BAB 18 (Usai penyerangan)

1.4K 143 1
                                        

Hay maaf ya baru update kemarin lagi banyak kerjaan jadi nggak sempat untuk update.
Jadi untuk mengobati rindu langsung ajah di baca ya!!!!

Happy Reading!!!
.
.
.

Kini di depan markas theos ada Vivi yang sedari tadi melamun. Dia masih shock dengan kejadian barusan. Dia duduk di depan markas dengan di temani oleh seorang anggota theos sementara yang lainnya berada di ruangan yang berbeda.

"Hey obatin leher Lo tuh" ucap Danu anggota theos yang menemani Vivi namun Vivi hanya diam sajah.

Sementara gerald yang ingin segera pulang terhenti ketika melihat Vivi yang masih berada di depan markas theos. Gerald melihat Vivi yang melamun dan tak mengobati lukanya.

"Hah" helaan nafas gerald sebelum dia kembali masuk lagi ke dalam.

"Eh kenapa balik lagi?" Tanya aarav yang sedang mengobati lukanya sendiri.

"Minjem" ucap gerald sambil merampas kotak P3k yang sedang di pegang aarav dan langsung pergi keluar.

"Gua belum selesai Woy" kesal arrav. 

Setelah mengambil p3k kemudian gerald langsung menghampiri Vivi dan duduk di sebelahnya. Danu yang melihatnya kemudian bangkit dan masuk ke dalam markas.

"Obatin" ucap gerald sambil menaru kotak obat tersebut di pangkuan Vivi yang membuat Vivi tersentak dan langsung menghadap ke gerald.

"Hah! Apa?" kaget Vivi linglung.

"Ck obatin leher lo" ucap gerald.

"Ah i iya" gugup vivi.
Setelahnya vivi membuka kotak obat tersebut dan langsung mengobati luka di lehernya dengan asal karena dia tak dapat melihatnya. Gerald yang melihatnya vivi sedang mengobati lukanya dengan asal langsung mengambil kapas yang di pegang vivi dan mulai mengobati vivi dengan telaten.

Vivi yang di perlakukan seperti itu mematung karena jarak di antara mereka benar-benar dekat seperti author dan readers 😉.

Posisinya gerald menunduk melihat ke arah leher Vivi dengan tangan yang terus mengobatinya dan Vivi sedikit mendongak.

Glekk

"Oh Shit" batin gerald berteriak ketika perhatiannya teralihkan ke bibir indah Vivi saat matanya tidak sengaja melihat ke arah dagu dan berhenti di bibir ranum vivi. Biar bagaimanapun dia juga seorang pria normal. Di tambah lagi dia tidak pernah memperhatikan Vivi seintens ini biasanya dia hanya mengacuhkan ya.

"Ekhem" deheman seseorang membuat gerald terkejut dan langsung menjauhkan wajahnya.

"Kalau mau mau mesra-mesraan jangan di depan markas dong, Pamali nanti di gerebek warga gimana?" celetuk adam ketika dia dan anggota inti lainnya ingin pulang namun ketika sampai di depan markas mereka melihat gerald yang sedang berduaan dengan Vivi.

"Ck bacot!" Ucap gerald menatap tajam adam dan setelahnya menggandeng Vivi untuk di antar pulang.

"Ceilah babang gerald maen gandeng ajah" goda adam.

"Ekhem es mulai mencair sepertinya" goda aarav.

Gerald tak mengabaikannya dan langsung menaiki motornya dengan Vivi yang berada di boncengannya setelahnya langsung melajukan motornya.

"Hahah, gue nggak nyangka bisa luluh juga tuh si es" ucap adam.

"Udah biarin itu urusan dia, mending sekarang kita balik" ucap lio dan di iyakan oleh yang lain.

***

Saat ini zea sudah berada di kamarnya, beruntungnya pas dia mau memasuki rumah anggota Erick sudah tidak ada di sekitar rumahnya, jadinya dia bisa masuk tanpa ketahuan.

Aubrey Or ZeaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang