31.

3.5K 331 72
                                        

Ini adalah malam terakhir bagi para siswa yang mengikuti pelatih untuk berada di pack. Besok akan ada upacara penutupan serta pembagian sertifikat yang telah dijanjikan bagi masing-masing peserta.

Rasanya tidak menyangka. Haechan yang awalnya datang dengan ogah ogahan justru merasa sangat sedih mengingat harus kembali ke rumah. Haechan yang selalu berpikir dirinya sial harus terpilih dalam pelatihan yang justru mempertemukannya dengan matenya sendiri. Ternyata dibalik sesuatu yang mungkin dirasa buruk tetap ada hal baik yang tersimpan.

Bahkan pelatihan ini juga mengajarkan Haechan tentang bersosialisasi. Ia yang tadinya tidak mempunyai teman kini memiliki beberapa teman dekat, mereka bahkan sudah bertukar nomor agar bisa tetap terhubung. Haechan benar-benar mendapatkan banyak sekali dari pelatihan ini. Benar-benar banyak.

Soal kembalinya Haechan ke kota itu sudah menjadi keputusannya dengan Mark. Mereka sudah mendiskusikan tentang hal itu. Mark meyakinkannya jika mereka bisa melalui apapun meski terpisah jarak dan Mark mendukung penuh tentang keputusan Haechan. Mark juga akan selalu mengusahakan agar mereka tetap bisa bertemu saat salah satu sedang memiliki waktu.

Di malam terakhirnya ini Haechan memutuskan untuk tidur di tempat Mark daripada di ruangannya sendiri. Berusaha menghabiskan waktu berduaan dengan Mark sebanyak yang ia bisa. Karena keduanya belum dapat memastikan kapan lagi mereka akan bertemu.

"Aahhh...."

Nada indah itu keluar dari bibir Haechan yang terbuka sembari menyesuaikan irama nafasnya yang mendadak menjadi tidak teratur.

Tubuh telanjangnya yang dipenuhi keringat meski angin malam terus menyapa mengejang menikmati hisapan Mark di bagian bawah tubuhnya.

Tangannya mencengkram rambut Mark kuat kuat, mendorong kepala itu agar lebih dalam menghisap miliknya.

Ketika dirasa putihnya hampir tiba, Haechan mencoba menjauhkan Mark dari dirinya meski pria itu agak keras kepala. Alhasil putihnya juga mendarat mulus di kepala Mark bahkan mengenai mata.

"Oh? Mark, maaf... Jangan dijilat!"

Buru buru Haechan berusaha menggapai wajah prianya yang kini menjulurkan lidahnya berusaha menggapai sisa putih Haechan yang ada di wajahnya. Dengan lembut ia membersihkan putih itu dari sana.

"Lain kali jangan seperti itu. Jangan ditelan pokoknya!"

"Kenapa? Aku suka."

"Mark!"

Mark hanya terkekeh melihat wajah kesal Haechan. Ia mendorong lembut kekasihnya itu agar kembali berbaring di tempat semula. Haechan sudah mendapatkan kesenangannya, sekarang giliran dirinya.

Tangannya yang panjang mencoba meraih bungkus kondom yang sedari tadi tergeletak di bawah ranjang kasurnya. Mereka akan melewati malam yang sangat panjang dan Mark tidak ingin melakukan kesalahan. Ia akan memastikan Haechan aman dan tidak akan membuat mimpi Haechan tertunda.

Bungkusan kondom itu dibuka dengan mudah menggunakan giginya. Ia lalu membuat sisanya ke sembarang arah. Memakaikan bungkusan tipis elastis itu pada miliknya yang setengah ereksi.

Jarinya meraba lubang Haechan yang sudah benar-benar basah, mengamati segala ekspresi Haechan yang terlihat begitu menikmati permainan jarinya. Dua jari panjang menerobos masuk, Haechan dibuat sangat kacau, miliknya kembali ikut menegang.

Semua ekspresi itu terekam di kepala Mark membuat miliknya pun tak kalah keras dari milik Haechan. Sudah sangat siap membuat Haechan meneriakkan namanya semalaman.

Ketika Haechan sudah hampir mendapat putihnya yang kedua, Mark menarik semua jarinya menjauhi Haechan. Dengan nafas terengah-engah Haechan memandangi wajah Mark dengan ekspresi bertanya-tanya serta sedikit rasa kesal.

"No, sayangku, tidak semudah itu. Aku tidak mau kau merasakan nikmat hanya dengan jariku saja, Haechan."

Seiring dengan kalimat itu, Mark mempersiapkan miliknya di hadapan lubang hangat Haechan.

"Tarik nafas sayang, jangan tegang atau kau malah akan kesakitan."

Melihat Haechan yang tegang membuat Mark merasa perlu untuk menenangkannya.

Haechan selalu merasa sedikit ketakutan saat mengetahui Mark akan memasukkan miliknya ke dalam Haechan. Karena meskipun Mark sudah mempersiapkannya dengan baik, Haechan akan tetap merasa sedikit kesakitan. Salahkan milik Mark yang terlalu besar.

Ia pun selalu heran mengingat bagaimana bisa ia tetap hidup ketika benda sebesar itu membelah dirinya hidup hidup.

"Mark hyung... Saki- ahh..."

Mark mengerang begitu miliknya masuk sepenuhnya ke dalam Haechan. Ia juga bisa merasakan kuku kuku Haechan menancap mencakar punggungnya.

Ia tidak langsung bergerak, ia menurunkan kepalanya membawa Haechan ke dalam ciuman panas yang memenangkan. Ia membiarkan Haechan terbiasa, mencoba membuat anak itu kembali tenang dengan ciumannya.

"Hyung boleh bergerak..."

"As you wish, sayang..."

Mark bergerak perlahan pada awalnya mencoba untuk membuat Haechan tetap nyaman dengan gerakannya.

Begitu titik ternikmatnya disentuh, tubuh Haechan melengkung indah, jari jarinya meremas tangan Mark yang melingkari pinggang ramping nya. Matanya berkunang kunang penuh rasa nikmat.

Mark menggeram karena kenikmatan yang Haechan rasakan juga bisa dirasakan olehnya. Kepalanya otomatis bergerak menghampiri leher Haechan mencari aroma kesukaannya.

Malam itu mereka bercinta seolah-olah esok lusa mereka tidak akan bertemu kembali.

.

.

.

.

.

.

.

.

Haechan melamun sembari menatap selembar kertas yang baru saja pagi tadi ia dapat. Kertas yang menurut banyak orang sangat penting, sangat luar biasa. Tapi bagi Haechan itu hanya selembar kertas biasa.

Ia sudah kembali ke kamar miliknya sendiri. Tidak ada Renjun maupun Jaemin. Ranjangnya empuk, bukan dari kayu seperti yang beberapa waktu lalu ia tempati. Semua barang barangnya lengkap seperti sebelum ia tinggalkan, keadaannya pun bersih.

Tapi ia merasa sepi. Tidak ada ocehan Renjun atau tatapan sinis dari Jaemin. Tidak ada obrolan sebelum tidur seperti yang biasa mereka lakukan.

Di tempat ini tidak ada Mark. Rumah tempat ia dibesarkan entah kenapa menjadi tempat yang terasa asing baginya. Padahal di tempat yang sama ia semula bersikeras tidak ingin pergi, kini ia malah meratap dirundung sepi.

Mark sedang apa saat ini? Apa pria itu sudah makan? Harusnya sudah, ini sudah lewat dari jam makan malam. Pasti Mark sudah makan.

Apa pria itu merindukannya? Karena Haechan rindu matenya itu. Belum ada satu hari mereka berpisah rasanya sudah sangat sesak. Bagaimana bisa ia selamat menjalani hubungan jarak jauh dengan Mark selama ia menjalani pendidikan. Apakah ia bisa? Apa Mark benar-benar bisa?

Ia memiliki nomor teman-temannya, tapi bagaimana cara menghubungi Mark? Di hutan sana tidak ada alat untuk berkomunikasi. Bagaimana ia bisa tahu kapan Mark akan datang untuk menemuinya? Bagaimana Haechan bisa tahu kalau matenya itu baik baik saja di sana?

Ini membuatnya gila. Semua hal membuatnya pusing, ia pusing memikirkan hal ini.

Lebih baik ia istirahat. Badannya masih terasa lelah akibat perbuatannya dengan Mark semalam.













***

Ini gimana iniiii kok pada gak mau dadah??

Jadinya dadah apa engga??

LUNATempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang