"Aku tidak mau pergi!"
"Tapi kau harus pergi!"
Teriakan terdengar saling bersahutan di sebuah rumah pagi itu. Sebentar lagi tetangga mungkin akan datang untuk menegur mereka.
Tidak memperdulikan ibunya yang masih saja mengomel di depan kamarnya Haechan kembali berbaring di atas ranjang dan menarik selimut menutupi seluruh tubuh. Ia masih ingin meneruskan tidurnya.
Hari ini ia harus pergi ke tempat pelatihan dan ia tetap tidak berniat pergi meski ibunya sudah terus-menerus memaksa. Sejak semalam ibunya lah yang sangat bersemangat, bahkan seluruh keperluannya sudah di atur dan disiapkan oleh sang ibu. Tapi tetap saja, ia tidak ingin pergi kesana.
Persetan dengan peraturannya. Mereka siapa memang? Ia mempunyai hak untuk menolak ngomong-ngomong.
"Haechan cepat keluar!"
"Sudah aku bilang tidak mau! Aku tidak akan berangkat kesana."
"Ini kesempatan bagus, nak. Kau bisa mendapat pekerjaan dengan mudah."
"Tanpa itu pun aku bisa mendapat pekerjaan."
Memang tidak akan semudah yang ia katakan, namun ia juga tidak begitu bodoh, pasti nanti ia akan mendapat pekerjaan.
"Haechan, kumohon..." Suara wanita berumur itu terdengar lebih pelan dan memelas.
Sial! Haechan sangat membenci situasi seperti ini. Ia tidak pernah bisa melawan jika ibunya sudah memohon seperti ini. Ia tidak ingin jadi anak durhaka, namun ia juga tidak ingin pergi.
Tapi tetap saja pada akhirnya ia kalah. Dengan kesal ia menendang selimut yang ia gunakan dan mulai bangkit dari ranjang, namun karena tidak hati-hati ia terjatuh setelah terpeleset selimut tersebut. Kesialan tetap melekat kepadanya, hanya saja saat pemilihan kesialan itu telat datang. Sial! Sial! Sial!
Ia termenung di dalam mobil yang akan membawanya ke tempat pelatihan. Ia tidak sendirian, ada dua orang lagi bersamanya. Satu orang terpilih sepertinya serta seorang guru yang bertugas mengantar mereka. Sejak tadi Haechan sudah ingin mencakar wajah orang itu karena ia terus-menerus mengeluarkan feromon yang membuatnya ingin muntah. Sebetulnya feromon keduanya biasa saja, hanya Haechan yang terlalu sensitif.
"Kalian harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Kesempatan ini tidak boleh kalian sia-siakan. Selamat berjuang!" Guru yang mengantar tersebut berkata dengan semangat tak lupa juga wajah yang berseri-seri.
Haechan berdecih pelan dalam hatinya mendengar nada yang kelewat semangat dari gurunya itu. Bagaimana ia bisa melakukannya dengan sungguh-sungguh jika ia saja tidak ingin berada di tempat terpencil ini.
Mereka berada di tengah-tengah hutan dan tanpa ada sinyal sama sekali! Ia sudah memeriksa ponselnya dan memang tidak ada. Bahkan sepanjang jalan tadi hanya dipenuhi oleh pepohonan tanpa ada satu rumah pun yang terlihat oleh mata. Sia-sia Haechan membawa ponsel dan laptopnya, ia sendiri pun tidak yakin disana akan ada listrik. Sungguh sial.
Perasaan asing hinggap di dirinya, ia belum pernah merasakan hal seperti ini. Haechan merasa jika sesuatu akan terjadi namun ia sama sekali tidak mengetahui apa itu.
Mobil mereka mulai memasuki sebuah gapura sederhana yang terbuat dari kayu. Setelah beberapa saat mulai tampak lah beberapa bangunan di sana yang tentunya terbuat dari kayu juga.
Tempat ini tidaklah seburuk yang ia kira, ini tampak seperti sebuah desa yang berada di tengah hutan. Rumah-rumah disini terbuat dari kayu dan atapnya pun masih memakai daun dari pohon kelapa yang sengaja ditumpuk serta sesuatu seperti jerami. Apakah itu aman saat hujan? Melihat bentuknya ia yakin sekali tidak ada listrik disini, seperti yang sudah ia duga. Haechan tidak yakin ia bisa bertahan hidup tanpa listrik.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNA
Fanfiction[Werewolf AU] Markhyuck! Warning! BoyxBoy, mature, missgendering, mpreg, gay! Setiap tahun memang ada pemilihan untuk seluruh siswa, tak perduli jika mereka adalah alpha, beta, atau bahkan omega. Namun Haechan tidak pernah sama sekali membayangkan b...
