Sepeda mereka telah mendarat tepat dipintu gerbang tempat Rose bekerja, mereka sedikit terlambat dari biasanya.
"Rose kau terlihat pucat apa kau sakit?" Tanya June memeriksa kening Rose.
Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"June kau akan terlambat." Ingat Rose.
"Ahhh...Baik Rose, kabari aku bila ada apa-apa,oke." Ujar June lalu ia segera mengayuh sepedanya.
Rose hanya melihat kepergian suaminya, dengan langkah lesu ia menuju gedung kantornya. Terlihat para karyawan lain sudah banyak yang berdatangan.
Mereka terlihat berbisik-bisik saat Rose melewati mereka, terlihat dari wajah mereka yang mencemooh.
Tetapi Rose tidak memperdulikan mereka, ia sudah terbiasa dengan itu. Sebenarnya Rose takut karena sudah tidak ada sosok sahabatnya yang melindunginya. Tetapi ia harus tetap tegar dan kuat.
"Selamat pagi Rose." Sapa pria tua yang tengah berdiri dipintu masuk gedung itu.
"Selamat pagi Hans." Balas Rose pada penjaga itu.
"Kau terlihat lesu sekali, tidak seperti biasanya. Apakah kau sakit Rose ?" Tanya orang itu sambil memeriksa Rose.
"Tidak Hans, aku tidak sakit, mungkin karena kurang tidur saja, aku menemukan novel yang menarik." Jawab Rose berbohong, lelaki tua itu menyipitkan matanya seperti tak percaya lalu kembali tersenyum.
"Kau harus kuat Rose. Kurangi tidur larutmu, oke?"
"Terima kasih Hans, Semangatt" Ujar Rose menggemaskan.
Lalu ia melangkah pergi, dilihatnya pintu lift akan segera tertutup ia pun segera berlari.
"Tunggu aku." Teriak Rose, tetapi mereka malah menertawai Rose dan dengan sengaja menekan tombol penutup.
'Ting.' Suara pintu lift tertutup.
"Ughh..Mereka menyebalkan." Gerutu Rose, ia berdiri menunggu lift turun. Dilihatnya sekitar sudah mulai kosong, hanya tersisa dua resepsionis cantik dan Hans yang masih berdiri diluar pintu gedung.
"Selamat pagi tuan.." Terdengar suara dua resepsionis itu menyapa seseorang.
Rose pun membalikan badannya dan terkejut saat melihat Jungkook sedang berjalan, terlihat senyumannya mengembang saat menyadari Rose ada di depannya.
Reflek Rose pun berlari kearah tangga darurat, ia mencoba menghindari lelaki itu. Dengan cepat ia berlari menaiki anak tangga itu.
"Kenapa..aarghhh sial sekali nasipku hari ini." Gerutu Rose, dengan bodohnya tanpa berfikir ia mengikuti reflek tubuhnya tadi. Hanya untuk menghindari seorang Jeon Jungkook ia sampai rela menaiki tangga setinggi dua belas lantai.
Langkahnya semakin pelan, Ia berjalan terseok-seok kelelahan, lalu ia melihat label nomor gedung, Rose berharap ia sudah mencapat lantai sepuluh tetapi faktanya ia baru mencapai lantai lima.
"Ahh..Bodoh hah..hah..hah..." Rose baru menyadari, kenapa ia tidak naik lift melalui lantai ini saja.
Rose pun mencoba beristirahat sebentar. Lalu setelah nafasnya tenang, ia memasuki lantai lima dan menggunakan lift.
Ia melirik jam di atas pintu lift.
"Syukurlah aku belum terlambat." Rose menyandarkan badannya disudut lift, hanya dirinya seorang yamg berada disitu.
Setelah sampai ditempat duduknya ia meluruskan badannya lalu tak lama ia mulai mengerjakan tugasnya.
***
Langit kota Virginia terlihat cerah, teriknya sinar matahari seakan menerobos setiap celah yang bisa ia telusuri. Terlihat beberapa pekerja bangunan sedang beristirahat di sisi bangunan megah yang hampir jadi itu.
"June, bekal apa yang dibuat istrimu hari ini?" Tanya seorang lelaki tua disebelahnya.
"Aku juga tidak tau, mari kita periksa."
Mereka heboh saat June membuka bekal makanannya. Telur, sayur dan banyak potongan daging panggang.
"Wah kau beruntung sekali memiliki istri seperti Rose." Mereka menggoda June.
"Hei kalian ayo coba ini." Teriak June memanggil teman-teman lainnya.
Seperti sudah jadi kebiasaan, mereka pasti akan saling berbagi, walaupun itu banyak atau sedikit.
Saat asik makan tiba-tiba datang seorang wanita cantik menggunakan setelan proyek, dan membawa beberapa gulungan blueprint bangunan itu. Lalu salah satu teman June menyenggolnya.
"Hei June, Nona Project Manager datang lagi." Ujar salah satu temannya.
"Dia tak kenal menyerah." Ujar salah satu temannya lagi.
June tak menggubrisnya, ia hanya asik dengan makanannya.
Lalu setelah gadis itu berdiri dihadapan mereka, dengan sopan mereka mengucapkan salam pada gadis itu.
"Maaf menggangu makan kalian." Ujar gadis cantik itu.
"Ah...santai saja nona, apa kau mau ikut makan ?" Tanya salah satu dari mereka.
"Ahh, terima kasih kebetulan saya tidak makan siang." Jawab gadis itu. Lalu ia menoleh pada seorang laki-laki yang ia kenal.
"June setelah makanmu selesai, bisakah kau ikut aku sebentar, ada sesuatu yang harus aku bicarakan." Tukas gadis cantik itu.
June hanya mengangguk, lalu meletakan piringanya.
"Baik Nona." Lalu ia menoleh pada teman-temannya.
"Hei..habiskan itu jangan sampai ada yang tersisa." Ujar June sambil mengedipkan matanya.
"Tak usah kau suruh kami pasti menghabiskan makanan enak ini, husss sana sana." Celetuk salah satu temannya.
June pun tersenyum, lalu gadis itu berpamitan. Setelah mereka berdua menjauh, teman-teman June pun mulai berbisik-bisik.
"Aku kasihan pada nona itu, dia baik, cantik dan mandiri." Celetuk salah satu dari mereka.
"Kudengar mereka pernah menjalin kasih saat masih menginjak bangku sekolah menengah."
"Yahh..tapi sayang, June sudah melabuhkan hatinya untuk Rose."
"Hei..apa kalian tau bila June sepertinya masih ada rasa pada Nona manager itu."
"Aku tidak ikut campur soal itu, lebih baik aku makan saja makanan ini."
"Hei...jangan kau habiskan sialan."
Begitulah setiap harunya suasana kerja June, dipenuhi oleh orang-orang yang bersemangat dan berisik.
"Apa yang kau inginkan nona ?" Tanya June pada gadis itu.
"Bisakah kau tidak memanggilku seperti itu June. Kita hanya berdua." Balas gadis itu kesal.
"Ahhh..Aku hanya bercanda Hanny. Jadi apa yang bisa kubantu tuan putri ?"
"Kau bercanda lagi." Ujar gadis itu malu.
"Itu tidak bercanda."
"Baiklah, temani aku mencari hadiah untuk ibuku." Pintanya.
"Bibi ? Hadiah untuk apa ?" Tanya June penasaran.
"Hari ini adalah hari ulang tahunnya, bisakah kau membantuku memilihkan hadiah untuknya."
"Itu tawaran yang susah untuk kutolak." Jawab June, lalu ia melanjutkan. "Tapi setidaknya biarkan aku mengganti bajuku dulu."
"Baiklah." Ujar gadis itu disertai senyuman manis.
*****
KAMU SEDANG MEMBACA
A Rose By Any Other Name
RomansaUjian untuk seorang Roseane Park, dia harus memilih persimpangan jalan yang rumit. Apakah Keluarga sederhananya atau nafsu yang bergejolak di dalam dirinya.
