Tak biasanya Tuan Haechan seperti itu," ujarnya membatin, dengan telaten Sungchan mulai memasang alat peredam suara di ruangan itu. Ia juga membereskan meja yang tadi digunakan Haechan. Sedikit mengintip apa yang sebenarnya Tuannya itu lakukan.
"Aku ingin mencari udara segar."
Haechan keluar dari laboratorium nya. Mengambil sebatang rokok dari saku jas kemudian memantik kan api agar batang rokok itu terbakar. Haechan sebenarnya bukan seorang perokok tetapi hanya di saat saat tertentu saja ia menghisapnya. Seperti sekarang.
Kepulan asap rokok keluar dari belah bibirnya. Helaan nafas berat disertai dengusan dapat terdengar keras. Untung saja di atap rooftop perusahaanya tidak terdapat orang lain lagipula rooftop ini cukup tinggi jika dilihat dari bawah.
Tubuhnya yang lelah Ia baringkan di sofa yang atasnya ditutupi oleh kanopi pohon buatan yang ada di sana sekaligus menghalau sinar matahari yang terik. Ia tertawa masam.
"Apa lagi yang harus kulakukan?"
Lagi, kepulan asap mengambang di udara dan perlahan menghilang samar. Melihat itu ia terpikirkan akan sesuatu. Di keluarkan ponsel pintarnya, setelah mengetikan dan mencari sesuatu ponsel pintar itu berdering.
["Hello?"]
"Jeno bisa bantu aku?"
.
.
.
Haechan kembali masuk lagi ke laboratoriumnya kali ini dengan wajah yang lebih cerah seolah pembuluh darahnya kembali ke dialiri ratusan sel darah merah. Dengan langkah ringan Haechan menuju kursi tempatnya bekerja yang berbatasan langsung dengan sebuah kaca raksasa. Kaca itu dapat memperlihatkan semua proses pembuatan produk barunya.
Perusahan apalagi laboratorium ini sudah seperti rumah kedua baginya. Bahkan jika dihitung ia lebih sering berada di sana daripada berada di rumahnya sendiri bersama anak dan istrinya. Sedikit tidak adil memang.
Komputer kerjanya ia nyalakan kembali guna melihat titik lokasi Renjun saat ini. Dengan telaten ia membuka kotak email yang berasal dari perusahan teknologi milik Mr. Lee. Email, sebuah surat elektronik yang samapi sekarang masih di gunakan bahkan setelah bumi berada di tahun 2045. Sebenarnya email sudah sangat ditinggalkan bagi para anak muda. Mereka lebih sering menganggap bisa bertukar pesan melalui smartphone sudahlah cukup oleh karena itu fungsi email kini beralih dan hanya digunakan dikalangan tertentu saja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Déjà vu || NCT
AvontuurSeo Haechan, remaja tanggung yang mendapati dirinya sendiri berada di tahun 1997 atau hampir 25 tahun kebelakang. Misinya adalah menyelamatkan teman kecilnya agar dia bisa kembali ke tahun yang seharusnya dia hidup. Namun dalam upaya penyelamatan it...
