26.

4.1K 441 112
                                        

"Bagaimana bisa?"

Itulah kalimat pertama yang keluar dari belah bibir milik sang alpha setelah tersadar dari keterkejutannya.

Bukan hanya perihal Haechan yang ternyata sudah mengetahui bahwa mereka berdua adalah mate, tapi juga soal bagaimana Haechan memberikan satu kecupan lembut untuknya dengan sangat tiba-tiba.

Itu hanyalah kecupan ringan. Tanpa ada nafsu, hanya sebuah kecupan. Tapi hal itu justru memberi efek yang sangat besar kepada Mark. Pompa jantungnya terasa lebih cepat, darahnya terasa bergejolak, tubuhnya merasakan suatu perasaan yang sulit sekali untuk dijelaskan.

"Maksudmu tentang bagaimana aku mengetahui kau adalah mate ku? Luna Doyoung memberi tahuku."

Kening Mark sedikit berkerut karena keheranan. Yang Mark tahu, Luna Doyoung bukanlah orang yang terlalu suka ikut campur, sekalipun ia tahu soal mereka, rasanya agak aneh jika tiba-tiba Luna Doyoung mengatakannya langsung kepada Haechan.

Melihat kerutan yang ada di kening Mark, tangan Haechan terangkat untuk memberi elusan lembut. Dari kening sampai ke rahang. Mata Mark terpejam menikmati setiap elusan lembut itu, tubuhnya juga perlahan semakin santai.

"Luna Doyoung tidak mengatakannya secara langsung, Mark. Dia hanya memberitahu tentang apa itu mate, tanda beserta cirinya. Dari situ aku yang menyimpulkan sendiri.

Maksudku, kau serta orang orang di sini ternyata sudah memberikan petunjuk yang jelas. Bahkan kau memeberikan jaket yang dibuat dari bulu wolfmu itu kan? Yuta Hyung bahkan mengamuk karena itu. Maaf ya aku terlambat menyadarinya."

Tangan Mark bergerak cepat untuk menggenggam tangan Haechan yang masih berada di sekitar rahang dan pipinya. Mata Mark menatap Haechan dengan pandangan penuh perhatian, seolah-olah sedang menenangkan bahwa itu semua bukanlah salah Haechan.

Bagi Mark sendiri hal ini justru terjadi lebih cepat dari pada perkiraannya. Karena bagi Mark, kapanpun itu, ia akan tetap menunggu. Apapun, demi Haechan, matenya.

"Harusnya aku bisa menyadari lebih cepat. Padahal, dia antara kerumunan orang pun hanya feromonmu yang aku cari. Mungkin awalnya memang mengganggu karena aku tak terbiasa, tapi semakin lama aku semakin menyukainya. Kenapa kau tidak mengatakannya langsung, Mark?"

"Aku tidak ingin membebanimu dengan apapun, Haechan. Aku sendiri mengerti bahwa datang ke tempat ini adalah sesuatu yang sulit bagimu. Untuk beradaptasi dengan kebiasaan baru selama di sini juga pasti tidaklah mudah.

Aku tidak bisa tiba-tiba datang kepadamu dan berkata bahwa kau adalah mateku. Bahkan saat itu pun aku tidak yakin kau mengetahui tentang apa sebenarnya arti dari mate."

Jika melihat pada Haechan yang dulu, perkataan Mark sangatlah masuk akal. Jika pada saat itu Mark langsung datang kepadanya dan mengatakan bahwa mereka adalah mate, mungkin Haechan akan langsung kabur dari sana. Datang ke tempat ini saja sudah sulit bagi Haechan, tidak mungkin bisa ia menerima berita seperti itu.

Jadi Haechan bisa memaklumi alasan Mark. Dan dia sangat senang Mark memberikan mereka kesempatan untuk saling mengenal tanpa terburu-buru. Saling memantapkan perasaan satu sama lain.

Haechan telah bulat dengan perasaannya. Tidak ada lagi keragu-raguan terhadap Mark. Ia sudah siap menerima Mark sebagai alpha nya, matenya.

"Lalu apa yang akan kau lakukan?"

"Apapun yang kau mau, Haechan. Apapun."

"Apapun?"

"Tentu."

Satu jawaban yakin tanpa ada sedikitpun keraguan. Bagi Mark, Haechan adalah yang terpenting. Jika Haechan memintanya untuk pergi maka akan ia lakukan. Bukan karena ia tidak sayang kepada pria manis itu, melainkan ia terlalu sayang. Jika masih terasa berat menerima ini semua, maka tidak ada paksaan. Selama apapun itu, Mark akan dengan sabar menunggu.

LUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang