Sudah terhitung dua hari mereka berada di pulau Jeju untuk berlibur. Dan besok, adalah hari terakhir mereka untuk menikmati udara bersih dari pulau ini. Liburan singkat ini akan ditutup dengan tujuan awal mereka datang kesini, yakni membantu Jeno melamar Nata.
Untuk memastikan bahwa besok semua rencana berjalan dengan lancar, maka Jeno memutuskan untuk membuat rapat dadakan dikamar nya yang dihadiri oleh Haechan, Giselle, Renjun, Ningning dan Chenle. Sedangkan Jake dan Karina saat ini membawa Nata ke pusat perbelanjaan oleh-oleh. Mereka sengaja membawa Nata pergi agar Jeno dan yang lainnya bisa membahas rencana besok tanpa takut ketahuan.
"Oke, cincin aman kan?" Ujar Giselle membacakan list catatan nya kepada Jeno.
Jeno terlihat meraba saku celananya, lalu berpindah ke dalam tas nya. "Aman aman."
"Oke, cincin aman. Terus bunga?"
"Bunga.... aduh, gue lupa lagi." Ujar Jeno sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Nitip Jake sama Karina ga bisa apa?" Usul Haechan.
"Lo gimana sih Chan. Kalau nitip mereka otomatis Nata tau lah!" Ujar Chenle geram.
"Aduh gimana dong... gue belum nyiapin bunga nih." Kini Jeno terlihat panik.
Ningning yang sejak tadi berpikir itu pun mengangkat telunjuknya. "Ningning punya ide."
"Ide apaan? Jangan ngadi-ngadi lo." Ujar Haechan pesimis akan ide Ningning.
"Ishh dengerin dulu. Jadi gini, gimana kalau besok Kak Nata mobil nya dipisah aja sama kak Jeno. Jadi besok kak Jeno punya waktu dulu buat beli bunganya. Kebetulan tadi Ningning nemu toko bunga di daerah sini. Gimana?"
"Boleh tuh."
"Iya boleh."
"Oke gue setuju. Bagus Ning, pertahankan kecerdasan lo itu." Ujar Jeno sambil memberikan jempolnya kepada Ningning.
"Oke lanjut. Cincin udah, masalah bunga juga udah, terus tempat. Lo jadi ngelamar Nata di pantai Jen?"
Dengan cepat Jeno mengangguk. "Iya jadi. Sesuai rencana, kalian bawa Nata pergi ke atas tebing waktu matahari terbenam. Nanti dibawah sana, gue, Haechan sama Jake bakalan nyiapin ukiran pasir 'will you mary me' terus dikasih bunga sama lilin. Disitu gue bakalan lamar Nata."
"Aaaa... so sweet bangetttt..." ujar Ningning sambil memegangi pipinya.
"Emang kemarin si Chenle waktu lamar lo ga romantis Ning?" Tanya Renjun.
"Gue lamar Ningning dikamar mandi sih. Waktu dia nunjukkin hasil test pack nya." Ujar Chenle dengan senyum pepsodent nya.
Jeno, Haechan, Giselle dan Renjun pun hanya bisa menghembuskan nafas mereka berat mendegar penuturan Chenle itu.
"Oke, berarti besok tinggal eksekusi nya aja ya?" Tanya Haechan.
"Iya. Gue bener-bener minta bantuan kalian ya. Sumpah, jantung gue rasanya kayak mau copot nih." Ujar Jeno sambil memegangi bagian dadanya.
"Gila sih... gue salut sama lo Jen. Semangat!!!" Ujar Haechan sambil menepuk pundak Jeno.
🍓🍓🍓
Setelah melakukan rapat dadakan. Haechan dan Renjun pun memutuskan untuk beristirahat di dalam kamar. Dalam satu ranjang berukuran sedang itu, mereka mencoba untuk tertidur.
"Njun." Panggil Haechan tiba-tiba.
"Hmm..." Renjun masih setia memejamkan matanya tanpa perlu repot menatap lawan bicaranya itu.
"Lo ga papa, Jeno ngelamar Nata?"
Renjun diam. Lelaki itu masih menutup matanya.
"Dari kemaren sejak Jeno ngomong mau ngelamar Nata, yang ada dipikiran gue cuma lo Njun. Lo beneran gapapa?"
Perlahan Renjun mulai membuka matanya. Lelaki itu kini menatap cahaya lampu yang tidak terlalu terang itu. "Gue gapapa kok. Lagi pula gue bisa apa?"
"Njun..."
"Gue emang suka sama Nata. Semua orang juga kayaknya tau itu. Tapi gue bisa apa Chan? Gue mampu bersaing sama banyak laki-laki yang suka sama Nata. Tapi gue ga akan mampu bersaing sama laki-laki yang Nata suka. Gue terus suka sama seseorang meskipun ga ada jaminan perasaan gue bakalan terbalas. Dan ini resiko nya. Gue harus terima."
"Dari awal posisi gue selau telat Chan. Jeno yang lebih dulu kenal sama Nata. Dan Jeno juga yang lebih dulu berhasil ngambil hati Nata. Gue? Bahkan buat jadi yang pertama ngucapin ulang tahun aja gue ga bisa Chan. Gue selalu kalah."
Renjun kemudian menarik nafasnya panjang sambil kembali memejamkan matanya. Dadanya kini kembali terasa sesak. Rasa senang sekaligus sedih bercampur menjadi satu.
Haechan yang mengerti bagaimana perasaan Renjun saat ini pun tak bisa berbuat apa-apa. Ia tahu betul, bagaimana rasanya merelakan seseorang yang ia sayang bukanlah hal yang mudah. Ingin marah, tapi tak bisa. Ingin menangis juga buat apa? Membiarkan rasa sakit itu berbaur dengan hari-harinya hingga akhirnya terbiasa dan melupa.
Di lain tempat, Jeno dan Jake kini sedang mengepulkan asap rokok mereka sambil menikmati udara dingin yang menerpa kulit mereka. Kedua lelaki itu kini sedang berada di teras depan villa untuk sekedar berbincang.
"Kalo Nata nolak lo gimana?"
"Ga ada alasan dia nolak gue."
Jake berdecak pelan. "Ga ada yang tau isi hati perempuan Jen. Mau taruhan sama gue?"
Jeno ternganga mendegar penuturan kakak tiri Nata itu. "Wah... lo tuh bener-bener ya. Udah bagus gue masih baik-baikin lo ya."
"Hahahahah... canda gue Jen. Sensi amat sih. Tapi pertanyaan gue tadi serius, kalau Nata akhirnya nolak lo gimana?"
Kini Jeno terdiam. Pertanyaan Jake itu sukses membuat pikiran Jeno kembali runyam. Fakta bahwa dirinya pernah ditolak oleh Nata kembali membuat nyalinya menciut. Ia tak mau kejadian 6 tahun yang lalu terjadi lagi dan membuat hatinya kembali hancur.
"Emangnya ada kemungkinan ya Nata bakalan nolak gue? Perasaan tuh anak udah bucin banget deh sama gue." Jake terkekeh mendegar itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello My Last...
FanfictionSequel dari Bye My First... Jeno pernah bertanya pada Nata, apakah setelah dewasa nanti, mereka akan lebih sering menangis dan terluka? Sebuah pertanyaan yang dulu dilontarkan oleh seorang remaja berusia 18 tahun itu pada akhirnya mendapatkan jawab...
