Jiwa yang Mati

391 26 0
                                        

Sudah pukul 11 malam dan Jeno baru saja selesai dengan pekerjaannya di rumah sakit. Lelaki itu lantas memutuskan untuk mampir ke apartemen Haechan untuk sekedar ngobrol dan minum bersama. Sudah lama dirinya tak bertemu dengan sahabat kecilnya itu. Jujur saja, malam ini entah mengapa Jeno merasa rindu kepada kehidupannya saat dirinya masih remaja.

Jeno pun kini sudah berada di depan unit apartemen Haechan. Lelaki itu memencet bel apartemen Haechan dengan tangan yang membawa sekantung kresek penuh dengan minuman kaleng.

'Ding dong... Ding dong...'

Tak lama, pintu apartmen Haechan pun terbuka dan menampilkan sosok berkulit tan dengan kaos oversize beserta celana pendek favorite nya itu.

"Lo ngapain malem-malem ke apart gue?" Tanya Haechan bingung saat mendapati Jeno berada di hadapannya sekarang.

Jeno pun mengangkat kresek belanjaan nya. "Minum kita..."

Tanpa perlu izin, Jeno pun langsung menyelonong masuk ke dalam apartemen Haechan. Lelaki itu mendudukan dirinya di sofa ruang tengah Haechan sambil mengeluarkan beberapa minuman kaleng dari kantong kresek.

"Lo mau mabok pake cola Jen?" Ujar Haechan kaget saat dirinya mendapati belanjaan Jeno semuanya adalah Coca-Cola, bukannya beer seperti biasanya.

"Anggep aja ini beer... lagian kita juga ga bisa mabuk-mabukan kan sekarang?"

Haechan pun menghela nafasnya panjang dan akhirnya ikut mendudukan dirinya di samping Jeno. "Kenapa lo? Pasti gara-gara Nata kan?"

Jeno menegak minumannya lalu merebahkan tubuhnya di punggung sofa. "Ketebak banget ya?"

Haechan terkekeh. "Kenapa lagi emang kalian?"

Jeno sempat menghela nafasnya berat sambil menatap minumannya dengan pandangan sendu. "Dia mutusin buat berhenti Chan. Dia mau kita balik jadi temen biasa. Tanpa ada perasaan."

Haechan sempat terkejut mendegar penuturan Jeno barusan. Selama ini dirinya memang tahu bahwa Nata dan Jeno selalu terlibat pertengkaran, namun itu adalah hal biasa. Tetapi kali ini, dirinya benar-benar tak menyangka bahwa kedua sahabatnya itu berada di pertengkaran yang hebat.

"Kok bisa? Pasti lo bikin dia marah kan? Ga mungkin Nata tiba-tiba kayak gitu tanpa sebab."

Lagi dan lagi, Jeno menghela nafasnya berat. Ia sadar bahwa apa yang diucapkan Haechan benar. Semua ini adalah kesalahannya.

"Jujur sama gue, lo apain Nata hmm?"

"Gue ga apa-apain Dia Chan..."

"Terus?"

Jeno sempat meremat kaleng minumannya sebelum kembali berbicara. "Dia mau punya status yang serius Chan. Beberapa kali dia selalu nyinggung soal pernikahan. Gue ga bisa, gue belum siap."

Haechan terdiam. Ia masih menunggu Jeno melanjutkan ucapannya.

"Gue belum mau punya hubungan yang kayak gitu Chan. Apalagi kita berdua masih muda, belum lagi karir kita yang sekarang lagi sibuk-sibuknya. Lo juga tau kan si Nata pemikirannya masih anak-anak banget. Gue takut kalau kita nikah terus berantem, dia bakalan ngelakuin hal-hal yang engga-engga. Contohnya kayak sekarang." Jelas Jeno sambil memijit pelipisnya.

Haechan mengambil satu kaleng Cola dan menegak isinya. "Gue ga salahin Nata sih kalau dia akhirnya pergi."

Jeno pun sontak menatap Haechan tajam.

"Jen dengerin gue. Menurut gue,  keputusan Nata yang akhirnya ngelepasin lo adalah keputusan yang sangat dewasa. Gimanapun juga Nata itu cewek, dia ga bisa terus-terusan ada dihubungan yang ga jelas kayak kalian."

Hello My Last...Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang