Mengayuh

965 133 5
                                        

"Hei..Apakah aku lama ?"

"Tidak juga June."

"Naiklah." Ujar June sambil mengembangkan senyumnya lebar.

"Roger captain."

Dengan sepeda tua mereka menyusuri padatnya sore hari di kota Virginia, kota yang masuk didalam daftar kota elit di negara RavenCrawl, terletak di ujung bagian timur pulau.

Banyak perusahaan-perusahaan real estate berdiri disana tak heran bila kota ini mendapat julukan Money City. Selain itu kota ini juga dikenal dengan adanya komplek-komplek perumahan dari kalangan elit, seperti dokter, para pengusaha, petinggi pemerintah, artis, atlit dan lainnya.

"Bagaimana harimu Rose ?"

"Seperti biasa, semua pekerjaanku beres bahkan untuk dua hari kedepan." Jawab Rose sambil terkekeh.

"Wahh kau memang sangat rajin ya, aku bangga." Puji June bangga dengan istrinya.

Rose semakin mengencangkan pelukannya.

"Jangan memujiku, aku malu." Jawab Rose tersipu.

"Kau pantas mendapatkannya sayang."

Semakin mengayuh tak terasa pemandangan gedung-gedung besar semakin menghilang, berganti dengan rumah-rumah kecil sederhana dengan banyak pohon yang tumbuh rindang di pinggiran jalan. Menambah suasana teduh menenangkan, pemandangan yang begitu terbalik.

Terlihat beberapa rumah yang sederhana rapi, bersih dan tidak kumuh, enak untuk dijadikan tempat untuk menenangkan pikiran, di lingkungan inilah mereka berdua tinggal.

"Rose..."

"Iya.."

"Aku ingin menyampaikan sesuatu." Ujar June hati-hati.

"Apa itu ?" Rose sedikit penasaran karena nada bicara June terdengar serius.

"Aku butuh janjimu untuk tidak marah padaku."

"Hahh....cepat katakan June, aku tak suka digantung seperti ini!!" Jawab Rose kesal.

"Sorry Rosie, kau harus berjanji terlebih dahulu kekeke.." Goda June, ia tidak bisa membayangkan wajah Istrinya saat ini.

"Oke..oke..cepat katakan!!"

"Mulai besok sepertinya aku akan terlambat pulang, bahkan bisa saja tidur dikerjaan." Jelas June hati-hati.

Rose terkejut mendengar berita itu.

"Apa semua pekerja diwajibkan lembur June?" Tanya Rose.

"Iya Rose, perusahaan sedang mempercepat target pembangunan, lagipula pembangunan sudah memasuki tahap finishing."

Rose bimbang, ia sangat tidak ingin berpisah dari June terlalu lama disatu sisi ia juga tidak ingin mengusik pekerjaan suaminya itu, mau bagaimanapun June tetaplah pemimpin keluarga. Lama menimbang-nimbang akhirnya ia lebih memilih mengalah.

"Baiklah, itu memang sudah tugasmu June, aku mengerti." Ujar Rose sambil mengeratkan pelukannya.

"Maafkan aku Rose."

"Tak apa June, fokuslah mengayuh kekeke." Ujar Rose mencoba menenangkan June.

Tak lama June menghentikan kayuhannya dan Rose turun untuk membukakan pintu pagar kecil dari kayu, lalu suaminya menuntun sepeda dan diparkirkan rapi di area taman mungil rumah mereka.

*****

"Kudengar saat ini para artis sedang berebut untuk membeli rumah di komplek Navva Valley milik mu ?"

"Hmmm... Bukankah itu hal yang biasa ?"

"Aku tau, tapi kali ini benar-benar gila Jungkook."

"Haruskah aku terkejut ? Bukankah semua properti di kota Virginia ini delapan puluh lima persennya adalah milikku?" Ujar Jungkok, ia terlihat duduk di sofa empuk sambil membolak-balik majalah, tak memperdulikan lawan bicaranya.

"Ya...kau penguasanya, tapi kau belum mempunyai pendamping." Ujar temannya mengejek.

Jungkok mengalihkan pandangannya menatap ke sahabatnya itu.

"Apa hubungannya sialan !??" Kata Jungkok kesal.

"Ada!!" Jawab sahabatnya ngotot.

"Apa, jelaskan ?!" Jungkok meminta penjelasan tak kalah ngotot.

"Berarti kau tidak laku hahahahaha!!!" Ujar temannya sambil terpingkal-pingkal.

'Prakkk'

Majalah yang ia baca tadi mendarat tepat diwajah sahabatnya.

"Kau gila Luke!! Otakmu tak waras!!"

"Slow brother, aku sangat senang melihatmu marah." Ujar sahabatnya sambil menahan tawanya.

Pemandangan ini sering terjadi, seperti ayah mereka, Jungkook dan Luke adalah teman kecil yang tak bisa dipisahkan sangat dekat, saat menempuh pendidikan pun mereka bersekolah di sekolah yang sama. Tapi setelah lulus dari perguruan tinggi mereka akhirnya harus berpisah.

Berbeda dengan Jungkook, sahabatnya itu tinggal di kota Trinia yang bila dilihat dari map terlihat bersebelahan dengan kota Virginia, di kota Trinia Luke menguasai ekonomi kota dengan usaha minyaknya. Bila Jungkook tidak mau meneruskan tahta kepemimpinan perusahan keluarganya, Luke dengan setia menerimanya, karena ia tidak terlalu ambisius seperti Jungkook. Ia terlalu santai untuk seukuran pemilik perusahan besar.

"Aku akan menginap diapartemenmu." Ujar Luke.

"Kenapa kau tidak memilih apartemenmu sendiri, bukankah kau sudah kuberikan satu apartemen kelas atas hah !?"

"Ahhh Card nya hilang hahaha." Luke pun memasang wajah polos sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

"Aaghhhh, ini sudah yang keberapa kau menghilangkannya Luke."

"Bukankah kau tau aku jarang singgah kekota ini hehehe..."

Jungkook tak habis pikir bagaimana bisa ada manusia seperti Luke, parahnnya lagi ia adalah sahabatnya.

"Pergilah keapartemenmu, aku sudah memerintahkan bawahanku untuk mengurusnya."

"Wahhh kau ternyata perhatian padaku brother."

"Husshh...husshh sudah sana pergi."

"Baiklah, bye Jungkook keparat hahahaha."

Setelah kepergian sahabatnya apartemen megahnya itu menjadi sunyi. Jungkok berdiri di dinding kaca tebal yang menjadi pelindung gedung itu, ia melihat hiruk pikuk lalu-lintas yang terlihat masih padat dimalam hari dari atas.

Pikirannya melayang pada satu nama yang beberapa hari ini menempel lekat dikepalanya.

"Roseanne Park..."

Terhitung sudah tiga hari ini ia mengikuti salah satu pegawainya itu diam-diam, aktivitas yang sangat-sangat tidak biasa dilakukan oleh seorang Jeon Jungkook.

Saat mengikutinya ia sangat terkejut ternyata Rose telah memiliki seorang suami. Jungkook melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana suaminya mengantar dan menjemput karyawannya itu setiap hari.

"Aku menginginkanmu." Ujar Jungkook sambil menunjukan senyumnya.

*****

A Rose By Any Other NameCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang