Pagi sudah menampakan dirinya tetapi gelap tak kunjung hilang, tak seperti hari-hari biasanya terlihat hujan sudah turun dari awal, awan hitam menutup jatuhnya sinar matahari kali ini.
Rose terbangun dari tidurnya, tubuhnya tak bisa digerakan dia berfikir ini mimpi, ia mencoba mengedipkan matanya berkali-kali hanya untuk memastikan, tapi ternyata ini nyata. Tubuhnya terasa berat seperti ada yang mendekapnya.
Lalu matanya tertuju pada tangan kekar yang melingkar ditubuhnya. Ia terkejut dan menoleh wajahnya, dapat ia lihat seorang lelaki sedang memeluknya erat.
Laki-laki itu terlihat masih tak sadarkan diri dari tidurnya, lalu ia memutarkan wajahnya menghadap laki-laki itu. Ia memandang wajah laki-laki disampingnya dengan teliti, semakin ia fokus semakin pula Rose menyadari bahwa laki-laki disampingnya ini tak mempunyai celah sedikitpun, wajahnya terlalu sempurna.
Tanpa sadar pikirannya mengulas kembali pergulatan panas yang ia lakukan bersama laki-laki ini. Wajahnya memerah malu, Rose tidak percaya laki-laki ini adalah lawan mainnya tadi malam, terlihat perbedaan yang sangat mencolok.
Di mata Rose saat ini, ia hanya melihat seorang laki-laki polos yang tertidur tanpa dosa. Sangat jauh berbanding terbalik, ia sempat berfikir apakah laki-laki disampingnya ini memiliki dua kepribadian
lalu ia segera mengesampingkan pikiran bodoh itu.
Asik berfikir tanpa sadar tubuhnya dipeluk semakin erat dan wajah mereka semakin mendekat tanpa celah, hidung mereka saling bertemu. Nafas mereka beradu semakin lama semakin cepat. Mata mereka saling memandang dan tanpa sadari mereka melakukan kegiatan panas itu lagi.
*****
Sementara itu disudut kota tepatnya di apartemen sederhana terlihat pria dan wanita sedang berkutat dimeja makannya.
"Hanny." Tanya pria itu.
"Yapp."
"Boleh aku bertanya." Hanny pun meletakan sendok garpunya.
"Sepertinya ini pertanyaan serius, apa itu June ?" Tanya Hanny.
"Tidak tidak, ini bukan pertanyaan serius." Jawab June.
"Lalu..??"
"Apa aku pernah menciummu ?" Pertanyaan June ini membuay Hanny menghembuskan nafasnya.
"Kau adalah laki-laki tersopan yang pernah kukenal, bahkan untuk memegang tanganku saja kau berfikir ribuan kali. Kenapa kau menanyakan ini ? Seperti bukan dirimu saja."
"Ah bukan apa-apa, aku hanya ingin memastikan saja." Jawab June.
"Apa kau ingin menciumku sekarang ?" Goda Hanny sambil menyipitkan matanya. June hampir tersedak mendengar pertanyaan wanita itu.
"Bahkan untuk memandangmu saja aku tak kuat berlama-lama." Bantah June.
"Huhh...Kau tak asik June." Kata Hanny sambil cemberut.
"Yapp, itulah aku."
"Ahh...aku tau." Pekik Hanny hampir membuat June tersedak lagi.
"Kau dituduh Rose menciumku kan ? Benar kan ? Ayo cepat jawab ?" Tanya Hanny penasaran. June hanya menganggukan kepalanya.
Lalu Hanny tertawa terbahak-bahak. June hanya memutar kedua matanya.
"Aku tak tau apa yang ada dipikiran Rose, apakah semua perempuan akan berimajinasi liar bila sedang marah ?" Tanya June heran.
"Tidak June, mungkin karena Rose terlalu polos, biasanya perempuan yang terlalu setia akan mudah sakit hatinya. Itu berlaku juga padaku, kau harus tau dan catat itu." Jelas Hanny sambil.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Rose By Any Other Name
RomansaUjian untuk seorang Roseane Park, dia harus memilih persimpangan jalan yang rumit. Apakah Keluarga sederhananya atau nafsu yang bergejolak di dalam dirinya.
