Malam ini, Jeno mendatangi sebuah restoran Italia untuk bertemu janji dengan seseorang. Kebetulan, malam ini dirinya tak memiliki jadwal jaga di rumah sakit, sehingga dirinya kini bisa bertemu dengan orang yang sudah lama tak Jeno jumpai.
Jeno mulai memasuki restoran dan mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok gadis yang memintanya untuk datang. Matanya terus menyipit mencari sosok itu hingga tiba-tiba,
"Kak Jeno!" Panggil seorang gadis yang nampak tak asing tengah duduk di meja paling ujung.
Jeno pun segera melangkahkan kakinya menuju tempat gadis itu berada sambil terus memberikan senyuman yang membuat mata sipitnya menghilang.
"Kak Jeno..." gadis itu memeluk Jeno erat saat Jeno sudah berdiri di hadapannya.
"Lo apa kabar? Mama sehat?"
"Baik kak. Mama juga sehat." Ujar gadis itu dengan senyuman yang tak kalah indahnya dengan wajahnya.
Mereka pun akhirnya duduk dengan posisi saling berhadapan. "Ada apaan nih? Kok tumben lo ngajak gue ketemuan? Mana di tempat gini lagi, hahaha..."
Jujur, Jeno sendiri sempat bingung saat Winter secara tiba-tiba menghubunginya lagi setelah sekian lama, dan mengundangnya untuk makan malam bersama di restoran mewah seperti ini.
Ya, orang yang ditemui Jeno malam ini adalah Winter, adik mendiang sahabatnya, Jaemin.
"Aku mau ngenalin calon pacar aku ke kakak." Ujar Winter dengan semangat.
"Eoh?" Jeno sendiri kini cukup terkejut dengan penuturan gadis itu.
"Setelah kak Jaemin ga ada, selama ini kak Jeno yang gantiin posisi dia buat jadi kakak aku. So... aku mau minta pendapat kak Jeno tentang laki-laki yang mau aku kenalin nanti. Aku mau minta pendapat dan restu kak Jeno sebagai kakak aku. Kak Jeno mau kan?"
Jeno tersenyum. Lelaki itu kemudian menganggukkan kepalanya. "Iya. Tapi kalau gue nanti ga setuju, lo ga boleh pacaran sama tuh cowok ya. Awas aja sampe gue tau lo diem-diem pacaran sama tuh cowok." Ujar Jeno diakhiri kekehan.
Tak lama setelah itu, datanglah seorang lelaki yang menggunakan setelan rapi datang menghampiri meja Winter dan Jeno.
"Maaf gue telat." Ujar lelaki itu saat sudah berada di hadapan Winter.
"Eoh Sunoo..." Winter pun segera bangkit dari duduknya dan menyambut kedatangan lelaki itu.
"Sunoo kenalin, ini kak Jeno, kakak aku." Ujar Winter memperkenalkan Jeno kepada teman lelaki nya itu.
"Jeno, Lee Jeno. "
"Sunoo, Kim Sunoo." Mereka pun bersalaman. Setelah berkenalan, mereka bertiga akhirnya duduk dengan Winter dan Sunoo yang duduk bersebelahan, sedangkan Jeno duduk tepat di hadapan Sunoo.
"Jadi lo yang mau macarin adek gue" Winter membulatkan matanya sempurna saat mendapati Jeno ternyata benar-benar memerankan perannya sebagai seorang kakak.
"Eoh... i-iya kak." Sunoo sendiri kini mulai nampak gugup.
"Kenal Winter dari mana?" Jeno kini benar-benar bersikap dingin dihadapan Sunoo, berbeda sekali saat dirinya hanya berdua dengan Winter saja seperti tadi.
Melihat Sunoo yang nampak keringat dingin membuat Winter tak tega. Gadis itu kemudian mencoba mencairkan suasana dengan memanggil pelayan untuk memesan makan malam.
"Ee... pelayan..." ujar Winter sambil mengangkat sebelah tangannya agar salah satu pelayan restoran datang menghampiri.
"Kita pesen makan dulu ya. Udah laper banget nih... hehe..." ujar Winter dengan nyengir kuda.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello My Last...
FanfictionSequel dari Bye My First... Jeno pernah bertanya pada Nata, apakah setelah dewasa nanti, mereka akan lebih sering menangis dan terluka? Sebuah pertanyaan yang dulu dilontarkan oleh seorang remaja berusia 18 tahun itu pada akhirnya mendapatkan jawab...
