"Selamat pagi tuan Jungkook. Tidak seperti biasanya pulang cepat." Ucap wanita tua.
"Aku hanya ingin istirahat sesekali Bibi." Ucap Jungkook lembut.
Rose Terkejut dengan sikap Jungkook yang hangat, dia menunjukan sisi yang berbeda, Bibi Nay hanya seorang pembantu tetapi terlihat sekali Jungkook menyayangi dan menghormatinya. Rose tersenyum.
"Perkenalkan Bibi ini Rose, dia akan bekerja menjadi asisten pribadiku." Kata Jungkook.
Lalu Rose memberi hormat membungkukan badannya.
"Perkenalkan nama saya Rose bibi." Ujar Rose sopan.
"Jangan seperti itu nak, aku hanya pembantu disini."
"Tidak bibi, bagaimanapun itu hanya sebuah pekerjaan, tetapi bibi orang yang lebih tua jadi sepatutnya di hormati. " Jelas Rose. Jungkook tersenyum bangga padanya.
"Terima kasih Rose, Biarkan aku membawakan tasmu itu, kau terlihat lelah." Tawar Bibi Nay mendekati Rose.
"Ti..tidak bibi, biar kubawa saja, ini tidak berat hanya berisi beberapa pakain." Ujar Rose menahan Bibi Nay.
"Baiklah kalau begitu, aku akan menyiapkan makanan aku tau kalian pasti lapar." Ujar wanita itu lalu ia bergegas pergi.
"Ayo, ikuti aku." Perintah Jungkook, Rose pun tanpa banyak tanya langsung mengikuti laki-laki tampan itu.
Mereka menaiki lantai dua dan menuju sebuah lorong dan tak lama mereka berhenti didepan pintu.
Jungkook membukan pintu kayu itu.
"Ayo masuk Rose." Ujar Jungkook.
Rose terpukau saat melihat kamar mewah bercat putih bersih itu tertata rapi, dan wangi jasmine tercium kuat di hidungnya.
"Ini akan menjadi kamarmu, lakukan apapun yang kau mau disini."
"I..ini terlalu bagus buatku Jungkook." Ujar Rose. Jungkook mengerutkan keningnya terkejut dengan respon yang diberikan Rose.
"Apa kau tak suka ?" Tanya Jungkook.
"Bukan..Bukan begitu maksudku. Tapi ini terlalu mewah buatku."
"Sudah cepat taruh barang-barangmu dan segera makan. Setelah itu kau akan menandatangani kontrak yang sudah di revisi." Rose terkejut dengan penuturan Jungkook.
"Apa! Bukankah itu terlalu cepat, bahkan ini baru beberapa jam."
"Itu hal mudah bagiku. Cepat Rose." Rose kesal dengan lelaki ini, ia terlalu memaksa.
"Ckk..Iya..iya!"
Lalu Rose mulai merapikan barang-barangnya, ia tak terlalu pusing dengan apa yang akan terjadi kedepannya, yang ada dipikirannya sekarang adalah bagaimana adiknya bisa kembali sehat dan tersenyum seperti biasanya.
Setelah selesai ia pun bergegas menuju dapur, ia terlihat masih sungkan. Rumah ini terlalu mewah pikirnya. Bahkan Rumah Brie tidak seperti ini.
Setelah makan mereka berdua pun bergegas menuju kamar Jungkook, mereka segera membicarakan kontraknya.
Setelah benar-benar membaca isi kontrak itu, Rose benar-benar tak habis pikir, ini adalah kontrak vulgar yang dibalut secara profesional, bagaimana bisa ia menyetujui kontrak seperti ini.
Wajah Rose benar-benar dibuat merah setelah selesai menandatangi kontrak itu, ia lalu menutup wajahnya dengan tangannya, pikirannya membayangkan hal-hal yang tak pernah ia lakukan.
Ia tak berani beranjak keluar dari bathup yang sekarang ia gunakan untuk berendam.
"Aku tak lebih seperti pelacur saja. Bila ibuku tau aku pasti di omeli habis-habisan." Ujar Rose sambil memainkan busa ditangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Rose By Any Other Name
RomanceUjian untuk seorang Roseane Park, dia harus memilih persimpangan jalan yang rumit. Apakah Keluarga sederhananya atau nafsu yang bergejolak di dalam dirinya.
