Rose menangis sesenggukan sepanjang jalan, hatinya sangat perih. Ia sebenarnya ingin menyelesaikan dengan cara baik-baik tetapi saat melihat June emosinya semakin tak terbendung. Ia tau seharusnya ada pembicaraan yang lebih intens, kenapa ia melakukan itu, apakah Rose ada salah padanya atau pertanyaan lainnya. Tapi kembali lagi, Rose hanyalah wanita yang sakit hatinya bila disakiti. Ia hanya manusia yang mencoba tulus mengabdikan dirinya sebagai seorang istri.
Tak perlu bukti dan penyangkalan, Rose sudah melihat dengan mata dan kepalanya sendiri. Sekarang sudah jelas bahwa June masih mencintai kekasihnya, ia tak ingin lebih sakit lagi. Permintaan Rose sangatlah sederhana, ia hanya ingin di cintai selayaknya istripada umumnya. Setidaknya itu yang ada di dalam kepalanya sekarang.
Tom mengiba saat melihat Rose menangis seperti itu. Sambil tetap fokus menyetir tangan kirinya menjulungkan sapu tangan pada Rose.
Rose melihat Tom dari kaca spion tengah lalu berusaha tersenyum dan mengambil sapu tangan itu.
"Tee..teerima kasih Tom." Ucap Rose terbata-bata.
Tom mengganguk. Tom mengendarai mobil itu dengan pelan. Sebenarnya Tom menunggu perintah dari Rose, karena waktu masih menunjukan jam sepuluh pagi.
Saat Tom sudah tak mendengar suara isak tangis nonanya ia memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf Nona, apakah ada tempat yang anda ingin tuju ?"
Pertanyaan Tom tak kunjung ada jawaban, ia memutuskan melirik spion didepannya.
"Non...a." Tom memilih tak melanjutkan perkataannya, karena ia melihat nonanya sudah tertidur.
Tom berfikir, selera tuannya sangat unik. Padahal banyak wanita yang lebih cantik dan sederajat mendekati tuannya, bahkan semuanya dari kalangan elit, anehnya semua wanita itu dengan dingin ditolak oleh tuannya.
Tom tidak membandingkan semua yang pernah mendekati tuannya dengan Rose. Menurutnya Rose punya daya tarik tersendiri, dari kepolosannya dan kejujurannya mungkin. Pikir Tom.
Tak lama Tom dikejutkan dengan suara dari ponselnya. Lalu ia angkat telpon itu.
"Halo tuan." Jawab Tom.
"Nona Rose bersama saya. Ia tertidur Tuan."
"Baik Tuan, saya akan segera menjemput anda."
Setelah panggilan itu berakhir Tom segera mengarahkan mobilnya untuk menjemput tuannya.
***
"Tak usah berdiri paman Hans."
Hans pun tetap berdiri setelah melihat siapa yang menghampirinya.
"Selamat pagi tuan Jungkook." Sapa Hans.
"Jangan memanggilku seperti itu paman."
"Aku hanya penjaga di sini, dan kau bosku sudah seharusnya aku memberi hormat." Ujar lelaki tua bijak itu.
"Kau sudah kuanggap keluarga ku sendiri paman, bila tidak ada paman aku pasti kesepian." Ujar Jungkook.
Hans hanya tersenyum, dimata pria tua itu Jungkook masihlah terlihat seperti anak-anak.
"Mampirlah bila ada waktu senggang, istriku juga merindukanmu."
"Ahhh...Aku lupa mengunjungi bibi, aku pasti kena omel, bibi sungguh menyeramkan bila sedang marah." Ujar Jungkook.
"Hahaha aku tidak ikut campur soal itu." Mereka pun tertawa.
"Jungkook."
"Iya paman."
"Aku sebenarnya mengkhawatirkan seseorang."
"Siapa orang yang beruntung itu paman?" Tanya Jungkook penasaran.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Rose By Any Other Name
RomanceUjian untuk seorang Roseane Park, dia harus memilih persimpangan jalan yang rumit. Apakah Keluarga sederhananya atau nafsu yang bergejolak di dalam dirinya.
