Rose terlihat sedang serius didepan monitor kerjanya, ia sedang mengetik beberapa perjanjian kontrak kerjasama untuk beberapa hari kedepan.
Tak lama ia meluruskan badannya dan dilihatnya orang-orang disekitar sudah beristirahat. Ada yang berkumpul di pantry, ada yang mengobrol di area santai dan beberapa makan diluar.
Ia merasa sedih, biasanya bila waktu istirahat selalu ada suara berisik Brie, tapi kali ini benar-benar tidak ada yang menghampirinya, jarak antar meja satu dan meja lain cukup jauh. disetiap ruangan hanya berisi empat meja, dan disekat triplek tebal.
Mejanya berapa disudut ruangan jauh dari tiga meja lainnya.
Ia bergegas mengambil bekal makanannya yang ada di tas. Lalu ia melangkah pergi dari ruangan itu. Seperti biasa, dulu bila Brie sedang tidak masuk ia akan makan sendirian di rooftop kantornya. Ia merasa tenang disana, karena ia tidak mendengar suara-suara dari orang yang menggunjing dan menghinanya.
Karena melamun ia tak sadar menabrak seseorang, karena terkejut ia tak bisa memegang bekalnya dengan benar dan tentu saja bekal itu jatuh dan berserakan.
"Ahh...!!" Pekik Rose.
"Perhatikan langkahmu nona culun!! Lihat bajuku jadi kotor!" Teriak seorang laki-laki gemuk pada Rose.
"Maa...maafkan aku." Kata Rose menyesal sambil membungkukan badannya.
"Cih!!! Dasar wanita pembawa sial."
"Sudah..sudah, ayo kita pergi saja." Ucap laki-laki kurus yang ada didepan Rose.
"Ayo!" Perintah gemuk itu.
Lalu pria kurus itu membungkukkan badannya pada Rose.
"Maafkan temanku nona." Ujarnya sambil tersenyum.
"Ah tak apa, itu salahku juga." Balas Rose tersenyum.
Lalu pria kurus itu melangkah pergi dan menginjak makanan Rose yang terjatuh dilantai tadi.
"Upsss..Selamat makan Nona Rose." Lalu ia berlari dengan mengejek.
Rose hanya bisa mematung, lalu ia menunduk dan memasukan makanannya ke dalam tempat bekalnya dengan airmata yang menetes deras.
Lalu dengan cepat ia menuju lift yang terlihat kosong dan menuju Rooftop. Didalam Lift ia menangis sesenggukan. Lalu tak lama ia keluar dan menuju spot yang biasa ia tempati.
Rose membersihkan makanannya yang terjatuh tadi lalu memakannya, ia merasakan pasir didalam mulutnya tetapi ia tetap memakannya.
Rose pun menangis dan meletakan bekalnya yang masih utuh itu. Ia memilih untuk meringkuk meratapi hidupnya.
Benar kekhawatiran Rose sepeninggalan Brie ia pasti menjadi bahan bully rekan kerja lainnya, ia tidak tau alasannya, apa mungkin karena ia miskin atau baju yang ia kenakan selalu terlihat lusuh. Bila itu masalahnya, tinggal
Ia hampir lelah, dengan kehidupannya yang selalu diterpa kesusahan. Ia selalu mencoba kuat diluar, tapi kembali lagi Rose adalah seorang wanita yang rapuh dan butuh tempat untuk bersandar. Tiba-tiba ia mengingat kembali masa kecilnya dimana ayah dan ibunya masih ada. Kenangan yang semakin memudar seiring bertambah dewasanya Rose.
Ia butuh dukungan moril, ia tau June pasti sibuk berkerja, ia tidak enak untuk menghubungi Brie.
Lalu terbesit satu nama, Jungkook. Ia dengan cepat menepisnya.
Rose berdiri melihat dari puncak tertinggi gedung itu, ia membentangkan tangannya mendongakkan kepalanya lalu menghirup nafas panjang.
"Kau harus kuat Rose!" Serunya sambil menepuk kedua pipinya.
Lalu ia merapikan bekalnya dan kembali keruangannya. Sebelum kembali ia menyempatkan diri ke pantry untuk membuat kopi. Karena kondisinya tidak ada siapa-siapa itu sebuah kesempatan bagi Rose.
KAMU SEDANG MEMBACA
A Rose By Any Other Name
RomanceUjian untuk seorang Roseane Park, dia harus memilih persimpangan jalan yang rumit. Apakah Keluarga sederhananya atau nafsu yang bergejolak di dalam dirinya.
