Rose tak kuasa menahan airmatanya saat ia melihat adiknya masih tergeletak tak bergerak. Dengan langkah yang berat ia menghampiri adiknya dan menggenggam erat jemari kecil itu. Di ciumnya berkali-kali jari-jari adiknya itu.
Leo menghampiri dan menepuk pundak Rose.
"Akan kupastikan ia akan bisa kembali normal lagi Rose, bantu aku dengan doamu." Ucap dokter itu.
"Terima kasih dokter." Ucap Rose terbata-bata disela tangisnya.
Lalu dokter itu meninggalkan Rose didalam ruangan besar itu. Ia menghampiri Jungkook yang sedari tadi menunggu di depan kamar pasien.
"Apakah ada kemajuan ?" Tanya Jungkook.
"Sedang ku upayakan, aku harus berhati-hati karena kekuatan otot sarafnya masih terbilang lemah." Jawab Leo tenang. Jungkook hanya bisa diam tak merespon.
"Bagaimana keadaan nona Ann ?" Tanya Jungkook.
"Yahh...sekarang sudah berangsur-angsur membaik."
"Syukurlah, dia adalah wanita paling kuat yang pernah kutemui. Aku kagum padanya." Puji Jungkook.
"Apa kau akan menengoknya nanti ?" Tanya Leo.
"Tidak, mendatangi pulau itu membuat dadaku terasa sesak, dan membuatku kesal atas kematian tuan Sebastian."
"Tidak hanya kau yang kesal, semua yang benar-benar mengenal lelaki bodoh itu pasti akan merasakan hal yang sama." Jungkook tersenyum mendengarkan penuturan dokter itu.
"Sudah lima tahun semenjak kepergiannha, apa kondisi kota sudah mulai membaik ?" Tanya Jungkook.
"Sudah tak ada yang dikhawatirkan lagi, semua sesuai dengan rencana yang disusun oleh Sebs." Jawab Leo.
"Jika ia masih hidup mungkin negara ini bisa ia kuasai."
"Itu kalau ia mau menuruti perkataanku, ia terlalu batu."
"Kau itu lebih menakutkan daripada Tuan Sebastian. Cuma denganmu saja Tuan Sebastian mau menurut." Uajr Jungkook.
"Yahh..Bagaimanapun aku sudah bersamanya selama di panti dulu, aku juga selalu melindunginya. Tapi...ah Sudahlah, kalau kau mau mengagung-agungkan Sebastian lebih baik kau temui saja Greg dan Ary."
"Kau tak asik, kau memang dewanya orang yang menyebalkan." Ujar Jungkook kesal, Leo pun hanya tertawa.
"Lalu bagaimana kau bisa mendapatkan hati gadis lugu dan polos seperti Rose itu ? Cepat ceritakan." Tanya Leo antusis.
"Dan sekarang kau meremehkanku. Lihat aku, apa aku memiliki kekurangan." Ujar Jungkook, lalu Leo mencoba meneliti dari kaki sampai wajahnya.
"Hemm..biar kutebak, kau pasti membuat Rose dalam masalah, lalu membuatnya tak memiliki pilihan selain mengikuti kemauanmu. Lalu agar Rose semakin yakin kau menggunakan adiknya sebagai senjata, tebakanku benar bukan ?" Ujar Leo sambil mengejek. Jungkook terkejut dengan tebakan dokter itu.
"Kau menyebalkan!" Ujar Jungkook sambil melangkahkan kakinya kesal.
"Hahahaha tebakanku benar, kau memang penggemar Sebastian nomor satu." Ejek Leo, Jungkook mengacungkan jari tengahnya lalu masuk keruangan Rose berada.
Jungkook melihat Rose masih duduk memandangi adik kecilnya itu, dengan pelan ia mendekati Rose, lalu ia memeluk gadis itu dari belakang dan menyenderkan dagunya di pundak Rose. Rose terkejut lalu saat tau siapa yang melakukan itu.
"Jung..Jungkook kau mengagetkanku !" Pekik Rose dengan berbisik sambil menjauhkan kepalanya sedikit, jarak mereka sangat dekat.
"Adikmu akan sembuh, aku yakin itu." Ucap Jungkook. Rose memegang tangan berotot yang melingkar dibadannya. Lalu ia pun menangis lagi.
Ia membutuhkan tempat untuk bersandar atau seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Setidaknya itu yang dilakukan Jungkook saat ini.
Punggung Rose dapat merasakan detakan jantung Jungkook yang begitu keras, entah kenapa ia merasa sedikit tenang setelah mengikuti irama jantung itu.
"Ayo kita pulang, hari akan semakin gelap. Perjalanan ke Virginia membutuhkan waktu setidaknya tiga jam." Kata Jungkook. Rose diam berfikir.
"Apa aku boleh menemani adikku sehari saja." Rose memohon.
"Rose, adikmu aman disini tak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Bukan itu maksudku...Aku hanya ingin menemaninya saja." Rose terlihat memohon.
"Tidak Rose, kau juga harus beristirahat." Titah Jungkook dengan nada tidak mau dibantah. Rose terlihat lesu.
"Baiklah, berikan aku waktu beberapa menit lagi." Pinta Rose. Jungkook menganggukan kepalanya pelan.
"Aku akan menunggumu di luar. Susul aku."
"Baik."
Lalu Jungkook meninggalkan Rose. beberpaa menit kemudian Rose pun keluar dari ruangan adiknya.
Rose melihat Jungkook berdiri bersender di tembok tepat didepannya.
"Maaf menunggu lama." Ujar Rose sungkan. Jungkook hanya tersenyum.
"Ayo kita pulang." Ujar Jungkook sambil menjulurkan tangannya. Rose malu menggapainya, tak sadar mereka mendengar suara langkah orang.
"Ah maaf menggangu momen kalian."
Jungkook kesal saat melihat Leo sudah berada didekat mereka.
"Ah tidak apa-apa dokter." Ujar Rose malu.
"Panggil saja aku Leo." Ujar Leo sambil tersenyum pada Rose.
"Kenapa kau disini ?!" Tegur Jungkook tak suka.
"Ini rumah sakitku bocah tengik." Ujar Leo sambil menyungingkan senyuman mengejek.
"Kami akan pulang. Jaga adiknya baik-baik, kau kubayar." Ujar Jungkook.
"Bocah tengik beraninya kau, jika tak ada Rose sudah kuhajar kau habis-habisan."
"Umurmu semakin tua, lebih baik kau sering-sering olahraga." Jungkook tertawa terbahak-bahak setelah mengatakan itu.
Sedangkan Leo menggeleng-gelengkan kepalanya, Leo sudah tak heran dengan kelakuan bocah satu ini, ia lebih usil dari Greg. Ia akan menyerah bila kedua bocah itu bertemu dan membuat kegaduhan.
"Hei Rose, bersabarlah padanya. Dibalik sikapnya yang menyebalkan, dia tak lebih hanya seorang bocah kecil yang nakal." Ujar Leo sambil mengedipkan satu matanya. Rose hanya tersenyum.
"Aku bukan anak kecil!" Pekik Jungkook tak terima, Rose pun melotot kearah Jungkook.
"Terima kasih Leo, mohon bantuannya dan maaf merepotkanmu." Ujar Rose sambil menundukan badannya.
"Ahh...Sudah menjadi kewajibanku sebagai dokter, kunjungi saja aku bila kau ada waktu luang." Ujar Leo.
"Pasti..."
"Tidak! Ayo kita pergi Rose." Potong Jungkook sambil meraih tangan Rose paksa. Leo hanya bisa tertawa melihat tingkah Jungkook.
Lalu mereka meninggalkan lantai itu, sesampainya di lobby mereka melihat kedua resepsionis itu masih berdiri dimejanya.
Rose semakin merapatkan badannya pada Jungkook, dan melirik penuh kemenangan pada kedua resepsionis itu. Terlihat kedua resepsionis itu sangat marah. Rose pun cekikikan melihat itu.
"Kenapa kau cekikikan ?" Tanya Jungkook sambil mengerutkan kedua alisnya.
"Tidak apa-apa, hanya urusan perempuan." Jawab Rose.
Lalu mereka pergi meninggalkan rumah sakit itu.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
A Rose By Any Other Name
RomanceUjian untuk seorang Roseane Park, dia harus memilih persimpangan jalan yang rumit. Apakah Keluarga sederhananya atau nafsu yang bergejolak di dalam dirinya.
