Marah Besar

709 102 5
                                        

Terlihat seorang lelaki mengemudikan mobilnya dengan cepat. Tak lama ia memasuki sebuah parkiran di sebuah bangunan yang menjulang tinggi.

Ia melangkahkan kakinya tergesa-gesa terlihat raut mukanya yang khawatir. Saat ia memasuki gedung itu tiba-tiba ia menghentikan langkahnya di meja resepsionis. Lalu dengan respon cepat dan ramah salah satu resepsionis cantik itu bertanya padanya.

"Ada yang bisa saya bantu tuan?"

"Aku ingin bertemu Jungkook." Jawab laki-laki itu.

"Apakah anda sudah ada janji untuk bertemu dengan beliau ?" Tanya Resepsionis itu lagi.

"Bilang saja June, kuyakin dia akan mengerti."

"Baik saya akan memberitahu beliau terlebih dahulu." Setelah mengatakan itu, resepsionis cantik itu mengambil telpon yanga ada didekat, tak perlu waktu lama ia pun menutup sambungan itu.

"Baik tuan, anda bisa menuju ruangan beliau, dilantai dua belas." Ujar resepsionis itu ramah sambil menunjuk lift yang tak jauh dari mereka berdiri.

"Terima kasih." Ujar June singkat, lalu ia bergegas menuju lift. Ia menyilangkan kedua tangannya dan mengetuk-ketuk sepatunya dilantai. Ia terlihat tergesa-gesa, segera setelah pintu lift terbuka June melangkahkan kakinya keluar.

"Silahkan Tuan June, Tuan Jungkook sudah menunggu." Ujar wanita cantik sambil mempersilahkan June.

Lelaki itu hanya mengangguk dan segera menuju ruangan itu. Setelah ia masuk June dapat melihat Jungkook sudah menantinya bersender di meja kerjanya.

"Selamat datang Tuan June." Ujar Jungkook sesopan mungkin. June terlihat kesal dan bergerak menuju arah laki-laki itu dan mencengkram kerah baju Jungkook.

"Dimana Rose sekarang !?" Tanya June mengancam.

"Jadi karena itu kau datang kesini."

"Cepat katakan sialan !!" Kata June keras, Jungkook pun dengan kasar melepaskan cengkraman dikerah bajunya.

"Bukankah kau suaminya ?" Tanya Jungkook santai sambil melangkah menuju mini bar nya.

"Aku tau Rose bersamamu !!"

"Kau mau minum apa Tuan June ?" Jungkook amsih belum menjawab pertanyaan lelaki itu, June terlihat kesal.

"Aku tak butuh itu!! Cepat katakan bangsat !" Ujar June.

"Hmm...Dia sudah tak bekerja disini, sudah seminggu yang lalu ia mengundurkan diri." Jawab Jungkook sambil membawa segelas minuman ditangannya, ia menghampiri June.

"Omong kosong !!"

"Kurasa sikapmu masih belum berubah June, kau masih tempramental." Ujar Jungkook.

"Jangan berani menilaiku. Lihat saja dirimu sendiri."  Balas June.

Jungkook mulai terpancing emosi, sekarang giliran Jungkook yang mencengkram kerah baju June.

"Kau harusnya bersyukur aku tidak menghajarmu saat kau berani muncul didepan mataku lagi!" Ujar Jungkook emosi, terlihat matanya melotot seperti hampir keluar.

"Kau masih sama, tingkahmu seperti bocah!!" Balas June.

"Kau terlihat sama seperti ibumu pelacur itu !!!" Jungkook sudah tak bisa menahan emosinya.

June tersulut emosinya ia menarik tangan Jungkook lalu melayangkan satu tinjunya, telak mengenai pipi sebelah kanan Jungkook.

"Jangan berani kau hina ibuku seperti itu, aku kesini bukan untuk membahas soal itu !!" Ancam June, terlihat Jungkook mengusap darah di bibirnya. Ia mencoba menenangkan amarahnya yang sedang terbakar.

"Aku sempat terkejut, bukankah kalian sudah menikah, tetapi sepertinya Rose masih terlihat  awam masalah seks." Ujar Jungkook memprovokasi June, dan rencananya itu sukses, June terlihat semakin murka wajahnya sangat merah.

"Kauu!!! Berani kau sentuh dia, aku akan menghajarmu habis-habisan!!" Ancam June dengan nada tinggi.

Jungkook tertawa-tawa puas melihat reaksi June.

"Wahh... si anak haram ini berani sekali mengancamku." Sindir Jungkook sambil menepukan kedua tangannya.

June sudah tak tahan, ia memilih untuk menurunkan egonya dan meredam amarahnya.

"Kau akan menyesal bila menyakiti Rose." Ujar June lalu berbalik melangkahkan kakinya untuk pergi.

Setelah kepergian June, Jungkook terlihat sangat marah. Urat diwajahnya terlihat seperti mau keluar dari kulitnya. Ia sangat ingin melampiaskan amarahnya ini.

Saat melihat June, kepala Jungkook dipaksa untuk mengingat kenangan pahitnya dulu. Itu membuatnya sangat muak.

***

Rose terlihat sudah mulai terbiasa dengan rumah ini, di pagi hari ia akan berkutat di taman yang terletak di tengah-tengah rumah ini. Ia sangat mengangumi konsepnya, rumah minimalis dua tingkah semuanya tertata simple tetapi terlihat elegan.

Di siang harinya biasanya ia akan membantu Bibi Nay di dapur lalu setelah itu ia habiskan waktunya untuk membaca buku diperpustakan rumah ini, Rose sangat senang karena koleksi buku yang lengkap, bahkan yang langka terbatasbpun terpajang di rak buku perpustakaan ini. Ia juga menempatkan novel-novel yang ia bawa dari rumahnya di salah satu titik di rak tersebut.

Saat malam tiba tentu saja ia habiskan waktunya bersama pemilik rumah ini dan sekarang ia bebas berteriak bahkan sampai suaranya habis pun tak masalah, karena Bibi Nay telah memiliki kamar yang terpisah dari rumah ini. Rose menikmati kegiatannya dimalam hari, rasa yang ia cari selama ini akhirnya ia dapatkan, ia bahkan sudah bisa di katakan ketagihan. Munafik bila manusia tidak menyukai hubungan sex. terlebih Rose dengan setia menunggu permainan kasar dari pemilik tubuhnya sekarang, Katakanlah Rose sekarang tidak punya harga diri, ia tak perduli. Karena ia akan memperjuangkan harta satu-satunya yang ia miliki sekarang, yaitu adiknya. Asalkan ia bisa membuat adiknya sehat kembali itu sudah cukup.

Bahkan dia melupakan statusnya sebagai seorang istri orang lain, apakah Rose merasa bersalah, itu tergantung bagaimana dari sudut pandangnya dulu. Bila diambil dari sudut pandang norma di kehidupan kota ini, ia pasti akan dihujat habis-habisan. Tetapi bila dipandang dari sudut sebab akibat, apa yang ia lakukan murni karena buah hasil akibat dari perlakuan suaminya pada Rose.

Ia bahkan sudah memikirkan matang-matang untuk berpisah dari suaminya. Rose sempat bersitegang dengan pikirannya sendiri, ia sempat mengingat pesan dari ibunya untuk mempertahankan pernikahannya kelak bagaimanapun kondisinya. Tetapi setelah Rose rasakan itu terasa amat sangat menyakitkan. Sama seperti berjalan, bila satu kaki saja yang menumpu tubuh itu akan terasa berat sebelah dan lama kelamaan kaki yang menjadi tumpuan itu pun hancur.

Entahlah bagaimana kedepannya nasip Rose, ia tak begitu ambil pusing karena ia hanya akan selalu mengikuti alur kehidupan yang kejam di kota ini.

Lalu tak lama ia dikejutkan oleh suara pintu perpusatakan itu terbuka itu mengejutkan Rose. Dan menampilkan sosok pria dengan parasnaya yang rupawan.

"Eh..kau...Kau sudah pulang Jungkook."  Tetapi Jungkoo tetap berdiam tah bergumam.

Baru Rose sadari sorot tajam wajahnya dan, Tidak seperti Junkook pada biasanya, Sorot matanya terlihat menahan sebuah amarah yang sangat besar  Bibirnm lelaki itu terlihat sedikit terluka, ia seperti habis berkelahi baju yamg Jungkook kenakan terlihat kusut.

"Jungkook apa yamg terjadi pada dirimu? " Tanya Rose terlihat khawatir. Tak lama Jungkook dengan tiba-tiba menangkup wajah Rose, dilihatnya dalam mata Rose.

"Kau milikku Rose!!!"

*****

A Rose By Any Other NameCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang