Hari Yang Ditunggu

452 19 1
                                        

Hari yang ditunggu pun tiba. Tepat pada hari ini, proses pernikahan Jeno dan Nata akan segera dilaksanakan. Para tamu undangan saat ini sudah berada di kursi masing-masing. Kini hanya tersisa tiga kursi yang masih kosong, dua diantara adalah kursi yang memang sudah dipersiapkan untuk mewakili mendiang Jaemin dan juga Jisung, dan satu lagi adalah kursi milik Renjun.

Lelaki itu saat ini sengaja belum masuk ke dalam ruangan dimana pernikahan akan dilangsungkan karena saat ini, lelaki itu tengah berada di ruang tunggu pengantin wanita, lebih tepatnya ruangan dimana Nata berada.

'Tok tok.' Suara ketukan pintu menginterupsi Nata bahwa ada seseorang yang akan masuk. 

Pintu pun terbuka dan menampilkan sosok Renjun yang saat ini menggunakan setelah jas berwarna abu. Sangat cocok sekali ditubuhnya.

"Renjun? Kok lo disini?" Nata cukup terkejut melihat salah satu sahabatnya itu.

"Hai Nat. Hari ini lo keliatan sangat cantik." Puji Renjun sambil terus melangkah mendekati Nata.

Nata tersenyum semakin memperlihatkan kecantikannya. "Makasih..."

"Selamat ya, atas pernikahan lo sama Jeno. Gue ikut seneng."

Nata kembali tersenyum. "Jelas dong lo harus ikut seneng. Lo kan sahabat gue sama Jeno. Haha..."

Renjun tidak berbohong akan itu. Lelaki itu benar-benar bahagia saat ini melihat gadis yang ia sayang pada akhirnya menemukan kebahagiaan nya, meskipun bukan dialah sumber bahagia itu.

"Nat."

"Hmm?"

Renjun sedikit menimang apa yang akan ia katakan pada Nata.

"Gue... boleh peluk lo? Buat yang terakhir kalinya, sebelum lo jadi milik Jeno seutuhnya?"

Nata sempat terkejut, namun gadis itu segera tersenyum dan mengangguk. Renjun yang mendapatkan izin itu pun segera memeluk Nata. Ia peluk gadis itu dengan erat. Seakan besok dirinya tidak akan bisa melihat gadis itu lagi.

"Nat, makasih ya. Makasih udah izinin gue buat jatuh cinta sama lo. Sekalipun gue ga pernah nyesel, pernah ketemu dan memilih lo buat jadi orang yang gue sayang. Sekali lagi makasih..." Perlahan, Renjun mulai melepaskan pelukannya.

"Gue pernah bilang sama lo, untuk temuin gue saat lo ga dapet kebahagian dari laki-laki yang nanti akan lo pilih. Tapi gue harap, lo ga pernah temui gue Nat. Gue berharap lo akan selalu bahagia bersama orang itu. Gue percaya, bahwa Jeno akan selalu kasih lo kebahagiaan yang bahkan ga bisa gue kasih ke lo Nat."

"Nat, sekali lagi gue ucapin selamat. Gue janji, gue akan segera temuin perempuan yang akan gue sayang sama seperti gue sayang sama lo Nat. Pada saatnya tiba, gue akan bawa perempuan itu dan minta izin ke lo untuk menggantikan posisi lo dihati gue. Tolong tunggu waktu itu ya Nat. Lo mau kan?"

Dengan cepat Nata mengangguk. "Iya Njun. Gue bakalan nunggu waktu itu tiba. Sekali lagi makasih ya... gue ga akan pernah lupain kebaikan lo selama ini ke gue."

Dengan ini, Renjun kembali menyadari, bahwa tidak semua cinta harus berhasil. Tidak semua perasan harus terbalas. Sejak awal, yang ia lakukan hanyalah mencinta. Perihal memilikinya, bukanlah sebuah kewajiban.

🍓🍓🍓

Di atas altar, kini sudah berdiri seorang lelaki yang menggunakan setelan jas berwarna hitam, lengkap dengan setangkai bunga mawar yang ditancapkan tepat di sakunya. Jeno nampak berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya. Lelaki itu kini tengah menunggu calon pasangannya untuk masuk ke ruangan ini.

Hello My Last...Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang