Usai makan malam, Jeno memutuskan untuk mengantarkan Nata pulang ke apartemen nya. Kebetulan malam ini dirinya harus kembali ke rumah sakit untuk mengambil barang yang tertinggal. Karena apartemen dan rumah sakit tempat Jeno bekerja searah, mereka pun memilih untuk pulang bersama.
Jeno dan Nata saat ini baru saja memasuki mobil. Mereka berdua kini tengah sibuk menggunakan seatbelt serta menata kursi agar nyaman. Saat sudah sama-sama selesai, Jeno tak segera melajukan mobilnya. Lelaki itu kini malah terdiam dan membuat gadis disebelah nya itu bingung.
"Kenapa Jen? Ada barang lo yang ketinggalan di dalem?" Tanya Nata sambil menatap Jeno bingung.
Jeno masih diam. Lelaki itu nampak tak ada niatan untuk segera melajukan mobilnya. Dengan sedikit ragu, Jeno pun akhirnya menolehkan wajahnya untuk menghadap Nata. Kini mereka berdua beradu tatap dengan cahaya yang sangat minim.
"Nat."
"Hmm?"
Terdengar nafas berat dari Jeno. Helaan nafas mereka kini dapat mereka rasakan satu sama lain.
"Maaf..."
Nata mengerjapkan matanya beberapa kali. "Maaf buat apa?"
"Maaf karena gue selama ini ga bisa jadi apa yang lo mau Nat."
"Maaf karena selama ini gue terlalu egois dan ga pernah mikirin apa yang sebenarnya lo mau. Maaf karena gue selama ini ga sadar kalau lo udah menderita. Maafin gue..."
Nata masih terus menatap Jeno tanpa ada niatan untuk menjawab perkataan lelaki itu.
"Maaf karena gue selama ini selalu mikir kalau lo adalah Nata kecil yang gue temui 18 tahun yang lalu. Gue lupa, gue lupa kalau ternyata kita udah dewasa. Gue lupa kalau kita udah ga bisa main-main lagi kayak dulu Nat."
Jeno kini menarik nafasnya dalam. "Saat gue lihat lo di pemakaman Jisung kemarin, gue akhirnya sadar. Gue akhirnya sadar kalau lo udah tumbuh jadi perempuan yang sangat dewasa dan bijaksana. Lo bukan lagi Nata yang manja yang ga tau apa-apa tentang hidup yang bisanya cuman nyusahin orang lain. Gue nyesel Nat, gue nyesel karena baru sadar itu. Maafin gue..."
Jeno pun meraih tangan Nata dan menggenggam tangan mungil itu erat. "Nat, dari dulu sampai sekarang, cuman lo perempuan yang bisa buat gue jatuh hati. Cuman lo satu-satunya perempuan yang berhasil buat air mata gue akhirnya jatuh. Gue sayang sama lo. Bahkan sampai detik ini pun, jantung gue masih berdebar kenceng setiap kali gue natap manik mana lo Nat."
"Nat... ayo kita mulai semuanya dari awal. Ayo kita coba semuanya dari awal."
"Maksudnya?" Nata akhirnya mulai bersuara.
"Lo pernah bilang ke gue kalau lo pingin kayak orang lain yang tau kemana arah hubungan nya kan? Sekarang ayo kita coba. Gue mau punya hubungan yang serius sama lo. Kita mulai semuanya dari awal. Kita mulai semuanya pelan-pelan."
"Ayo kita coba buat punya hubungan yang serius kayak orang lain. Gak peduli apa yang akan terjadi nanti. Tapi yang jelas, yang gue mau saat ini adalah lo Nat. Gue sayang sama lo."
Nata mengerjapkan matanya berkali-kali "L-lo nembak gue?"
"Iya." Jeno menjawab dengan cepat.
Kini Nata kembali terdiam. Dirinya benar-benar terkejut dengan ini semua.
"Nat..." Kini Jeno meraih wajah Nata agar gadis itu menatapnya.
"Lo mau kan, jadi pacar gue?" Lanjut Jeno dengan suara yang sangat halus.
Perlahan, air mata Nata mulai membendungi mata indahnya. Jeno yang menyadari itu pun menjadi kaget.
"Eh Nat, kok lo malah nangis sih? Kalau lo ga mau jadi pacar gue ga papa Nat. Jangan nangis gini."
Nata pun menggeleng cepat. "Engga Jen... hiks... gue nangis karena gue bahagia... hiks..."
Nata kemudian menghapus air matanya yang kini sudah membanjiri pipi mulusnya. "Gue mau Jen."
"Gue mau jadi pacar lo."
"Gue mau mulai semuanya dari awal sama lo. Gue mau."
Jeno menghela nafasnya lega. Kini bibirnya menyungingkan sebuah senyum yang sudah lama tak ia tunjukkan. Lelaki itu pun dengan cepat memeluk tubuh Nata. Ia peluk gadis yang ia sayangi itu dengan penuh rasa cinta. Dan malam ini, mereka berdua sudah resmi menjadi sepasang kekasih. Mencoba memulai dari awal untuk menuju kesebuah hubungan yang lebih serius lagi.
🍓🍓🍓
Sejak tadi Haechan menatap jam di tangannya sambil sesekali menatap lift yang beberapa kali terbuka. Sudah hampir satu jam lelaki itu duduk menunggu Giselle di kantor gadis itu. Haechan sengaja tak menghubungi Giselle terlebih dahulu lantaran ia tak ingin mengganggu pekerjaan Giselle. Ia rela menunggu Giselle selesai meski ia tak tahu kapan gadis itu akan segera turun.
Haechan menghela nafasnya berat sambil menyandarkan punggungnya di sofa. Ia pejamkan matanya sejenak untuk meresapi rasa lelahnya yang sejak tadi rasakan. Saat kembali membuka mata, dirinya dikejutkan dengan kehadiran seorang gadis yang sejak tadi ia tunggu kini sudah berada tepat di hadapannya.
"Lo ngapain disini?" Tanya Giselle bingung saat mendapati sosok sahabatnya itu tengah duduk di ruang tunggu kantornya.
"Lo lama banget sih keluarnya. Gue nungguin lo dari tadi tau ga." Ujar Haechan datar.
Giselle bingung. Ia mencoba mengingat-ingat apakah dirinya memiliki janji dengan lekaki di hadapannya ini, namun dirinya yakin bahwa ia tak ada janji dengan Haechan.
"Lo nungguin gue? Ngapain? Kok ga telfon dulu?"
Haechan pun bangkit dari duduknya. "Mobil lo masih di bengkel kan? Yuk, gue anter pulang."
Haechan melangkahkan kakinya menuju luar dan langsung memasuki mobilnya yang diparkirkan tak jauh dari pintu masuk. Giselle yang masih bingung itupun mengikuti Haechan dan masuk kedalam mobil lelaki itu.
"Dalam rangka apanih tiba-tiba lo baik sama gue? Pakek acara nganterin pulang segala lagi, naksir lo ya sama gue." Ujar Giselle penuh curiga sambil menatap wajah Haechan yang kini tengah sibuk menyalakan mobil.
Haechan yang mendengar itupun hanya bisa memutar kedua bola matanya malas. "Lo tuh ya, dibaikin malah ngelunjak. Mana ada gue naksir sama lo lobak."
"Terus, kenapa lo rela nungguin gue cuman buat nganter gue pulang?" Tanya Giselle penuh curiga.
Haechan pun mengalihkan pandangannya untuk menatap Giselle. "Gue cuman ga mau kejadian Nata ke ulang lagi."
Giselle diam. Gadis itu tak pernah menyangka bahwa lelaki dihadapannya ini akan mengatakan hal itu.
"Gue ga mau hal yang Nata alamin kejadian juga sama lo. Karna gue tau, lo ga punya sosok pelindung kayak Nata yang punya Jeno."
"Kalau lo punya pacar, gue juga ga akan rela buang-buang waktu gue buat nganter lo pulang Sel. Sekarang dari pada lo pikir yang aneh-aneh tentang gue, mending lo buruan cari pacar deh. Biar gue ga perlu khawatirin lo lagi." Lanjut Haechan.
Jujur, ucapan Haechan barusan itu sukses menyentuh lubuk hati Giselle yang paling dalam. Gadis itu tak menyangka, bahwa Haechan ternyata sangat peduli padanya, terlepas mereka berdua yang seringkali bertengkar karena hal-hal sepele. Ia saat ini merasa sangat beruntung karena memiliki sosok Haechan yang akan selalu ada di sampingnya. Giselle berharap, bahwa suatu saat nanti akan ada sosok gadis baik hati pula yang pantas untuk mendapatkan laki-laki dihadapannya ini. Seseorang yang juga akan memberikan dunianya untuk Haechan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Hello My Last...
FanfictionSequel dari Bye My First... Jeno pernah bertanya pada Nata, apakah setelah dewasa nanti, mereka akan lebih sering menangis dan terluka? Sebuah pertanyaan yang dulu dilontarkan oleh seorang remaja berusia 18 tahun itu pada akhirnya mendapatkan jawab...
