Jungkook sedari pagi sudah terlihat sibuk menyiapkan dirinya, ia sedari tadi juga tak melihat batang hidung Rose. Saat ia bangun Rose sudah tidak ada ditempat tidur, itu membuatnya kesal. Tetapi sepertinya ia paham jika wanita itu masih kesal karena kejadian di motel kemarin. Ia tertawa kecil mengingat tingkah laku Rose yang lucu. Bukannya takut Jungkook malah berfikir itu sangat menggemaskan melihat Rose marah, sangat tidak cocok.
Setelah selesai ia pun keluar dari kamarnya dan turun, saat di tangga ia juga tak melihat gadis itu ada di meja makan, ia hanya melihat Bibi Nay yang sibuk berkutat di dapur tak jauh. Lalu ia menghampiri pelayannya itu.
"Bibi apa kau melihat Rosie ?" Tanya Jungkook, itu membuat Bibi Nay kaget, hampir saja ia menyiramkan kuah soup ke arah Jungkook.
"Maafkan aku bibi." Reflek Jungkook menghampiri perempuan tua itu.
"Ahh..Tak apa, tak apa. Aku hanya terkejut aku kira hantu." Ujar Bibi Nay sambil mengelus-elus dadanya.
Jungkook tersenyum kecil, lalu mengulangi pertanyaannya.
"Apa kau tau Rosie ada dimana ? Aku tak melihatnya sama sekali sedari pagi tadi."
"Rose ada di ruang baca, sepertinya ia terlihat lesu."
"Baik terima kasih Bibi." Jungkook pun langsung melangkah pergi.
"Ajaklah dia untuk sarapan." Ujar Bibi Nay.
Jungkook mengangguk dan bergegas menuju ruang baca, dibukanya pintu ruangan itu pelan. Dan Akhirnya ia bisa bernafas lega. Sedangkan gadis yang ia cari sedari tadi hanya duduk santai sambil membaca buku. Rose sempat menghentikan aktivitasnya sebentar dan melirik pintu yang terbuka itu, setelah tau siap yang membuka pintu ia pun melanjutkan membacanya, tak perduli sama orang yang berdiri menghampirinya.
"Kau membuatku khawatir, aku kira kau menghilang Rose." Ujar Jungkook.
"Hemmm." Rose hanya bergumam, ia tak merubah posisinya sedikitpun.
"Ayo kita makan." Ujar Jungkook sambil menjulurkan satu tangannya.
"Aku tak lapar."
"Ayo Rose, aku akan terlambat." Paksa Jungkook. Rose melirik kearah Jungkook lalu kembali memfokuskan matanya pada buku bacaannya.
"Makanlah, aku bisa makan sendiri nanti."
Jungkook terlihat kesal, tetapi ia mencoba menahan emosinya. Sepagi ini Jungkook harus dipaksa melakukan hal yang ia paling benci, yaitu menahan amarahnya. Ia tak habis pikir kenapa ia masih marah sampai saat ini.
"Ayo kau bisa sakit." Ujar Jungkook sambil mengambil buku bacaan Rose. Gadis itu terkejut dan kesal dengan tingkah Jungkook.
"Makanlah sendiri, sudah kubilang aku bisa makan nanti !!" Bentak Rose, Jungkook terkejut.
"Wahh...wahhh...Kau berani menolakku terlebih lagi membentakku. Lagi-lagi kau membuatku terkejut Rose. Hanya kau..," Ucapan Jungkook terpotong oleh perkataan Rose.
"..Yang berani melakukan ini padaku. Begitu kan ?" Rose melanjutkan perkataan Jungkook, lalu ia berdiri dan berjalan meninggalkan Jungkook dikamar baca.
Jungkook tersenyum lebar, ia tak habis-habisnya dibuat kagum oleh keberanian Rose. Selama hidupnya belum pernah sekalipun terlebih lagi wanita melakukan itu pada Jungkook, ia pun tertawa, lalu tak lama ia menyusul Rose yang terlihat sudah duduk dimeja makan.
***
Ditempat lain terlihat sebuah keluarga menikmati waktu mereka di meja makan.
"Tak usah repot-repot ibu, mau berapa banyak makanan yang akan kau hidangkan ?"
"Bukankah tugas semua ibu memang memastikan keluarganya terjaga dalam makannya."
"Sudahlah June, Apa kau tak bisa melihat bagaimana ekspresi bahagia ibumu, turuti saja."
"Aku menurutinya, tapi bagaimana aku harus menghabiskan makanan sebanyak ini?"
Ayahnya hanya tersenyum, lalu tak lama ibunya meletakan mangkuk dimeja makan dan duduk dikursi makan.
"Kau tau June, ibu belum pernah melihatmu tak menghabiskan masakanku, jadi diam dan makanlah." Ujar ibunya tersenyum menakutkan, ayahnya hanya bisa cekikikan. Sedangkan June hanya bisa berekspresi kecut. Ia tau bila di dapur dan meja makan adalah daerah kekuasaan ibunya, bahkan ayahnya saja dibuat tak berkutik.
"Aku senang kau kembali June, terlebih lagi kau mau tinggal dirumah ini lagi. Aku tak percaya mimpi apa aku semalam." Ujar ibunya sambil memotong steak di piringnya.
"Bahkan ia mau melanjutkan bisnis keluarga kita." Tambah ayahnya sambil mengedipkan satu matanya.
"Benarkah ? Wah itu membuatku terharu."
"Sudahlah, itu memang menjadi tugasku ibu, lagipula aku hanya membantu ayah agar keriputnya tidak bertambah semakin banyak lagi." Ujar June Bercanda.
"Wah sepertinya kau harus memeriksakan kesehatan matamu, lihatlah aku masih bugar dan maish awet muda, bukan begitu sayang ?" Ujar ayahnya sambil menoleh pada istrinya. Lalu istrinya pun tersenyum setuju.
"Kudengar sebelumnya kau berkerja di sebuah tempat konstruksi, dan menjadi buruh disana apa itu benar June ?" Tanya ibunya.
"Yap itu benar ibu."
"Astaga apa kau sesusah itu saat memutuskan keluar dari rumah ini June, maafkan ibu." Ujar Ibunya iba.
"Dia pemilik perusahaan kontraktor itu sayang." Jelas ayahnya.
"Hah?! Bagaimana ?." Ibunya terkejut dan bingung. June pun meletakan pisau dan garpunya lalu menoleh pada ibunya.
"Iya aku pemilik perusahaan itu ibu, kami lebih tepatnya." Jelas June.
"Kami ?" Sekarang giliran ayahnya yang terkejut.
"Itu adalah perusahaanku dan Hanny."
"Hanny ?!" Ucap Ibu dan ayahnya bersamaan. June hanya diam membiarkan kedua orang tuanya berfikir.
"Ahhh...Hanny, ya ya, aku ingat." Ujar Ibunya. Tetapi ayahnya masih belum ingat.
"Sayang Hanny adalah anak dari Tuan Axl , rekan bisnismu. Ia juga dulu satu kelas dengan June di Sekolah Menengah." Ujar istrinya mencoba membantunya.
"Ahhh..aku ingat, Hanny." June hanya tersenyum mendengar ucapan ayahnya.
"Bukankah dia pernah menjadi kekasihmu June ?" Sekarang Ibunya melontarkan pertanyaan. June lupa bila ibunya pasti menanyakan itu, bila tau seperti ini seharusnya ia tak menyebut namanya, June menyesal.
"Sebenarnya kami belum berpisah. Tetapi karena sebuah kondisi aku dan Hanny harus berpisah sejenak lalu berjanji akan bertemu setelah kondisinya membaik." Jelas June.
"Kondisi seperti apa itu June ?" Tanya Ibunya lagi. June benar-benar tak belajar dari pengalaman. Ia lupa bila Ibunya benar-benar seperti detektif bila bertanya.
"Berhentilah bertanya Ibu, aku ingin menghabiskan makananku dan segera kekantor bersama ayah." June mencoba mengelak dari pertanyaan ibunya.
"Baiklah, aku akan melepaskanmu kali ini. Lain kali aku alan menagih hutang penjelasanmu." Ujar Ibunya sambil tersenyum mengerikan. June hanya bisa mengangguk kecut. Sedangkan ayahnya memandang June sambil tersenyum dengan tatapan mencurigakan. June yang tau itu hanya bisa mengembuskan nafas panjangnya. Ia benar-benar lupa bila ayah dan ibunya ini adalah orang yang sangat cerdas. Ia menyesali lagi jawaban-jawabannya tadi yang telah memancing rasa ingin tau kedua orang tuanya.
Ia berfikir bagaimana ia akan menjelaskan masalah Rose pada ayahnya, karena ia yakin diperjalanan nanti pasti ayahnya menanyakan masalah ucapannya kemarin.
Saat teringat Rose, June khawatir dengan kabar gadis itu.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
A Rose By Any Other Name
RomanceUjian untuk seorang Roseane Park, dia harus memilih persimpangan jalan yang rumit. Apakah Keluarga sederhananya atau nafsu yang bergejolak di dalam dirinya.
