Akhir Dari Penantian

288 16 0
                                        

Jeno mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Di sampingnya ada Nata yang tak henti-hentinya terus memukul lengan Jeno. Sedangkan di kursi penumpang, ada Ningning yang sedang kesakitan dan Chenle yang menjadi sasaran empuk untuk tempat menyalurkan rasa sakitnya. Rambut Chenle kini sudah rontok sebagian lantaran sang istri dengan teganya menjambak hingga rambut yang mulai tipis itu semakin berkurang.

"Aaakkhhhh.... sakittt...." erang Ningning sambil terus menjambak rambut Chenle.

"Jen cepetan Jen.... lo mau keponakan lo brojol di mobil? Cepetan!!!" Ujar Nata sambil terus memukul lengan Jeno.

"Iya sabar sabar! Ini juga gue udah berusaha cepet!" Jawab Jeno.

***

Mereka kini sudah tiba di rumah sakit. Ningning sudah dibawa ke ruang persalinan ditemani Chenle, sedangkan anak-anak yang lain menunggu di ruang tunggu.

Mereka semua kini panik bukan main. Bagaimana tidak, untuk pertama kalinya dalam hidup, mereka melihat momen kejadian seperti ini. Apalagi, orang yang saat ini berada di ruang persalinan itu adalah Ningning, gadis manja yang sudah mereka anggap seperti adik mereka sendiri.

Berbeda dengan Nata, gadis itu sejak tiba di rumah sakit hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun. Padahal, dialah orang yang paling heboh saat dimobil tadi. Gadis itu kini hanya duduk di kursi tunggu sambil melihat teman-temannya yang mondar-mandir tak jelas menunggu hasil persalinan.

Bukannya Nata tak khawatir dengan kondisi Ningning saat ini, bukan. Dirinya kini hanya teringat akan kejadian 7 tahun yang lalu, saat dimana dirinya menyelamatkan seorang wanita hamil yang hendak melahirkan di salju pertama tahun itu. Saat dimana dirinya mengetahui fakta menyakitkan tentang Jaemin.

Tiba-tiba saja, Nata rindu dengan lelaki itu. Pikiran Nata melayang sangat jauh, ber andai-andai jika lelaki itu masih ada disamping nya, meligat bagaimana ekspresi Jaemin saat mengetahui kalau Jeno baru saja melamarnya. Nata rindu, sungguh.

"Nat, lo gapapa?" Jeno baru saja menepuk pundak Nata dan ikut duduk disamping gadis itu.

Nata mengangguk tanda ia baik-baik saja. "Gue gapapa kok Jen."

Jeno lantas menurunkan pandangannya menuju sepasang sepatutnya yang nampak lusuh lantaran terkena lumpur saat hujan tadi. "Maaf ya, gue ga bisa lamar lo dengan baik. Semua rencananya gagal."

Nata lantas menolehkan pandangannya ke arah Jeno dan menepuk pundak lekaki itu pelan. "Hei... gue harusnya berterima kasih sama lo. Gue ga nyangka, ternyata lo udah nyiapin semuanya sedemikian rupa. Gue seneng banget hari ini Jen. Lo sukses buat gue jadi perempuan paling bahagia hari ini. Makasih ya.."

Nata kemudian mengelus rambut Jeno yang kini nampak sedikit berantakan. Ia baru menyadari, bahwa sahabat sekaligus kekasihnya ini ternyata memiliki wajah yang sangat rupawan.

"Capek ya?" Tanya Nata sambil mencoba memijit pundak Jeno.

"Lumayan..." jawab Jeno sambil tersenyum hingga kedua matanya menyipit.

Saat semua hening, tiba-tiba saja pintu ruang persalinan terbuka dan menampilkan sosok Chenle yang sudah berlinang air mata.

"GUYSSS.... ANAK GUE UDAH LAHIR... ANAK GUE COWOK!!" Ujar Chenle dengan penuh bersemangat.

Anak-anak yang lain pun langsung menghampiri dan memeluk lelaki yang baru saja menjadi seorang ayah itu. Mereka semua memberikan ucapan selamat dan ikut bahagia atas kelahiran putra pertamanya itu.

Hello My Last...Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang