Kehidupan Haechan di tempat itu sudah kembali seperti biasa. Lebam di wajahnya sudah hampir menghilang sepenuhnya, ia juga sudah tidak merasakan sakit apapun.
Jika mengingat semua luka-luka itu, ia merasa heran. Bagaimana bisa ya ia bertahan dari semua pukulan yang Yuta berikan? Dan, bagaimana pula ia bisa membalas semua pukulan Yuta? Rasa-rasanya ia sama sekali tidak memiliki pengalaman mengikuti ekstra bela diri di sekolahnya.
Mark, setiap mengingat kejadian itu ia tentu tidak bisa mengabaikan keterlibatan Mark di dalamnya. Apalagi saat ia melihat luka-luka di wajah Yuta yang mungkin tiga kali lipat lebih buruk dari miliknya. Tak bisa Haechan bayangkan seperti apa kekuatan yang dimiliki Mark.
Tapi ia merasa heran juga. Kenapa Mark harus semarah itu? Bukankah hal ini tidak ada urusan dengannya? Entahlah, Mark selalu seperti itu.
"Haechan, jangan melamun! Kau sedang memegang pisau."
"Hah? Oh iya..."
Renjun menggelengkan kepalanya. Tidak begitu heran dengan sikap ceroboh Haechan, tapi sedikit penasaran kenapa anak itu melamun. Keningnya juga tampak berkerut, sepertinya banyak sekali yang anak ini pikiran.
"Ada apa Haechan? Ada yang menggangu mu?"
Renjun bertanya kepada Haechan yang kembali memotong sayuran sambil melamun. Ia jadi khawatir terhadap temannya ini. Tidak biasanya Haechan seperti ini.
"Tidak ada apa-apa. Kau ini kenapa sih dari tadi bertanya terus?"
"Bodoh. Kau yang kenapa? Dari tadi hanya melamun, bagaimana kalau jarimu terpotong akibat melamun saat memotong sayur? Jangan konyol."
Sulit sekali bagi Renjun untuk menahan rasa gemas, ia sudah ingin sekali memukul kepala Haechan.
Haechan sendiri hanya meringis takut mendengar perkataan Renjun. Bukan, ia bukan takut jarinya terpotong, tapi ia takut Renjun akan tiba-tiba membelah nya menjadi dua. Sejak tadi Renjun tanpa sadar (mungkin) mengacungkan pisau kehadapanya.
Jika Haechan mati hari ini, itu bukan karena jarinya terpotong saat melamun, tapi kemungkinan besar Renjun membunuhnya karena kesal.
"Baiklah, baiklah, aku minta maaf. Sekarang, bisa kau jauhkan pisau itu? Aku belum siap mati."
Saat tersadar Renjun dengan segera menjatuhkan pisaunya, ia memberikan cengiran kepada Haechan sebagai tanda permintaan maaf.
"Maaf ya, tidak sengaja. Itu bagian dari reflek, lagipula kau duluan yang membuatku kesal."
"Aku tidak melakukan apapun!"
"Ya, ya. Tapi serius kau baik-baik saja?"
"Iya, Renjun. Aku baik-baik saja."
Sebetulnya Haechan sendiri tidak yakin apakah ia baik-baik saja atau tidak, ia hanya mau menenangkan Renjun agar anak itu tidak terus terusan bertanya kapadanya.
Beberapa hari ini Haechan merasa gelisah dan tidak nyaman. Berpikir mungkin saja ia sakit, tetapi saat pergi ke ruang kesehatan Luna Doyoung mengatakan ia baik-baik saja. Sempat diberi obat herbal untuk membuatnya sedikit lebih relaks tetapi sepertinya obat itu tidak bereaksi sama sekali.
"Haechan, kau tahu?"
"Apa?"
"Kau bisa bercerita kepadaku jika ada yang menggangu."
"Tidak, tidak ada. Aku baik-baik saja."
.
.
.
.
.
KAMU SEDANG MEMBACA
LUNA
Fanfiction[Werewolf AU] Markhyuck! Warning! BoyxBoy, mature, missgendering, mpreg, gay! Setiap tahun memang ada pemilihan untuk seluruh siswa, tak perduli jika mereka adalah alpha, beta, atau bahkan omega. Namun Haechan tidak pernah sama sekali membayangkan b...
