25.

4.5K 493 113
                                        

Malam semakin larut, suara manusia mulai digantikan oleh suara suara dari serangga seperti jangkrik yang memang lebih aktif pada malam hari. Cahaya bulan tidak begitu tampak karena tertutup awan, menyisakan obor sebagai alat bantu pencahayaan.

Angin berhembus cukup kencang, hampir membuat api pada obor padam. Mengantarkan rasa dingin yang menyayat kulit. Haechan merapatkan jaket yang ia kenakan sambil mempercepat jalannya menyusul dua temannya yang sudah berjalan di depan.

"Aduh kalian jalan cepat sekali."

"Bawel. Kau saja jalannya lambat, dasar menyusahkan!"

Kalimat dari Jaemin itu harusnya menyulut emosinya, membuat mereka beradu mulut seperti biasa, tapi kali ini rasanya berbeda.

Haechan sangat tahu bahwa begitulah cara Jaemin berbicara, dia bukan tipe orang yang suka berbasa-basi, cenderung terlalu jujur meski terkadang menyakitkan. Tapi kali ini, benar-benar menyakitkan. Seperti ada kebencian yang juga keluar dari kalimat itu.

Jika dipikirkan kembali, memang ada yang aneh dengan Jaemin. Sebelum Haechan duduk di meja untuk makan malam, ia bisa melihat Jaemin tampak seperti biasa. Setelahnya, anak itu jadi lebih banyak diam. Apa ada yang salah? Ia tidak merasa melakukan hal aneh apapun.

"Jaemin, apa apaan sih? Kau tidak perlu berkata seperti itu."

"Apa? Kau bela saja terus dia, Renjun. Memang benar kok bahwa sejak awal anak ini selalu menyusahkan orang-orang. Tidak tahu apapun dan tidak mau mencari tahu, apa namanya kalau bukan bodoh?

Dia bahkan terlibat perkelahian dengan Yuta Hyung sampai membuat Mark Hyung ikut turun tangan. Dia memang menyusahkan, Renjun!"

"Jaemin!"

Haechan hanya diam mematung memperhatikan perdebatan Renjun dan Jaemin beberapa langkah di belakang keduanya. Haechan diam, bukan karena ia merasa semua yang dikatakan Jaemin adalah benar, ia diam karena terlalu terkejut. Haechan tidak menyangka Jaemin akan berkata seperti itu kepadanya.

"Sudahlah, Jaemin! Kau ini kenapa?"

"Tapi semua yang aku lakukan ada alasannya! Jangan bilang aku tidak mencari tahu apapun, aku sudah berusaha. Lagipula masalah dengan Yuta juga sudah selesai, dan saat itu pun  dia yang lebih dulu memulainya."

"Oh ya, Haechan? Kau bilang semuanya ada alasan? Lalu apa alasanmu menggoda mate orang lain!"

Padahal akhir kalimatnya Jaemin berteriak. Haechan dan Renjun tentu terkejut mendengar itu, bukan hanya karena teriakan dari Jaemin, tetapi tuduhan yang Jaemin lontarkan kepada Haechan.

"Jaga ucapanmu, Jaemin!"

Emosi Haechan mulai tersulut mendengar tuduhan itu. Apa maksudnya? Sejak kapan Haechan menggoda mate orang lain?

Haechan adalah omega yang sangat sensitif terhadap feromon orang lain, ia tidak mempunyai banyak teman, tidak bisa berada di tempat yang terlalu ramai. Di tempat ini pun ia hanya dekat dengan beberapa orang termasuk Jaemin dan Renjun. Apa mungkin Haechan bisa menggoda mate orang lain saat ia sendiri pun membatasi interaksi dengan orang-orang? Haechan juga tidak pernah melakukan hal seperti itu.

"Tidak perlu pura-pura polos seperti itu, Haechan. Itu tidak akan bisa menutupi apapun. Bagaimana? Kau sudah dipakai berapa kali oleh Mark Hyung? Masih kurang ya sampai sampai kini kau mendekati Jeno. Kau murahan, Haechan!"

Plak!

Suara tamparan menggema di tengah sunyinya hutan pada malam hari itu. Bukan Haechan, tapi Renjun yang melakukannya. Tangannya gemetar setelah memberi tamparan kepada pipi Jaemin. Matanya memerah dengan air mata yang menggenang, terlalu emosi mendengar perkataan Jaemin yang sudah sangat berlebihan.

LUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang