Haechan dan Lukanya

188 17 0
                                        

"Yaudah Nat, lo istirahat aja. Kita balik dulu ya." Ujar Haechan pada Nata.

"Kak Nata cepet sembuh ya. Maaf aku ga bisa bawain apa-apa buat kakak." Ujar Ryunjin tulus.

Nata pun tersenyum mendengar itu. "Iya ga papa. Kalian dateng aja gue udah seneng kok. Makasih ya..."

"Hmmm... kita cabut ya. Ntar malem kalau ada waktu, gue bakalan dateng lagi." Nata pun mengangguki ucapan Haechan.

Haechan dan Ryunjin pun mulai pergi meninggalkan Nata sendiri di kamarnya. Mereka berdua berjalan beriringan menuju lift.

"Kamu pulang naik apa? Mau aku anter?" 

Dengan cepat Ryunjin menggelengkan kepalanya tanda menolak. "Ga usah kak. Aku bisa naik taksi kok."

Haechan pun mengangguk. "Ohh... oke kalau gitu."

Suasana di dalam lift saat ini cukup hening. Baik Haechan maupun Ryunjin kini sama-sama sibuk berkutat dengan pikirannya masing-masing.

'Ting!' Pintu lift pun terbuka menandakan mereka sudah tiba di lantai dasar.

Mereka pun keluar dari dalam lift dan menuju pintu keluar rumah sakit. Namun saat sudah dekat dengan pintu keluar, Ryunjin menahan tangan Haechan dan membuat lelaki itu berhenti melangkah dan menatap Ryunjin dengan tatapan bingung.

"Kak Haechan... masih ada waktu?" Tanya gadis itu ragu.

Haechan pun menatap sekilas jam yang melingkar di tangan kirinya. "Masih sih. Tapi ga banyak. Kenapa?"

"Ada yang mau aku obrolin sama kakak."

Haechan diam. Lelaki itu terlihat menimang permintaan mantan kekasihnya ini hingga akhirnya lelaki itu menganggukkan kepalanya tanda setuju.

"Kita ngobrol di cafeteria aja."

...

Haechan dan Ryunjin kini duduk berhadapan dengan dua gelas kopi yang berada di hadapan mereka ikut menemani.
Haechan masih menatap Ryunjin, sedangkan yang ditatap sibuk memainkan jari-jarinya di bawah meja sana.

"Kamu mau ngomongin apa?" Suara Haechan yang sangat halus itu mampu menginterupsi Ryunjin untuk menatap mata legam itu.

Tatapan mata itu, adalah tatapan mata yang selalu Haechan berikan kepada Ryunjin. Tatapan mata hangat yang selalu membuat Ryunjin tersenyum setiap kali gadis itu melihatnya. Dan tatapan itu tak pernah berubah, dari 8 tahun yang lalu, saat mereka pertama kali bertemu.

Ryunjin menarik nafasnya dalam sebelum mulai berbicara. "Maaf..."

Haechan diam. Lelaki itu masih menatap Ryunjin menunggu gadis itu menyelesaikan ucapannya.

"Maafin aku atas kejadian 2 tahun yang lalu."

Haechan tersenyum. Dari awal dirinya mengetahui bahwa Ryunjin berselingkuh dengan Hyunjin 2 tahun yang lalu, dirinya tak pernah marah kepada Ryunjin. Hal itu justru yang membuat Ryunjin semakin merasa bersalah kepada Haechan.

"Semua sudah berlalu Ryu."

"Tapi lukanya masih ada kan kak?" Haechan terdiam.

"Walaupun waktu udah berlalu, rasanya tetap menyakitkan. Kakak pura-pura udah ngelupain, tapi di dalam hati kak Haechan paling dalam masih nyimpen luka itu kan kak?"

"Kak Haechan berhak marah sama aku. Kenapa kak Haechan selalu sembunyi dibalik senyuman yang selalu kakak kasih ke aku? Kenapa?"

Hello My Last...Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang