29.

3.1K 312 20
                                        

Haechan meleguh pelan merasakan sekujur tubuhnya yang terasa nyeri. Matanya hanya membuka sekilas lalu kembali menutup, matanya masih berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk.

Tangannya meraba bagian lain dari ranjang yang ia tempati. Dingin, ranjang itu sudah kosong dan dingin. Orang semalam berada di sana bersamanya sepertinya sudah pergi cukup lama, bahkan sebelum ia membuka mata. Mark pergi tanpa berpamitan. Sebetulnya Mark melakukannya, ia berpamitan bahkan memberi beberapa kecupan sebelum pergi. Tapi Haechan tentu tidak akan menyadarinya, anak itu masih sangat pulas tertidur. Mark juga tidak sampai hati membangunkan kekasih hatinya itu.

Selimut yang membungkusnya disibak secara kasar karena rasa kesal. Selimut tak bersalah itu kini tergeletak tak berdaya di lantai. Haechan yang kini sudah terduduk di atas ranjang menatap tubuhnya sendiri. Ia sudah bersih, memakai pakaian baru yang bersih dan nyaman. Siapa lagi yang melakukannya selain Mark.

Helaan nafas panjang keluar dari belah bibirnya, ia sedang mencoba menelan perasaannya dalam dalam. Haechan mencoba meyakinkan dirinya sendiri sekaligus menghilangkan kekhawatiran yang mengganggunya. Ini adalah hal yang wajar, Mark bagian penting dari pack, mereka akan selalu membutuhkannya. Yang bisa Haechan lakukan sekarang adalah menunggu sambil berdoa semoga alpha nya akan kembali dengan keadaan baik saja.

Selimut yang tergeletak tak berdaya itu kembali ia angkat dan lipat. Ia simpan rapi di atas ranjang, tak lupa juga ia merapikan ranjang yang cukup kacau sejak semalam itu. Lebih baik ia segera bergegas ke tempat luna Doyoung.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Mengerti kan, Haechan? Jangan sampai salah ya."

"Okay."

Haechan mengangguk mengerti, ia langsung mengerjakan sesuai dengan perintah luna Doyoung. Ia mencampur beberapa jenis daun yang sebenarnya ia sendiri tidak tahu namanya pada satu wadah. Memetik serta memisahkan daun daun itu dari batang yang masih tersisa. Dan mencuci daun daun itu sampai bersih.

Ia lalu mengambil alat penumbuk kecil yang berada di sisi lain meja. Memasukan sedikit demi sedikit daun daun tadi ke dalam sana dan menumbuk nya secara perlahan sampai daun yang tadinya masih segar itu berubah menjadi pasta berwarna hijau gelap.

Luna Doyoung berkata ini adalah obat untuk luka, lebih manjur dibandingkan obat dari dokter yang ada di kota. Bukan berarti mereka anti dengan obat obatan modern. Buktinya, tetap ada obat obatan seperti itu di pack, hanya saja beberapa orang lebih menyukai obat tradisional seperti ini. Luna Doyoung pun tidak merasa keberatan untuk selalu menyediakannya. Haechan sendiri belum pernah mencoba obat ini, waktu ia terluka seingatnya ia memakai obat biasa bukan yang seperti ini.

Kegiatan itu dilakukannya dengan fokus yang tinggi. Ia bahkan tidak sadar jika sekarang matahari sudah mulai terbenam. Haechan melirik Luna Doyoung yang sepertinya pun tidak menyadari hal tersebut karena sedang sibuk menulis sesuatu di buku catatannya. Sepertinya menjadi orang penting di pack membuat kalian selalu sibuk.

Selesai memasukkan pasta terakhir yang ia buat ke sebuah jar besar, Haechan mengaduk nya sekilas dan menutupnya rapat rapat agar tidak ada hewan yang bisa masuk.

LUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang