Gosip

626 77 4
                                        

Jungkook memarkirkan mobilnya lalu ia keluar dan membukakan pintu untuk Rose.

"Apa kau selalu seperti ini pada gadis-gadismu sebelumnya ?" Jungkook menaikan satu alisnya setelah mendengar pertanyaan Rose.

"Aku tidak seperti yang orang-orang bilang." Jawab Jungkook.

"Jadi kau tau tentang gosip-gosip yang beredar tentangmu ?" Tanya Rose lagi.

"Aku tau, tapi aku tak punya waktu untuk memikirkan hal tak penting itu." Rose menganggukan kepalanya beberapa kalo. Lalu Jungkok melanjutkan.

"Banyak yang datang menawarkan tubuhnya, tetapi aku tak tertarik. Sayangnya aku hanya tertarik pada satu wanita, aku ingin memilikimya namun sayang ia telah menikah." Rose terkejut dengan penuturan Rose.

"Jadi siapa wanita itu ?" Tanya Rose penasaran.

"Tunggu sebentar." Jungkook tak menjawab. Terlihat Rose masih penasaran dan menunggu jawaban dari laki-laki itu.

Obrolan mereka terputus saat mereka sudah memasuki lobby motel, Jungkook terlihat memesan kamar pada penjaga motel ini untuk bermalam. Ditengah perjalanan tadi tiba-tiba Jungkook memutuskan untuk menginap, dia terlihat lelah.

Motel ini berada di tengah-tengah perbatasan antara kota Ravenhole dan Virginia. Tempatnya terbilang kecil tapi layak ditinggali. Hanya tersedia tujuh kamar disana, kebetulan kondisinya sekarang kosong. Mereka berdua terlihat memasuki kamar nomor lima.

"Aku terkejut kau mau menginap ditempat seperti ini, aku kira seorang Jungkook memilih-milih." Ujar Rose sambil meletakan tasnya.

"Seperti yang kubilang tadi, aku jauh berbeda dari yang orang-orang bilang." Jawab Jungkook, ia terlihat melepaskan baju putihnya.

Rose yang melihat itu menelan ludahnya dan cepat-cepat memalingkan wajahnya mencari sesuatu untuk menyibukan dirinya.

"Aku akan mandi." Ujar Jungkook.

"Baik, silahkan, ok." Ujar Rose gelagapan, ia dapat melihat dari ujung matanya Jungkook melangkah masuk menuju kamar mandi.

"Lama-lama aku bisa gila." Ujar Rose, ia terlihat duduk ditepi kasur dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya wajahnya merah.

Ia bingung kenapa semakin lama pikirannya semakin kotor saja. Padahal sebelumnya ia tak pernah membayangkan hal-hal seperti itu.

Saat asik dengan pikirannya, tiba-tiba dagu Rose terangkat. Seketika pandangannya beralih pada tubuh Jungkook, ia pun mencoba mengalihkan pandangannya tetapi ia tak bisa mengontrol pikirannya.

Terlihat buliran air masih menempel di badan tegasnya, pandangannya naik kearah atas. Rose melihat wajah Jungkook menatapnya dalam, ia seketika terpesona entah ini sudah yang keberapa kalinya. Tak lama ia tersadar saat air dari ujung rambut Jungkook menetes pelan diwajahnya.

"Bisa-bisa bibirmu akan hancur bila kau gigit seperti itu." Ujar Jungkook sambil mengelus lembut kedua bibir Rose dengan jempolnya. Lalu jemari lainnya mengusap-usap pipi memar Rose.

"Apa masih sakit ?" Tanya Jungkook pelan.

"Umm..tidak." Jawab Rose, ia mencoba menenangkan dadanya yang terus berdebar.

Jungkook tersenyum lalu ia mengecup pipi itu, tangannya mulai menggerayangi tubuh gadis itu, ciumannya turun ke leher jenjang Rose. Dibukanya kancing baju Rose satu persatu, setelah itu Jungkook melepas bra yang gadis itu kenakan. Tak menunggu waktu lama ia mulai bermain-main di area buah dada Rose. Menjilati dan mengulumnya kasar, Rose menikmati itu tubuhnya menggelinjang.

"Mmmhh...ahhh." Desah Rose tak tahan.

Tangan kanan Jungkook berpindah ke bagian bawah dan menyusup masuk kebagian kewanitaan Rose, dan mulai bermain-main disana.

"Ahhhnnn...ummmm." Rose mencoba fokus tetapi ia tak bisa melawan kenikmatan yang ia rasakan sekarang. Tanpa sadar sekarang ia sudah tak mengenakan sehelai kain. Jungkook pun menghentikan semua permainannya. Ia menatap Rose yang sekarang terlihat terengah-engah, tatapan matanya sayu. Jungkook pun menundukan badannya mensejajarkan wajahnya dengan kewanitaan Rose, tanpa perlua aba-aba ia mulai menjilati bagian itu.

"Ahhhh...mmmhh...." Desah Rose semakin tak karuan. Permainan Jungkook ini benar-benar membuat kepalanya akan meledak. Tak lama ia sudah tak tahan dengan serangan Jungkook.

"Ahh...a..aaku..mau keluar..mmhhh." Puncak Rose akan segera datang, tetapi tiba-tiba Jungkook menghentikan permainannya. Rose pun gelagapan terkejut. Lalu Jungkook membisikan sesuatu di telinganya.

"Mandilah."

Rose benar-benar seperti dihempaskan ketanah.

'Shittt...' Umpat Rose di dalam hati. Ia gagal mencapai pelepasannya. Tanpa sadar ia menggigit bibir bawahnya. Ia melihat Jungkook yang masih berdiri didepannya tersenyum puas. Kesal, Rose segera pergi masuk ke kamar mandi. Dibantingnya pintu kamar mandi keras.

***

Di langit Virginia lagi-lagi dipenuhi oleh hujan, tapi ada yang berbeda kali ini, kabut terlihat lebih tebal hawa dingin menusuk.

Di antara megahnya bagunan pria tua itu memilih duduk di tengah-tengah ruangan mendekat pada perapian. Ia terlihat masih bugar diumur lima puluh empat tahunnya. Rahangnya terlihat semakin tegas, kerutan diwajahnya menjadikan kenang-kenangan atas semua perjuangannya.

Lelaki tua itu sedang asik membaca sebuah buku, sampai ia berhenti saat mendengar ada yang memanggilnya.

"Dad." Ujar lelaki muda berambut hitam itu.

Pria tua itu pun bangkit dari duduknya, ia terdiam saat melihat orang yang memanggilnya.

"June.."

"Aku kembali Dad." Ujar June ia menghampiri dan memeluk ayahnya.

"Astaga mimpi apa aku semalam." Ujarnya Dad masih tak percaya.

Lalu mereka melanjutkan obrolan di dekat perapian.

"Bagaimana kabarmu Dad ?"

"Bisa kau lihat kerutan diwajahku semakin banyak."

"Kau masih terlihat keren Dad."

Dad pun tersenyum, sudah berapa lama ia sangat merindukan anaknya yang satu ini. Entah sudah berapa tahun ia berpisah.

"Apa kau akan tinggal disini lagi June ?" Tanya Dad, June terlihat mengangguk kecil. Dad pun tersenyum puas tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.

"Aku harus membangunkan ibumu." Ujar Dad semangat.

"Jangan Dad, biarkan saja."

"Baiklah." Ujar Dad lalu ia melanjutkan.

"Apa yang membawamu kembali kerumah ini lagi June ?"

"Sudah seharusnya kau istirahat Dad, kau sendiri yang bilang bila kerutanmu semakin banyak." Ujar June. Dad menaikan satu alisnya.

"Aku akan melanjutkan pekerjaanmu, biar aku yang menangani semua. Apa tidak masalah ?" Tawar June. Dad pun tak bisa berkata-kata lagi, ia hanya bisa tersenyum, ada rasa lega disudut matanya.

"Aku selalu menunggumu June. Kau harus." Ujar Dad.

"Terima kasih Dad." Ucap June, ayahnya tersenyum puas.

"Apa kau sudah bertemu dengan adikmu ?" Tanya Dad. June terlihat mengeras setelah mendengar pertanyaan dari ayahnya.

"Sudah."

"Lalu ?"

"Aku memukulnya." Jawab June. Dad pun terkejut, ia berfikir bila anak-anaknya sudah bisa bertegur sapa.

"Ah...maafkan aku June, semua ini salahku ?" Ujar Dad sambil memijit dahinya.

"Tidak, tidak Dad kau tak salah. Tapi kepala anak itu yang salah."

"Apakah hubungan kalian semakin memburuk?"

"Benar." Jawab June singkat lalu ia melanjutkan.

"kali ini Ia membawa lari istriku."

Ayahnya terdiam mendengar penuturan dari June.

"Istri.."

A Rose By Any Other NameCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang