Jatuh Cinta Sendirian

140 16 0
                                        

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. 6 bulan sudah Jeno dan Nata menjalani kehidupan sebagai sepasang kekasih. Tak banyak yang berubah, mereka masih saja sering bertengkar seperti saat mereka SMA dulu. Jeno dengan sifat dingin namun diam-diam perhatian, sedangkan Nata dengan sifat ceria dan menyebalkan nya.

Renjun juga sudah kembali dari Jepang dan saat ini, lelaki itu tengah fokus membuat project besar bersama beberapa seniman Korea yang lain. Tak ingin melewatkan momen saat seluruh temannya sedang berada di Korea, Jeno pun berinisiatif untuk mengumpulkan seluruh teman-temannya, kecuali Nata dan juga ikut mengajak Jake untuk bertemu di Cafe milik ayah Jisung seperti saat ini.

"Lo tumben banget Jen ngajak kita kumpul tapi ga ngajak Nata, malah ngajak si Jake lagi?" Ujar Haechan bingung sebelum mulai meminum minumannya.

"Tauk nih, tumben banget. Ada apaan sih?" Kini Karina ikut bertanya.

Jeno yang baru saja menyeruput kopi nya itu pun mencoba menarik nafas dalam sebelum memulai untuk berbicara. "Gue mau ngelamar Nata."

'BSSSTTTT' cipratan air dari mulut Haechan sukses membasahi wajah Jeno yang saat ini sedang duduk di hadapannya.

Semua terdiam. Sungguh, mereka kini benar-benar terkejut dengan ucapan Jeno barusan. Jeno yang pasrah karena ulah Haechan itu pun hanya bisa memejamkan matanya sambil mencoba membersihkan wajahnya menggunakan tissue.

"Tujuan gue ngumpulin kalian semua disini adalah..., gue mau minta tolong sama kalian semua buat bantu gue bikin kejutan lamaran buat Nata." Lanjut Jeno setelah membersihkan wajahnya.

"Woww... gue masih speechless... but, gue dukung lo bro." Ujar Chenle sambil menepuk pundak Jeno.

"Oke, terus... rencananya lo mau lamar dia dimana?" Tanya Giselle.

"Jeju. Gue mau lamar Nata di pulau Jeju."

Lagi dan lagi, ucapan Jeno itu sukses membuat teman-temannya terkejut.

"Wahhh... parah lo Jen. Bisa-bisanya lo mikirin ini tanpa ngomong dulu sama gue. Lo lupa apa yang dari dulu jadi tempat curhat lo siapa?" Ujar Haechan sambil menatap Jeno sebal.

Yang ditatap itu pun hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala. Jeno pun kemudian mengalihkan pandangannya untuk menatap Jake. "Gue harap lo juga ikut. Dampingi gue buat ngelamar adek lo."

Dengan ragu Jake menganggukkan kepalanya. Lelaki itu kemudian terlihat sedikit menyungingkan sebuah senyuman yang sengaja ia berikan untuk Jeno. "Hmm... gue ikut. Gue mau pastiin pake mata kepala gue sendiri kalau Nata bakalan nolak lo."

Sontak saja, Karina yang saat ini duduk di sebelah Jake itu pun menyenggol lengan sang kakekasih dengan sedikit keras. Jeno pun hanya bisa tersenyum. Ia tahu bahwa kakak tiri Nata ini tidak bermaksud seperti itu.

Sedangkan Renjun, lelaki itu sejak tadi hanya diam tanpa mau mengatakan sepatah katapun kepada Jeno. Renjun hanya diam sambil menatap lekat gelas minumannya. Fakta bahwa ia akan benar-benar kehilangan sosok Nata sukses membuat hatinya kembali terluka. Sungguh, Renjun tak pernah mengira bahwa rasa sakit di hatinya akan semenyiksa ini.

Renjun sendiri sedari awal sudah tau akan rencana Jeno ini. Hal itu lantaran sebelum Jeno mengumpulkan teman-temannya hari ini, lelaki itu sudah terlebih dahulu bertemu dengan Renjun.

*Flashback*

Malam itu, Renjun yang baru saja mengunci galerinya itu mendapatkan notif pesan dari ponsel nya yang ia letakkan di saku jaket denim biru nya itu. Dahinya sedikit menampakkan kerutan saat nama 'Jeno' terpampang jelas di layar ponsel nya. Jujur, Renjun dan Jeno sendiri jarang sekali berhubungan melalui pesan seperti ini. Mereka berdua sejak dulu jarang sekali memperlihatkan interaksi salain bersama anak-anak yang lain.

Hello My Last...Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang