HUJAN

879 118 8
                                        

Rose terlihat memijat keningnya, tidak seperti biasanya hari ini gadis pirang itu terlihat lesu. Bukan karena pekerjaannya tetapi karena perkataan suaminya tadi pagi.

June tidak bisa menjemputnya karena harus lembur, dengan berat hati suaminya mengatakan hal itu, Rose tak ingin mematahkan semangat suaminya tadi pagi, dengan senyum terpaksa ia hanya menyutujuinya.

Rose lupa membawa payung, cuaca terlihat mendung. Jalanan tidak sepadat hari biasanya, ia berjalan sambil melihat taman kecil di sepanjang trotoar yang ia pijaki. Salah satu keunggulan kota ini adalah kehijauannya, indahnya lagi saat musim semi kota ini akan terlihat berwarna-warni oleh bunga yang yang bermekaran.

Rose lebih memilih untuk berjalan daripada menggunakan bus umum, dengan begitu ia tidak perlu mengeluarkan pengeluaran yang tak perlu, Rose lebih memilih menggunakan uangnya untuk makan dan bertahan hidup bersama suaminya.

"Akan hujan sepertinya."

Rintik hujan mulai berjatuhan Rose berlari kecil mencari tempat untuk bernaung. Tak lama Rose berhenti mencoba mengatur nafasnya, sekarang ia berada di halte bus.

Rose menjatuhkan bokongnya di kursi panjang halte itu. Tak lama hujan menjadi sangat deras.

"Untung saja tidak telat."

Ia mencoba mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya, tapi tidak ada jawaban. Ia sempat melirik jam di ponselnya waktu sudah berlalu semakin sore, jam enam lewat.
Dengan lesu ia meletakan kembali ponsel genggam itu di tasnya.

Tidak ada siapa-siapa di halte bus kecil ini, hanya Rose seorang. Lalu ia menopangkan dagunya melihat situasi yang berada didepan matanya. Banyak mobil berlalu-lalang, di sebrang jalan sana terlihat toko roti dan toko bunga berdiri, sepertinya toko itu sudah tua terlihat dari bangunannya yang mulai usang, tetapi semakin terlihat estetik. Entah sudah berapa lama ia disana hujan tak kunjung juga reda, ia berharap panggilan dari suaminya.

"Huhh.." Keluh Rose.

Tak lama mobil hitam berhenti tepat didepannya,
Rose tak menghiraukan itu. Kaca mobilnya terbuka.

"Hei..."

Terdengar suara panggilan, Rose masih belum menghiraukannya. Tetapi panggilan itu terus datang semakin lama semakin kencang.

"Heiii kau gadis pirang.."

Reflek kepala Rose menoleh ke asal suara panggilan itu. Ia menyipitkan matanya mencoba fokus.

"Ayo masuk.."

Rose bingung, ia tidak mengenali pria yang didalam mobil itu. Tak lama pria itu keluar dari mobil berlari menuju arah Rose berdiri.

"Ayo masuk.."

Rose mengernyit melihat pria yang berdiri didepannya.

"Apakah kita saling kenal ?"

"Kau gadis dispenser."

"Hah..?!!"

Rose terkejut, pikirannya mulai mengingat-ingat.

"Ahhh..kau laki-laki yang kubuatkan kopi."

Lelaki itu tak menghiraukan perkataan Rose, ia menarik paksa Rose, dibukanya pintu mobil lalu ia menoleh pada Rose.

"Masuk." Perintah laki-laki itu.

"Maaf aku tidak.." Ujar Rose yang dipotong seketika oleh lelaki itu.

"Cepatlah, kita akan basah kuyup."

Setuju dengan perkataan lelaki itu, Rose masuk kekursi penumpang depan. Lalu lelaki itu berlari memutat menuju kursi kemudi.

A Rose By Any Other NameCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang