22

7K 680 125
                                        

Haechan sudah pulih setelah beberapa hari ia harus berada di ruangan khusus dengan kondisi tubuh yang menurutnya tidak menyenangkan sama sekali. Bergantian Renjun dan Jaemin menemaninya, terkadang mereka tidur bertiga dalam satu kasus yang sempit. Renjun sampai harus terhimpit di tengah-tengah tubuh Haechan dan Jaemin yang lebih besar.

Luna Doyoung dan Taeyong pun bergantian datang memeriksa keadaannya dan mengajarkan banyak hal yang belum ia tahu sebelumnya. Terutama soal tubuhnya sendiri.

Haechan sebetulnya cukup terkejut mengetahui bagaimana tubuh mereka (pada werewolf) bekerja. Cukup rumit dan membingungkan.

Selama beberapa hari itu pula lah Haechan tidak melihat keberadaan Mark. Sebetulnya tidak heran, karena ia tengah berada di area terlarang bagi para alpha jadi tidak mungkin Mark kesana. Tapi setelah bertanya kepada Renjun dan Jaemin pun yang ia dapatkan justru godaan. Tapi keduanya mengatakan bahwa mereka juga tidak melihat keberadaan Mark sejak Haechan heat. Bahkan saat makan pun tidak.

Lantas, kenapa ia sangat peduli? Entahlah, Haechan sendiri pun tidak mengerti. Ia sudah berusaha tidak perduli, tapi pada akhirnya ia tetap mencari. Pikiran dan hatinya dibuat tidak sejalan, Mark mengacaukannya. Entah apa yang telah pemuda alpha itu perbuat kepada dirinya.

Saat ini pun Haechan tengah berperang dengan pikirannya sendiri. Seusai bekerja bukankah lebih baik untuknya segera kembali ke ruangan dan beristirahat? Tapi Haechan tidak melakukannya, ia justru sedari tadi berkeliling pack mencari keberadaan Mark yang tidak terlihat sama sekali batang hidungnya. Apakah ia menyerah saja, ya? Mark juga akan muncul dengan sendirinya nanti.

Tepat saat Haechan hendak berbalik dan pergi dari lokasinya berdiri, matanya menangkap siluet orang yang tengah ia cari. Mark memang memunggunginya, tapi Haechan tau dengan jelas bahwa itu adalah punggung Mark. Berkali-kali ia selalu berjalan di belakang pria itu tidak mungkin ia tidak mengenalnya.

Dengan semangat Haechan berjalan mendekat, senyuman bahkan terbit dari bibirnya. Ia berjalan dengan hati-hati karena Mark sepertinya sedang berbicara dengan seseorang, ia tidak ingin mengganggu, nanti saja ia menghampiri saat mereka sudah selesai.

"Terima kasih Kak sudah mengantarku jalan-jalan."

Oh, Haechan mengenal suara ini. Bagaimana bisa Haechan lupa bagaimana menyebalkannya gadis pemilik suara ini.

Mereka baru saja jalan-jalan? Pantas saja sejak tadi ia mencari Mark tidak ketemu. Kenapa Haechan jadi kesal begini ya?

"Tidak masalah, itu adalah kewajibanku. Orang tuamu menitipkan mu padaku selama berada di sini."

"Kak..."

"Kenapa?"

Winter, gadis itu, dia terdiam sejenak. Sepertinya ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh gadis itu. Wajahnya terlihat seperti jika gadis itu tengah gugup saat ini.

Haechan bahkan ikut merasakan kegugupan nya, ia juga sampai menahan nafas saking gugupnya.

"Aku menyukaimu, kak!"

Huh?

Pikiran Haechan seketika kosong mendengar pernyataan itu. Suara kicauan burung-burung yang ada di sekitar mereka berubah menjadi dengungan yang mengganggu di telinga, matanya terasa sangat panas seakan ada bara api yang membakarnya dari dalam.

Haechan tidak kuat jika harus berlama-lama di sana dan mendengar lebih lanjut percakapan mereka. Dengan tergesa Haechan berlari menjauh, ia bahkan tidak sadar sejak tadi ada tetesan air mata berjatuhan seiring dengan langkah yang diambilnya.

.

.

.

LUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang