Haechan baru saja tiba di kantor polisi. Dengan cepat, lelaki itu segera memasuki ruangannya yang ternyata sudah ada rekan-rekan kerjanya yang lain.
"Kapten!" Sapa salah satu bawahannya.
"Gimana? Kapan kita segera nangkep dia?" Tanya Haechan.
"Sebentar pak, ini kita masih nunggu surat penangkapan dari atasan." Jawab salah satu rekan kerja Haechan.
Tak selang beberapa lama, datanglah seorang gadis yang kini nampak sangat bahagia.
"Gimana-gimana? Gue boleh ikut kan?" Tanya Giselle yang langsung ikut menggerumbul dengan detektif yang lain.
"Pak?" Salah satu bawahan Haechan meminta pendapat kepada Haechan.
Mengerti akan hal itu, dengan cepat Haechan pun mengangguk. "Saya yang tadi menghubungi Giselle. Kali ini biarin dia ikut sama kita."
"Heh! Lo nanti disana jangan buat masalah ya! Awas aja lo!" Lanjut Haechan yang mendapatkan anggukan dari Giselle.
Detektif yang bertugas meminta surat izin penangkapan itu pun akhirnya tiba. "Dapet!" Ujar lelaki itu.
"Yaudah, ayo langsung berangkat aja. Nanti saya baca berkasnya dimobil aja. Sel, lo gabung mobil kita aja." Ujar Haechan.
Mereka pun langsung bergegas menuju parkiran dan memasuki mobil van milik kepolisian. Haechan sendiri kini duduk di bangku tengah sedangkan Giselle duduk di bangku paling belakang tepat di belakang Haechan.
"Chan, nih!" Ujar Giselle menepuk pundak Haechan dan menyodorkan sebuah roti sandwich kepada lelaki itu.
"Eoh?" Haechan nampak bingung.
"Lo pasti belum sarapan kan? Nih, gue udah bikinin sandwich buat lo." Jelas Giselle.
Sontak hal itu menyita atensi dari detektif yang lain atas interaksi Giselle dan Haechan. Haechan pun menerima sandwich itu dan mulai memakannya.
"Oiya pak, ini berkas identitas dari tersangka." Ujar detektif lekaki yang kini duduk di sebelah Haechan.
Haechan mengambil berkas itu dan mulai membaca isi bio data dari orang yang kini sedang mereka cari. Haechan membaca lamat-lamat kertas itu hingga tiba-tiba, tulisan nama dari tersangka mampu membuat Haechan diam membeku.
"Ah iya pak, kabarnya, orang ini dulu pernah aktif di dunia atlet renang." Ujar detektif yang duduk di sebelah pengemudi.
Mendengar hal itu, Giselle pun ikut berkomentar. "Hah? Siapa? Kebetulan gue juga punya kenalan atlet renang."
"Namanya Jisung. Park Jisung."
Giselle terdiam. Gadis itu tiba-tiba membeku tak bergerak sedikitpun. Sedangkan Haechan, lelaki itu kini nampak meremat sandwich yang kini berada di tangan kanannya. Sedangkan di tangan kirinya masih membawa berkas identitas tersangka.
Mobil mereka kini sudah tiba di depan rumah yang nampak tak asing bagi Haechan dan Giselle. Giselle sendiri kini nampak lemas menatap rumah itu.
"Kita lakuin sesuai rencana awal. Satu orang lewat pintu belakang, dua dari pintu depan, satu jaga di depan." Ujar Haechan menginterupsi.
Lelaki berkulit tan itu kemudian menoleh ke bangku belakang, tepatnya ke arah Giselle. "Sel, lo tunggu di sini aja." Gadis itu pun mengangguk lemah.
Mereka pun segera keluar dari dalam mobil meninggalkan Giselle sendiri. Masing-masing detektif termasuk Haechan kini mulai menyiapkan pistol mereka untuk jaga-jaga bila ada kejadian tidak diinginkan. Mereka pun kini mulai menyebar sesuai dengan rencana. Haechan sendiri kini mulai masuk melalui pintu depan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello My Last...
Fiksi PenggemarSequel dari Bye My First... Jeno pernah bertanya pada Nata, apakah setelah dewasa nanti, mereka akan lebih sering menangis dan terluka? Sebuah pertanyaan yang dulu dilontarkan oleh seorang remaja berusia 18 tahun itu pada akhirnya mendapatkan jawab...
