Usus Buntu

246 16 0
                                        

Setelah dibawa ke rumah sakit, Nata akhirnya dinyatakan terkena usus buntu. Gadis itu pun langsung mendapatkan penanganan segera lantaran peradangan usus buntunya sudah pecah. Dan malam itu, dirinya harus dioperasi dan kebetulan Jeno juga ikut dalam proses operasi itu.

Pagi pun tiba. Nata sendiri saat ini sudah dipindahkan ke ruang rawat inap dan kini dirinya ditemani oleh Irene. Sejak semalaman, Irene memutuskan untuk menemani Nata dirumah sakit. Padahal, Jeno sudah memintanya untuk istirahat diruma, namun Irene masih kukuh untuk menemani Nata di ruang sakit.

"Nata, udah bangun sayang? Gimana keadaan kamu? Ada yang sakit?" Ujar Irene saat mendapati Nata sudah terbangun dari tidurnya.

"Eh, mama semalem tidur disini?"

Irene mengangguk dengan senyuman ayunya. "Iya sayang, mama dari kemarin nemenin kamu disini."

Melihat wajah Irene yang terlihat lelah membuat hati Nata sakit. "Istirahat gih mah. Mama keliatan capek banget. Nata bisa kok ngurus diri Nata sendiri."

"Enggak, mama ga mau. Mama ga percaya sama kamu. Orang kamu ditinggal sendiri aja malah kenak usus buntu kayak gini."

"Biar Jeno yang jaga Nata hari ini tante." Nata dan Irene tiba-tiba dikejutkan dengan kehadiran Jeno.

"Tante pulang aja. Biar Jeno yang jaga Nata." Lanjut Jeno.

"Eh, Jeno... kamu dari semalem belum pulang?" Tanya Irene pada Jeno yang wajahnya kini terlihat kusut.

"Belum tante. Kebetulan Jeno juga ada shift pagi, jadinya ga pulang."

Irene pun mengangguk paham. Sedangkan Nata, gadis itu sebisa mungkin menghiraukan kehadiran Jeno di kamarnya.

"Tante pulang dulu aja istirahat. Om Yunho juga pasti sekarang lagi butuh tante di rumah. Disini juga kita pasti jagain Nata kok, tante ga usah khawatir." Ujar Jeno penuh keyakinan.

Setelah berfikir panjang, Irene pun akhirnya memutuskan untuk pulang. Dirinya juga saat ini harus mengurus suaminya untuk bekerja.

"Yaudah, mama pulang dulu. Kamu kalau butuh sesuatu langsung bilang ke Jeno atau telfon mama langsung. Dan inget, Jangan bikin ulah, ngerti?" Dengan sedikit malas Nata pun mengangguk.

"Titip Nata ya Jen. Tante pulang dulu." Pamit Irene pada Jeno.

"Iya tante, hati-hati di jalan." Ujar Jeno.

Setelah kepergian Irene, Jeno pun mencoba mendekati Nata yang saat ini masih membuang muka padanya.

"Ada yang sakit ga?"

"Ga ada."

Jeno menghela nafasnya lirih. "Habis ini sarapan paginya bakalan dianter. Langsung dimakan jangan ditunda-tunda. Jangan lupa juga diminum obat nya biar bekas jaitannya ga sakit."

"Hmm..." Nata benar-benar tak ingin menatap wajah Jeno sedikitpun.

Lagi dan lagi, Jeno menghela nafasnya lirih. "Yaudah kalau gitu. Gue mau lanjut kerja dulu. Lo kalau ada apa-apa langsung panggil perawat aja."

"Hmm..."

Jeno pun pergi meninggalkan Nata sendiri di dalam kamar. Jujur, saat ini Jeno sangat khawatir dengan keadaan Nata. Mengetahui Nata terkena usus buntu menandakan bahwa selama ini gadis itu mengabaikan kesehatannya. Ia merasa tak becus menjaga Nata selama ini. Bahkan saat dirinya dan Nata sedang ada masalah,  gadis itu malah jatuh sakit. Ingin sekali rasanya Jeno menemani gadis itu disampingnya dan memberikan omelan-omelan yang membuat gadis itu menurut. Namun masalahnya, saat ini Jeno tak bisa melakukan itu. Jeno hanya bisa menjaga Nata dibalik profesinya sebagai dokter.

Hello My Last...Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang